Peran Tumpang Sari dalam Meningkatkan Kualitas Kakao di Lampung Timur
Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (Apik) Lampung Timur, Japung Larasus menilai bahwa komoditas kakao yang ditanam dengan sistem tumpang sari memiliki potensi besar untuk menghasilkan kakao berkualitas. Menurutnya, penggunaan metode penanaman tumpang sari seluas 1 hektare (Ha) mampu menghasilkan produksi sebesar 3 Ha.
“Potensi kakao di Kabupaten Lampung Timur sangat besar dan menjanjikan,” ujar Japung saat berbicara Rabu (4/2/2026). Ia menegaskan bahwa jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan, kakao bisa menjadi penopang perekonomian petani yang berlapis.
Tanaman kakao tidak hanya sekadar komoditas perkebunan, tetapi juga sistem pertanian yang mampu memberikan kesejahteraan bagi petani dari berbagai aspek. Salah satu keunggulan utama kakao adalah kemampuannya untuk ditanam secara tumpang sari. Selain kakao, petani juga menanam talas atau umbi-umbian pada bagian tengah dan atas, serta komoditas kelapa atau alpukat.
Pada periode 2010 hingga 2012, kakao di Lampung Timur sempat mengalami penurunan akibat serangan hama busuk buah. Hal ini memaksa para petani untuk menebang tanaman dan beralih ke komoditas lainnya. Namun, pada tahun 2025, kakao mulai bangkit kembali berkat kehadiran offtaker dan pendampingan intensif dari Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah.
Peran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam turut serta dalam proses pemulihan ini. Perusahaan-perusahaan tersebut membawa klon baru yang lebih tahan terhadap hama, sekaligus mendampingi petani dari Pemkab Lampung Timur. Adanya dukungan kolaborasi dengan sejumlah NGO yang aktif dalam mendampingi petani dari sisi budidaya hingga pasca panen juga menjadi faktor penting.
Salah satu tantangan yang dihadapi petani adalah masalah keamanan di kebun. Kondisi tersebut membuat para petani sering kali memanen kakao sebelum matang sempurna. “Permasalahan utama kita adalah keamanan. Para petani sering tidak berani memetik tua karena takut keduluan orang. Hingga akhirnya dijual basah, kualitasnya rendah, dan harganya murah,” jelas Japung.
Saat ini, harga kakao di tingkat petani Lampung Timur berkisar antara Rp 10 Ribu hingga Rp 15 Ribu per kilogram untuk kakao basah. Untuk meningkatkan kualitas, pihaknya sedang merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung guna mengembangkan kakao premium. Program ini mencakup pendampingan teknis, penyediaan alat fermentasi, hingga penggunaan solar dryer untuk pengeringan.
Fokus utama pihaknya adalah pada hulu dan pasca panen. Jika program ini berjalan baik, target jangka menengah adalah memproduksi cokelat sendiri dari Lampung Timur.
Selain itu, kunci keberhasilan pengembangan kakao ke depan juga terletak pada penguatan kelembagaan petani. Petani yang berkelompok akan lebih mudah berkembang, belajar bersama, dan menjaga keamanan kebun secara kolektif. Dengan bergabung dalam kelompok, petani dapat saling mendukung dari segi budidaya hingga ronda kebun.
Semua upaya ini sedang didorong agar kakao Lampung Timur benar-benar bangkit dan memberi kesejahteraan bagi petani. Dengan kombinasi pendekatan modern dan kolaborasi yang kuat, masa depan kakao di daerah ini tampak cerah.







