Pengenalan Camalus, Insektisida Generasi Baru untuk Petani Hortikultura di Indonesia
Bayer Indonesia meluncurkan Camalus, insektisida terbaru yang dirancang khusus untuk petani hortikultura di Indonesia. Peluncuran produk ini dilakukan di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Senin (6/7/2026). Ini menjadi langkah penting dalam mendukung sektor pertanian yang semakin berkembang dan menghadapi tantangan hama yang kompleks.
Indonesia menjadi negara ketiga secara global yang memperkenalkan Camalus setelah India dan Filipina. Produk ini merupakan insektisida pertama yang mampu mengendalikan hama pemakan daun (chewing) dan penusuk-pengisap (sucking) sekaligus pada tanaman hortikultura. Dengan penggunaan Camalus, petani disebut dapat meningkatkan produktivitas lahan serta menekan biaya produksi karena tidak perlu mencampur berbagai jenis insektisida.
Hortikultura menjadi subsektor pertanian prioritas nasional dengan pertumbuhan 3,85 persen pada triwulan IV 2025 secara tahunan (year on year). Pemerintah juga mendorong hilirisasi sektor ini melalui peningkatan ekspor hortikultura yang tercatat naik 49 persen pada semester I 2025. Produksi cabai besar pada 2025 mencapai 1,72 juta ton atau meningkat 16,73 persen dibandingkan 2024. Sementara konsumsi cabai besar sektor rumah tangga mencapai 641,93 ribu ton atau naik 6,91 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Provinsi dengan produksi cabai besar terbesar adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Sumatera Utara berkontribusi sebesar 12,53 persen terhadap produksi nasional dengan total produksi mencapai 214,87 ribu ton dan luas panen 16,37 ribu hektare. Meski demikian, ancaman hama seperti ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, dan thrips masih menjadi tantangan utama bagi petani hortikultura.
Salah satu hama yang sering menyerang adalah ulat daun kubis (Plutella xylostella), yang dapat menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 50 sampai 100 persen apabila tidak dikendalikan. Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo, menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi petani semakin kompleks karena hama pengunyah dan penghisap umumnya menyerang secara bersamaan.
“Petani biasanya mencampur dua jenis insektisida berbeda dalam satu siklus tanam untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya. Camalus dari Bayer disebut sebagai solusi yang menjawab kesenjangan kebutuhan petani dalam budidaya tanaman hortikultura.
Keunggulan Camalus dalam Mengendalikan Hama
Camlus memiliki dua bahan aktif, yakni Tetraniliprole dan Spirotetramat, dalam satu formulasi dengan mekanisme kerja ganda (dual mode of action). Insektisida ini mampu bergerak dua arah di dalam jaringan tanaman (akropetal dan basipetal), sehingga memberikan perlindungan menyeluruh pada daun, batang, buah hingga tunas baru. Dilengkapi sistem perekat, Camalus juga diklaim memiliki durasi pengendalian hama lebih lama bahkan setelah hujan.
Produk ini kompatibel dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) karena efektif pada dosis rendah dan selektif terhadap hama sasaran, sehingga minim berdampak pada predator maupun parasitoid alami. Camalus dapat digunakan untuk melindungi tanaman dari serangan hama pengunyah seperti ulat bor buah, ulat daun atau diamond back moth, ulat grayak, ulat krop kubis, penggorok daun dan lalat buah, serta hama penusuk-pengisap seperti kutu kebul, thrips, dan kutu daun.
Peluncuran dan Distribusi Camalus
Peluncuran Camalus di Kabupaten Simalungun turut dihadiri oleh beberapa pejabat dari Bayer, termasuk Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan Kukuh Ambar Waluyo, Commercial Unit Lead West Bayer Crop Science Indonesia Krisna Dwi Laksono, Brand Portfolio Manager Indonesia & Malaysia Samuel Ady Mahendra, serta sekitar 350 petani setempat. Pada kesempatan tersebut, para petani juga melihat langsung efektivitas Camalus melalui lahan demplot tanaman cabai, tomat, dan kubis.
Tanaman cabai yang telah diaplikasikan Camalus ditunjukkan dalam kondisi sehat, segar, dan mengilap. Sumatera Utara sendiri merupakan penghasil cabai besar terbesar ketiga di Indonesia dengan kontribusi 12,53 persen pada 2025.
Commercial Unit Lead West Bayer Crop Science Indonesia, Krisna Dwi Laksono, menjelaskan bahwa Bayer berupaya memastikan teknologi pertanian dapat diakses lebih luas oleh petani. “Tak berhenti pada komitmen berinovasi, ketersediaan dan kemudahan akses terhadap teknologi pertanian juga menjadi prioritas Bayer,” katanya.
Rencana Distribusi dan Edukasi
Sepanjang 2026, Bayer akan memperluas distribusi Camalus ke 13 provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali. Camalus saat ini tersedia dalam kemasan co-pack berukuran 100 ml dan akan dipasarkan secara bertahap melalui jaringan kios tani, termasuk Better Life Farming Center (BLFC).
Edukasi mengenai dosis anjuran dan protokol aplikasi yang aman dapat diperoleh melalui tim agronomis Bayer di lapangan maupun media sosial Bayer CS Petani di Facebook dan Instagram.







