Stabilitas Harga Beras di Indonesia
Pemerintah terus memastikan bahwa harga beras nasional tetap terkendali dan menjaga fluktuasinya agar tidak mengganggu keseimbangan antara kesejahteraan petani dan daya beli masyarakat. Hal ini menjadi penting untuk memastikan bahwa kebutuhan pokok rakyat tetap terpenuhi dengan harga yang wajar.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras secara tahunan pada April 2026 mencapai 4,36 persen. Namun, jika dibandingkan dengan komoditas lain dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau, beras hanya berada di urutan ke-28 dari 40 komoditas penyumbang inflasi. Sementara itu, kol putih atau kubis mencatat inflasi tertinggi sebesar 25,47 persen, disusul ikan dencis sebesar 17,09 persen.
Meski andil beras terhadap inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat sebesar 0,60 persen dan menjadi yang tertinggi kedua, angka tersebut dinilai masih relatif kecil dibandingkan total inflasi kelompok tersebut yang mencapai 3,06 persen. Adapun kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil 0,90 persen terhadap inflasi umum tahunan sebesar 2,42 persen.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa inflasi pangan bulanan saat ini menunjukkan deflasi. Ia menegaskan bahwa pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen. Perlindungan terhadap petani dilakukan melalui kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sementara konsumen dijaga lewat penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kita harus menjaga keseimbangan, menjaga petani kita yang kurang lebih 115 juta orang. Ada juga konsumen kita jaga, dua-duanya kita jaga. Kita harus bela dua-duanya. Ada harga petani, HPP Harga Pembelian Pemerintah. Kemudian ada Harga Eceran Tertinggi (HET),” ujar Amran.
Ia menjelaskan bahwa keseimbangan ini sangat penting karena jika HET diturunkan, maka akan berdampak pada produksi petani. Petani tidak serakah, mereka hanya membutuhkan sedikit ruang untuk untung agar bisa berproduksi. Pemerintah juga memberikan subsidi pupuk untuk membantu petani.
Kondisi Produksi Beras Nasional
Pemerintah juga menyoroti kondisi produksi beras nasional yang dinilai surplus pada 2026. Selain itu, harga pupuk disebut lebih terkendali dibanding sejumlah negara lain yang mengalami kelangkaan.
“Beras kita sudah cukup. Beras kita surplus. Harga pupuk kita turun. Negara lain kekurangan pupuk sampai tidak bisa tanam. Petaninya ribut. Kita bersyukur,” kata Amran.
Untuk diketahui, inflasi beras secara tahunan berada di 4,36 persen, namun inflasi beras secara bulanan masih cukup positif di 0,58 persen di April ini. Indeks harga diterima petani padi menorehkan 145,37 dan menjadi yang tertinggi pada tahun 2026 ini.
Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Tanaman Pangan dilaporkan BPS meningkat menjadi 112,29 di April. Kenaikan NTP Tanaman Pangan sebagian besar disumbang oleh kelompok penyusun yang merupakan kelompok petani tanaman padi. NTP Tanaman Pangan berhasil dijaga pemerintah selalu lebih dari indeks 100 sejak tahun 2022.
Penanganan Fluktuasi Harga Beras
Di hilir, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa melakukan gerak cepat dengan langsung turun ke pasar. Fluktuasi harga beras dinilainya masih wajar dan pemerintah bersama Perum Bulog akan mengoptimalkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah tembus rekor lebih dari 5 juta ton.
“Harga beras stabil. Sebenarnya harga beras relatif masih terkendali. Kalau kita melihat dari sisi inflasi sebenarnya sangat kecil. Kemudian beras itu kan relatif di pasar, kadang-kadang naik dan fluktuatif,” terang Ketut.
Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu kelima April, disebutkan masih terdapat 116 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH beras. Sementara analisis Bapanas menguak 57 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH beras dan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium.
Dalam pantauan harga oleh Bapanas, per 5 Mei, rerata harga beras medium berada dalam rentang HET dan tercatat masih ada penurunan terhadap setahun yang lalu.
Realisasi Program SPHP Beras
Dalam mengakselerasi realisasi penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras, pemerintah punya instrumen yang kuat dengan stok CBP yang sangat kokoh. Per 6 Mei, total stok beras yang dikelola Bulog mencapai 5,23 juta ton dengan realisasi pengadaan setara beras produksi dalam negeri di angka 2,61 juta ton.
Adapun realisasi penjualan beras program SPHP sejak awal Januari sampai 5 Mei telah mencapai total 409,5 ribu ton. Ini terdiri dari realisasi Januari-Februari dengan 221 ribu ton yang merupakan perpanjangan program SPHP beras tahun 2025. Sementara Maret sampai 5 Mei totalnya 188,5 ribu ton yang merupakan SPHP beras tahun 2026.







