Program Budidaya Lele Sangkuriang sebagai Solusi Kemandirian Ekonomi di Hutan Desa Teluk Bakung
Program budidaya Lele Sangkuriang yang dilaksanakan oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Silvofishery Jahanang Mandiri menjadi salah satu inisiatif penting dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan Hutan Desa Teluk Bakung. Proyek ini merupakan bagian dari Delta Kapuas Project yang diinisiasi oleh SAMPAN Kalimantan bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan PT Belantara Sejahtera Mandiri.
Sebagai langkah awal pengembangan usaha, sebanyak 2.000 ekor benih Lele Sangkuriang ditebar di kolam terpal dan kolam tanah yang berada di Dusun Gunung Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, pada Senin 25 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi titik awal pembentukan sumber ekonomi baru berbasis perikanan budidaya bagi masyarakat sekitar kawasan Hutan Desa.
Program budidaya tidak hanya difokuskan untuk menghasilkan ikan konsumsi, tetapi juga diarahkan menjadi sarana pembelajaran masyarakat dalam mengembangkan usaha produktif yang tetap selaras dengan upaya pelestarian hutan. Melalui kegiatan ini, warga didorong memiliki alternatif mata pencaharian yang lebih berkelanjutan tanpa memberikan tekanan terhadap kawasan hutan.
Manajer Usaha SAMPAN Kalimantan, Sigit Budimartono menjelaskan bahwa budidaya Lele Sangkuriang yang dijalankan KUPS Silvofishery Jahanang Mandiri merupakan bagian dari program Community Development yang telah melalui beberapa tahap pelatihan sebelumnya.
“Hari ini kita melakukan tebar benih perdana di kolam terpal dan kolam tanah sebanyak 2.000 ekor. Ini menjadi tahap praktik dari hasil beberapa kali pelatihan yang telah diberikan kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Jahanang Mandiri,” ujarnya.
Menurut Sigit, program tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjadi solusi alternatif dalam mengurangi aktivitas masyarakat yang berpotensi menyebabkan perambahan kawasan hutan. Ia menambahkan, keberhasilan program budidaya ini akan terus didukung melalui pendampingan produksi hingga pengembangan pasar. Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut mendapat dukungan pendanaan dari PT Belantara Sejahtera Mandiri serta pendampingan teknis dari Dinas Perikanan Kabupaten Kubu Raya agar budidaya dapat berjalan sesuai standar.
Tak hanya fokus pada produksi, pihak pendamping juga mulai membuka akses pemasaran hasil budidaya. Sejumlah calon pembeli telah dijajaki, mulai dari pekerja perkebunan sawit, masyarakat sekitar, supplier ikan konsumsi, hingga pelaku usaha pecel lele Lamongan.
“Kami juga membantu kelompok membuka akses pasar agar hasil budidaya nantinya memiliki kepastian penjualan dan memberi keuntungan ekonomi bagi masyarakat,” jelas Sigit.
Potensi Lokal Kawasan Hutan Desa
Analis Akuakultur Ahli Muda Dinas Perikanan Kabupaten Kubu Raya, Mugianto menilai program budidaya Lele Sangkuriang tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sektor usaha unggulan masyarakat Desa Teluk Bakung.
Menurutnya, keberhasilan budidaya ikan tidak hanya ditentukan oleh penebaran benih, tetapi juga pemahaman masyarakat terhadap teknik budidaya yang baik dan benar. Karena itu, pihaknya membuka peluang pelatihan lanjutan guna meningkatkan kapasitas para pembudidaya.
“Kami akan membuka peluang peningkatan kapasitas melalui pelatihan budidaya ikan agar masyarakat memahami teknik pembesaran Lele Sangkuriang secara optimal,” katanya.
Ia juga melihat peluang pengembangan usaha yang lebih luas, termasuk sektor pembenihan Lele Sangkuriang. Dengan adanya kemampuan memproduksi benih sendiri, masyarakat nantinya tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Ke depan masyarakat diharapkan bisa mengembangkan usaha mulai dari pembenihan hingga pembesaran ikan sehingga terbentuk rantai usaha perikanan yang lebih mandiri,” tambahnya.
Keterlibatan Masyarakat dan Perempuan
Ketua LPHD Teluk Bakung, Natasius menyambut baik program pendampingan yang dijalankan bersama masyarakat. Menurutnya, kegiatan Silvofishery menjadi peluang besar untuk membangun usaha produktif berbasis potensi lokal kawasan Hutan Desa.
Saat ini, KUPS Silvofishery Jahanang Mandiri telah menyiapkan sekitar 30 kolam budidaya yang akan digunakan sebagai tempat pengembangan usaha sekaligus sarana belajar bagi anggota kelompok. Program tersebut melibatkan sedikitnya 16 warga yang tinggal di sekitar kawasan Hutan Desa Teluk Bakung.
Natasius berharap, apabila program uji coba ini berhasil, para anggota kelompok nantinya dapat menularkan ilmu dan pengalaman budidaya kepada masyarakat lainnya.
“Harapan kami, masyarakat yang terlibat saat ini nantinya dapat membagikan pengetahuan budidaya kepada warga lain sehingga manfaat program bisa dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Menariknya, keterlibatan perempuan juga menjadi bagian penting dalam program ini. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut dilibatkan dalam pengelolaan usaha bersama sehingga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi keluarga di sekitar kawasan Hutan Desa.
Melalui pengembangan budidaya Lele Sangkuriang, masyarakat Teluk Bakung kini mulai membangun fondasi ekonomi baru yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan warga, memperkuat keterampilan masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian kawasan Hutan Desa secara berkelanjutan.







