Nilai tukar rupiah terus berada di kisaran 17.000 per dolar Amerika Serikat sepanjang pekan ini. Menurut pendapat Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga barang-barang impor dan mempercepat inflasi secara bertahap.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, rupiah melemah ke level 17.104 per dolar AS atau turun 0,08 persen dibanding hari sebelumnya. Syafruddin mengatakan bahwa jika rupiah tetap berada di kisaran 17 ribu per dolar AS dalam jangka panjang, masyarakat akan merasakan tekanan langsung pada biaya hidup.
Dampak pertama dari pelemahan rupiah terasa pada kenaikan harga pangan impor, bahan baku makanan, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, pakan ternak, dan barang kebutuhan rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh keterkaitan langsung dengan rantai pasok global.
Tekanan tersebut semakin kuat karena harga energi dunia masih tinggi. Di pasar yang sama, harga minyak Brent mencapai US$ 96,48 per barel dan WTI di US$ 98,72 per barel. Kenaikan biaya energi biasanya cepat merambat ke ongkos transportasi dan distribusi, sehingga memengaruhi harga barang di pasar tradisional maupun ritel modern.
Syafruddin menekankan bahwa rumah tangga miskin dan kelas menengah akan menjadi yang paling terdampak karena porsi belanja mereka terkonsentrasi pada makanan, transportasi, dan kebutuhan rutin.
Jika rupiah tetap stabil di level 17 ribu per dolar AS, kenaikan harga barang tidak akan terjadi secara serentak, melainkan secara bertahap. Laju inflasi bergantung pada struktur biaya masing-masing sektor, namun sinyal pasar menunjukkan bahwa tekanan ini tidak akan hilang dengan cepat.
Salah satu indikatornya adalah USD/IDR spot yang berada di 17.085, lalu 1-month forward di 17.100 dan 3-month forward di 17.128. Struktur ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih melihat rupiah lemah dalam beberapa bulan ke depan.
Situasi global juga masih sulit. Di Amerika Serikat, inflasi masih tinggi, sehingga suku bunga negara tersebut belum akan turun dalam waktu dekat. Dengan demikian, dolar berpotensi tetap kuat dan terus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pengusaha juga menghadapi tekanan karena kenaikan biaya produksi akibat bahan baku impor yang mahal di tengah kenaikan dolar. Dalam kondisi seperti itu, produsen besar mungkin menahan sebagian kenaikan harga untuk menjaga penjualan, terutama saat daya beli rumah tangga rapuh. Namun, kemampuan menahan harga sangat terbatas jika bahan baku impor, energi, dan biaya pembiayaan tetap tinggi.
Pabrik-pabrik kemungkinan tidak akan langsung membebankan kenaikan ongkos produksi ke konsumen, tetapi akan menaikkannya secara bertahap. Produsen akan menyerap sebagian biaya di awal, lalu menaikkan harga secara selektif ketika depresiasi kurs berlangsung lebih lama dan stok lama mulai habis. Masyarakat tetap akan merasakan inflasi, terutama pada pangan olahan, obat, transportasi, dan barang konsumsi tahan lama.
Penjelasan Syafruddin sejalan dengan pernyataan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani. Di tengah penguatan dolar AS yang menekan biaya produksi, produsen dengan margin keuntungan besar masih bisa menahan untuk menaikkan harga di tingkat konsumen.
Namun, kebanyakan justru tidak memiliki margin tebal dan perlu melakukan penyesuaian terhadap standar produknya. Penyesuaian dilakukan dengan mengurangi kelengkapan produk atau mengurangi ukuran. Tujuannya untuk menekan atau merasionalisasi production cost tanpa menaikkan harga pasar terlalu tinggi. Jika semua opsi di atas tidak memungkinkan, perusahaan harus menaikkan harga jual pasar dengan risiko penurunan kinerja penjualan atau perubahan daya serap pasar.







