Ratusan Mitra Dapur MBG Turun ke Jalan, Demo di Gedung Grahadi
Pada Rabu (8/7/2026) pagi, ratusan mitra pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Surabaya Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap kelangsungan program MBG yang saat ini sedang dipertanyakan.
Para peserta demo berasal dari DPD Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD-Gemas) Kota Surabaya. Mereka menggelar “Parade Nasional Gerakan Pendukung” dengan konsep yang dirancang untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap program nasional tersebut. Pihak panitia mengimbau setiap yayasan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengirimkan relawannya dengan membawa bekal makanan sendiri. Jalannya aksi akan dikomandoi oleh tiga koordinator lapangan (korlap) yang telah ditunjuk resmi oleh organisasi.
Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran para pemilik dapur atau SPPG terhadap keberlangsungan dan tata kelola program MBG. Sebagai pihak yang memproduksi dan mendistribusikan makanan, mereka merasa sangat terdampak oleh regulasi terbaru pemerintah. Ketua DPD HMD-Gemas Kota Surabaya, Bagiyon, menyatakan bahwa mereka mendukung MBG tetapi menyayangkan adanya kebijakan penghentian operasional sementara yang dinilai merugikan ekosistem dapur piringan emas tersebut.
133 Dapur SPPG Kelimpungan Akibat Insentif Dihentikan
Saat ini, tercatat ada total 133 SPPG yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya untuk menyuplai kebutuhan pangan bergizi di tiap-tiap sekolah. Kondisi ini berubah drastis ketika masa liburan sekolah tiba, sehingga aktivitas produksi mereka dipaksa berhenti total. Hal ini tidak hanya mematikan aktivitas ekonomi pemilik SPPG, tetapi juga memutus mata rantai pasokan bahan baku dari para supplier lokal.
Bagiyon menjelaskan bahwa para mitra kini dalam kondisi lumpuh atau “step”. Padahal, sebagai pelaku usaha, mereka sangat bergantung pada insentif harian sebesar Rp 6 juta per hari yang biasa dikucurkan pemerintah untuk memutar roda operasional dan menggaji karyawan serta relawan. “Saat dihentikan, semua kelimpungan. Supplier mandeg,” tambahnya menceritakan dampak nyata di lapangan.
Tuntutan Utama: Cabut SE 12/2026 dan Transparansi Tata Kelola
Dalam aksi yang bertajuk “Aksi Damai Serentak Nasional Dukung MBG” ini, HMD-Gemas Surabaya membawa sejumlah poin tuntutan krusial. Tuntutan utama mereka adalah mendesak pemerintah segera mencabut Surat Edaran (SE) Kepala BGN Nomor 12/2026. SE 12/2026 yang diterbitkan pada 17 Juni 2026 tersebut merupakan aturan yang melandasi penyetopan sementara penyaluran makanan MBG serta pembekuan insentif harian Rp 6 juta bagi SPPG selama periode libur sekolah dan libur nasional.
Selain menolak SE tersebut, para pengelola dapur mendesak pemerintah agar tidak mengorbankan nasib relawan dan pekerja dapur. Mereka menuntut adanya kepastian hukum jangka panjang, keterlibatan aktif mitra sebagai pelaksana utama program, serta sistem tata kelola anggaran yang jauh lebih transparan.

Ketua BGN Nanik S Deyang Menghilang di KPK
Pada Selasa (7/7/2026), Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang tiba-tiba “menghilang” setelah menghadiri pertemuan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Nanik tiba di Gedung KPK bersama Wakil Ketua BGN Agustina Arumsari dan Mayjen (Purn) TNI Trenggono pada pukul 10.34 WIB. Rombongan pimpinan BGN ini menumpangi dua mobil hitam dan kompak mengenakan kemeja putih berlengan panjang.
Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Aminudin langsung menyambut kedatangan mereka dan mengajak ketiganya berjalan menuju lift. Awak media yang berjaga di lokasi sempat menanyakan tujuan kehadiran para petinggi BGN tersebut ke KPK. Nanik merespons singkat bahwa mereka datang untuk menjalin kolaborasi antarlembaga. “Kerja sama,” kata Nanik.

Pimpinan BGN memang menjadwalkan audiensi khusus dengan pimpinan KPK dan Deputi Pencegahan KPK pada hari tersebut. Mereka membahas sinergi pengawasan dan pencegahan korupsi di lingkungan BGN. Pertemuan antara KPK dan BGN akhirnya selesai pada pukul 12.44 WIB. Namun, awak media menyoroti sebuah kejadian menarik ketika sesi tanya jawab berlangsung. Pihak BGN yang awalnya datang bertiga tidak kembali turun secara utuh. Hanya Wakil Ketua BGN Agustina Arumsari yang tampil mendampingi Aminudin menemui para wartawan. Nanik S Deyang dan Trenggono sama-sama tidak menampakkan diri lagi ke hadapan publik.






