Tradisi Berjualan Bendera Merah Putih di Kota Toboali
Setiap tahun, seorang pedagang bernama Bagus (25) dari Bandung, Jawa Barat, kembali ke Kota Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia memilih lokasi ini selama empat tahun berturut-turut untuk berjualan bendera merah putih dan pernak-pernik Hari Kemerdekaan. Tahun ini, ia tiba pada 21 Juli 2026, mengikuti momentum peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Meski penjualan belum seheboh yang diharapkan, ia tetap menjalani tradisi tahunan ini karena optimis permintaan akan meningkat menjelang 17 Agustus.
Bagus mengenakan topi, kaos perpaduan warna krem dan abu-abu, serta celana pendek. Ia mulai menata lapak sederhana di kawasan Kolong Bakung, Toboali, Senin (3/8/2026) pagi. Di bawah terik matahari yang semakin tinggi, ia menyusuri bahu jalan sambil membawa gulungan bendera merah putih dan berbagai pernak-pernik yang akan dipajang. Satu per satu dagangannya disiapkan, aktivitas ini telah empat tahun rutin ia jalani setiap menjelang Hari Kemerdekaan.
Memanfaatkan jarak antara dua tiang listrik di tepi jalan, Bagus mengikat seutas tali sebagai tempat menggantung bendera berbagai ukuran. Deretan merah putih perlahan membentang dan berkibar tertiup angin, sesekali membuat beberapa bendera dan umbul-umbul tergulung hingga harus dirapikan kembali. Tangannya tak berhenti menyusun setiap lembar kain agar seluruh dagangan terlihat rapi dan mudah menarik perhatian pengguna jalan.
Setelah semuanya tertata, Bagus melangkah menuju tempat berteduh di sisi lapak. Ia kembali membuka bungkusan plastik berisi stok dagangan yang belum dipajang, lalu menyusunnya agar mudah diambil saat ada pembeli datang. Sesekali pandangannya mengarah ke jalan raya, memperhatikan kendaraan yang melintas berhenti di depan lapaknya.
Selama sekitar sepuluh menit, hanya dua orang pembeli yang terlihat singgah untuk membeli beberapa perlengkapan guna memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Meski pengunjung masih sepi, Bagus tetap menyambut setiap pembeli dengan senyum, menggantungkan harapan bahwa suasana akan semakin ramai seiring mendekatnya tanggal 17 Agustus.
Pengalaman Berjualan di Kepulauan Bangka Belitung
Bagus mengatakan berjualan di Kepulauan Bangka Belitung telah menjadi agenda rutin yang dijalankannya setiap tahun. Bersama tiga rekannya, ia datang menggunakan pesawat dari Jawa Barat dan membagi lokasi berjualan di Toboali, Kota Pangkalpinang, serta Kabupaten Bangka Tengah. Dirinya sengaja kembali ke Toboali karena sudah mengenal karakter pasar dan memiliki pelanggan tetap.
“Ini sudah tahun keempat saya datang ke Toboali untuk berjualan dan memang sudah menjadi agenda tahunan kami,” kata Bagus.
Bagus mengungkapkan dirinya bersama rekan-rekannya sengaja memilih Kepulauan Bangka Belitung sebagai tujuan berjualan karena menilai pangsa pasar di daerah ini masih cukup menjanjikan. Menurutnya, roda perekonomian di Bangka Belitung masih bergerak sehingga peluang penjualan lebih baik dibandingkan di daerah asalnya di Jawa Barat. Pertimbangan itu membuat rombongannya tetap kembali setiap tahun.
Ia mengaku hingga awal Agustus penjualan masih tergolong sepi dan baru puluhan lembar bendera yang berhasil terjual. Bagus menilai kondisi tersebut belum berbeda dengan tahun lalu yang juga mengalami perlambatan penjualan pada awal musim Agustusan. Meski demikian, ia tetap optimis pembeli akan mulai berdatangan dalam dua pekan menjelang Hari Kemerdekaan.
Karena biasanya penjualan mulai ramai dari tanggal 1 sampai 17 Agustus karena masyarakat mulai memasang bendera. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku membuat harga jual bendera tahun ini ikut mengalami penyesuaian. Seluruh jenis bendera mengalami kenaikan sekitar Rp5.000 per lembar dibandingkan tahun sebelumnya. Bendera merah putih ukuran 120 sentimeter, misalnya, kini dijual Rp35.000, sedangkan pada tahun lalu masih Rp30.000 per lembar.
Berbagai Produk yang Dijual
Selain bendera merah putih, Bagus juga menjual berbagai pernak-pernik kemerdekaan dengan harga yang beragam. Produk yang ditawarkan dijual mulai Rp10.000 hingga Rp400.000 tergantung ukuran dan bahan, sedangkan bendera merah putih dipasarkan mulai Rp35.000 hingga Rp90.000 per potong. Untuk umbul-umbul, harga yang ditawarkan berkisar Rp30.000 sampai Rp35.000 per lembar.

Meski tetap datang setiap tahun, ia mengakui omzet penjualan saat ini jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Jika pada dua tahun sebelumnya yang ramai ia mampu memperoleh omzet sekitar Rp1 juta per hari, kini pendapatan hariannya hanya berkisar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu dan kondisi tersebut juga terjadi pada 2025. Penurunan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor yang dirasakannya selama dua tahun terakhir.
“Sekarang omzet memang jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu,” tuturnya.
Kendati demikian, Bagus memilih tetap bertahan hingga berakhirnya peringatan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus. Baginya, berjualan bendera di Bangka Belitung bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga telah menjadi rutinitas yang selalu dijalani setiap tahun bersama rekan-rekannya dari Bandung. Ia berharap penjualan akan meningkat seiring semakin dekatnya perayaan HUT Republik Indonesia.
Setelah masa penjualan pernak-pernik kemerdekaan berakhir, Bagus tidak lagi berencana langsung kembali ke kampung halamannya di Bandung, Jawa Barat. Ia justru berkeinginan menetap sementara di Bangka Belitung untuk mencari pekerjaan lain sembari melihat peluang usaha yang ada. Baginya, kondisi perekonomian di Bangka Belitung masih memberikan harapan untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik.
“Kalau jualan sudah selesai, saya berencana tinggal dulu di Bangka Belitung dan mencari pekerjaan. Mudah-mudahan ada rezeki di sini,” ucap Bagus.






