Kehadiran Dana Umat sebagai Pilar Baru Ekonomi Nasional
Indonesia hari ini berada di ambang perubahan besar yang akan menentukan arah masa depan negara. Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, seringkali kita hanya fokus pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai satu-satunya alat penggerak pembangunan. Namun, sebenarnya ada potensi besar yang tersimpan dalam dana umat non-fiskal, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Gagasan pembentukan Sovereign Halal Fund (SHAF) bukan sekadar inovasi finansial, tetapi sebuah langkah strategis untuk membangun kedaulatan ekonomi Indonesia.
Paradoks Kelimpahan dan Fragmentasi Struktural
Data menunjukkan bahwa potensi dana umat Indonesia mencapai antara Rp 600 hingga Rp 800 triliun per tahun. Namun, realitasnya jauh dari harapan. Menurut laporan BAZNAS (2023), jumlah pengumpulan zakat nasional masih berada di bawah angka Rp 10 triliun. Ada kesenjangan yang sangat besar antara potensi dan realisasi.
Masalah utama tidak terletak pada kemurahan hati masyarakat, melainkan pada fragmentasi struktural. Saat ini, dana umat tersebar di lebih dari 400.000 lembaga, mulai dari organisasi resmi seperti Baznas dan BWI hingga kepanitiaan zakat fitrah di masjid-masjid kampung. Tidak ada sinergi yang jelas antara MUI dengan IAEI, KNEKS, MES serta lembaga ‘halal’ lainnya seperti BAZNAS, BWI, BPJPH, dan BPKH. Inefisiensi ini menyebabkan dana umat tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Tanpa konsolidasi, dana ini hanya menjadi solusi sementara untuk mengatasi kemiskinan, bukan instrumen kekuatan ekonomi yang bisa membangun infrastruktur strategis atau kemandirian industri halal. Ini mirip dengan budaya sholat kita yang masih dilakukan secara individu, tanpa berjamaah dalam barisan “Shaf” yang rapih sesuai ajaran Rasulullah.
Genealogi Baitul Mal: Akar Sejarah Dana Umat
Secara historis, SHAF memiliki akar yang kuat. Konsep Baitul Mal pada era Khalifah Umar bin Khattab adalah contoh awal dari sovereign fund pertama di dunia. Baitul Mal mengelola zakat, fai, dan ghanimah dengan manajemen profesional untuk kemaslahatan publik, termasuk jaminan sosial, pembangunan kanal pertanian, transportasi, alutsista hingga ekspor-impor.
KH Ma’ruf Amin sering menekankan bahwa pengelolaan dana umat harus berpindah dari pola tradisional-konsumtif menuju profesional-produktif. SHAF adalah bentuk modern dari Baitul Mal. Jika Umar bin Khattab mampu mengonsolidasi ekonomi jazirah Arab melalui sistem pusat yang kredibel, mengapa Indonesia dengan teknologi finansial mutakhir tidak bisa melakukan hal yang sama?
Laboratorium Nyata Dana Halal di BPKH
Kita tidak berbicara tentang mimpi belaka. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) adalah contoh nyata bahwa dana umat yang halal bisa dikelola secara profesional dan kompetitif. Dengan Asset Under Management (AUM) sebesar Rp 180 triliun hingga 2025, BPKH mencatatkan kinerja gemilang dengan return rata-rata 7 persen per tahun.
Angka ini sangat impresif jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya sekitar 5 persen dalam lima tahun terakhir. Bahkan, dalam hal efisiensi manajemen risiko, kinerja BPKH mampu bersaing dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) global yang hanya mencatatkan return jangka panjang di bawah 7 persen.
Tantangan Omnibus Law Dana Halal
Langkah menuju SHAF terhambat oleh regulasi yang terpisah. Saat ini, setidaknya ada lima Undang-Undang yang mengatur dana halal secara terpisah: UU Haji, UU Zakat, UU Wakaf, UU Pajak Penghasilan, dan UU Perbankan Syariah. Untuk menciptakan sinergi, diperlukan Omnibus Law Dana Halal yang mampu menghilangkan ego sektoral dan hambatan regulasi.
Konsolidasi melalui SHAF membutuhkan payung hukum yang revolusioner. Kita memerlukan harmonisasi regulasi yang memungkinkan dana haji, zakat, dan wakaf “berbicara” dalam satu orkestrasi investasi yang sama tanpa melanggar sharia compliance masing-masing. Ini adalah agenda besar menuju Indonesia Emas 2045: mewujudkan kemandirian fiskal berbasis nilai-nilai keislaman yang tidak lagi bergantung pada utang luar negeri, melainkan pada kekuatan modal suci rakyatnya sendiri.







