GIIAS 2026: Ajang Pameran Otomotif yang Masih Berpengaruh
Gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 kembali menjadi ajang penting bagi para agen pemegang merek (APM) untuk meluncurkan berbagai model baru, termasuk kendaraan elektrifikasi. Pameran otomotif terbesar di Indonesia ini juga menampilkan beragam program promosi dan penawaran menarik untuk memikat konsumen.
Meski demikian, meskipun banyaknya peluncuran produk baru dan program penjualan yang agresif selama GIIAS belum tentu mampu meningkatkan penjualan otomotif nasional secara signifikan pada semester II-2026. Pelaku industri masih menghadapi tantangan seperti daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta persaingan antarmerek yang ketat.
Peran Pameran dalam Mendorong Transaksi
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa pameran otomotif masih memiliki peran strategis dalam mendorong transaksi kendaraan. Menurutnya, konsumen dapat dengan mudah membandingkan berbagai merek, mencoba kendaraan melalui test drive, sekaligus mendapatkan berbagai penawaran pembiayaan dalam satu lokasi.
“Pameran seperti GIIAS terbukti mampu mempercepat keputusan pembelian karena konsumen bisa membandingkan berbagai merek, melakukan test drive, sekaligus memperoleh promo dan pembiayaan dalam satu tempat,” kata Yannes kepada Infomalangraya.com, Jumat (31/7/2026).
Yannes menjelaskan bahwa manfaat penyelenggaraan pameran akan semakin besar jika digelar di kota atau wilayah yang belum banyak tersentuh kegiatan serupa. Langkah tersebut membuka peluang bagi produsen untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan produk kepada calon konsumen baru.
Namun, jika pameran terlalu sering digelar di pasar yang sama, dampaknya terhadap permintaan dinilai semakin terbatas. Konsumen justru berpotensi menunda pembelian sambil menunggu program promosi berikutnya.
“Kalau pameran terlalu sering digelar di pasar yang sama, manfaat tambahannya cenderung semakin kecil. Konsumen justru terbiasa menunggu promo berikutnya sehingga transaksi hanya bergeser waktu, bukan benar-benar bertambah,” jelas Yannes.
Inovasi dan Daya Beli sebagai Faktor Utama
Ia menambahkan bahwa mobil merupakan produk dengan siklus pembelian yang panjang sehingga tidak dibeli setiap tahun. Oleh karena itu, daya tarik pameran juga bergantung pada inovasi model dan teknologi yang ditawarkan.
Menurut Yannes, kehadiran kendaraan baru dan teknologi terkini memang mampu menjaga antusiasme pengunjung. Namun, prospek penjualan industri otomotif pada akhirnya tetap ditentukan oleh kondisi fundamental pasar.
“Seberapa banyak pun pameran diselenggarakan, pertumbuhan penjualan tetap ditentukan oleh daya beli masyarakat dan kemudahan akses kredit,” ujarnya.
Promo Agresif sebagai Senjata Persaingan
Di tengah perlambatan pasar, GIIAS juga menjadi momentum bagi APM dan dealer untuk menawarkan program penjualan yang lebih agresif dibandingkan periode normal. Yannes menjelaskan bahwa besarnya promo yang diberikan selama pameran dimungkinkan karena beban biaya dapat ditanggung bersama oleh berbagai pihak, mulai dari APM, dealer, perusahaan pembiayaan, perusahaan asuransi hingga mitra penyelenggara.
Selain itu, pameran menjadi kesempatan bagi pelaku industri untuk mengejar volume penjualan dalam waktu singkat. Dengan target tersebut, dealer maupun APM bersedia mengambil margin keuntungan yang lebih tipis demi memperoleh insentif berdasarkan pencapaian volume penjualan.
Persaingan antarmerek yang berlangsung dalam satu lokasi juga membuat setiap produsen berlomba menawarkan paket penjualan paling menarik.
“Persaingannya juga jauh lebih ketat karena semua merek berada di satu lokasi, sehingga masing-masing berusaha menawarkan paket terbaik,” kata Yannes.
Perang Diskon untuk Merebut Pangsa Pasar
Yannes menilai strategi diskon yang semakin agresif saat ini lebih banyak dimanfaatkan produsen untuk merebut sekaligus mempertahankan pangsa pasar di tengah kompetisi yang semakin ketat. Persaingan tersebut semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah merek yang beroperasi di Indonesia, termasuk kehadiran berbagai produsen otomotif asal China yang terus memperluas portofolio produknya.
Di sisi lain, pasar otomotif nasional masih dibayangi melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah. Akibatnya, produsen harus bersaing memperebutkan konsumen di pasar yang pertumbuhannya relatif terbatas.
“Strategi diskon saat ini paling banyak ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangsa pasar. Mengejar target penjualan dan menghabiskan stok memang tetap menjadi tujuan, tetapi keduanya lebih merupakan dampak dari persaingan yang semakin ketat,” jelasnya.
Bagi merek baru, strategi harga dan diskon menjadi instrumen penting untuk mempercepat penetrasi pasar sekaligus membangun basis pelanggan. Sementara bagi pemain yang telah mapan, promosi diperlukan agar konsumen tidak beralih ke merek pesaing.
Karena itu, Yannes menilai perang diskon di industri otomotif kini telah berubah menjadi strategi kompetitif jangka panjang, bukan lagi sekadar promosi musiman selama pameran.
“Saya melihat perang diskon sekarang lebih merupakan senjata kompetitif daripada sekadar strategi promosi musiman,” pungkas Yannes.
Dengan kondisi tersebut, kehadiran berbagai model baru serta program penjualan selama GIIAS 2026 berpotensi menjadi stimulus bagi pasar otomotif pada semester II-2026. Namun, keberlanjutan pertumbuhan penjualan tetap akan sangat bergantung pada pemulihan daya beli masyarakat serta kemudahan memperoleh pembiayaan kendaraan.







