Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Tragedi Pendakian Pasuruan: 2 Mahasiswi Dibegal, Teman Terluka 18 Jahitan

    7 Juni 2026

    Penyesalan Ruben Onsu atas campur tangan adik Sarwendah dan sindiran tajamnya, mengapa baru sekarang?

    7 Juni 2026

    Sejarah Jalan Tunjungan: Dari Jalur Kolonial ke Wisata Surabaya

    7 Juni 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 7 Juni 2026
    Trending
    • Tragedi Pendakian Pasuruan: 2 Mahasiswi Dibegal, Teman Terluka 18 Jahitan
    • Penyesalan Ruben Onsu atas campur tangan adik Sarwendah dan sindiran tajamnya, mengapa baru sekarang?
    • Sejarah Jalan Tunjungan: Dari Jalur Kolonial ke Wisata Surabaya
    • Industri Manufaktur RI Tumbuh, Namun Masih Rentan
    • Bukti Transfer Terungkap, Eten Latul Janjikan Ganti Dua Kali Lipat
    • 20 Soal SAS Akidah Akhlak Kelas 4 MI Semester 2 Sesuai KMA 183
    • 7 obat anxiety di apotek, tenangkan pikiran berlebihan
    • Bapenda Bengkulu Angkat Bicara Soal Pajak Minuman Beralkohol di Black Rock
    • 5 tips jaga kepuasan pelanggan saat harga naik, jangan asal!
    • Jadwal Kapal Pelni KM Dorolonda Juni 2026: Rute Nabire ke Manokwari, Singgah Sorong dan Biak
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Ekonomi»Industri Manufaktur RI Tumbuh, Namun Masih Rentan

    Industri Manufaktur RI Tumbuh, Namun Masih Rentan

    adm_imradm_imr7 Juni 20263 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Stabilisasi Manufaktur Indonesia, Tapi Masih Butuh Konsistensi

    Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 dari 49,1 menjadi 50,0 menunjukkan adanya sinyal stabilisasi pasca-periode kontraksi. Namun, capaian ini dinilai belum cukup kuat untuk menandakan pemulihan sektor manufaktur yang berkelanjutan.

    Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menyatakan bahwa angka PMI yang berada tepat di level 50 masih berada di ambang batas antara kontraksi dan ekspansi. Oleh karena itu, kondisi tersebut perlu dicermati secara hati-hati.

    “Kami memandang kondisi saat ini lebih mencerminkan proses stabilisasi dibandingkan fase ekspansi yang sudah solid,” ujar Shinta.

    Menurutnya, sejumlah komponen dalam survei PMI masih menunjukkan tekanan. Output manufaktur tercatat turun selama tiga bulan berturut-turut, diikuti penurunan pembelian bahan baku, berkurangnya inventori input, penurunan tenaga kerja, serta kontraksi ekspor yang menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021.

    Perbaikan PMI Terutama Ditopang Permintaan Domestik

    Perbaikan PMI pada Mei terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan pesanan baru yang tumbuh selama dua bulan berturut-turut. Kondisi tersebut menunjukkan pasar domestik masih menjadi penyangga utama aktivitas manufaktur nasional.

    Meskipun demikian, perbaikan tersebut belum merata karena permintaan eksternal masih menghadapi tekanan. Ketidakpastian global, gangguan geopolitik, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor masih membebani kinerja ekspor manufaktur Indonesia.

    Di sisi lain, dunia usaha juga menghadapi tekanan biaya yang semakin besar. Berdasarkan hasil survei PMI, inflasi biaya input pada Mei tercatat menjadi yang tertinggi sejak 2013. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku, keterbatasan pasokan, dan gangguan rantai pasok global.

    Tekanan itu diperparah terutama oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Apindo mencatat sekitar 70% kebutuhan bahan baku dan barang antara industri nasional masih bergantung pada impor, sehingga pergerakan kurs memiliki dampak langsung terhadap struktur biaya produksi.

    “Hingga awal Juni 2026, rupiah masih menunjukkan tren tekanan dan telah bergerak di atas level Rp17.850 per dolar AS. Stabilitas nilai tukar akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan pemulihan manufaktur ke depan,” kata Shinta.

    Konsumsi Domestik Jadi Penopang

    Apindo memperkirakan sektor-sektor yang ditopang konsumsi domestik berpotensi menjadi motor pertumbuhan apabila PMI Manufaktur RI mampu bergerak lebih konsisten ke zona ekspansi dalam beberapa bulan mendatang.

    Industri makanan dan minuman, serta sektor yang terkait dengan konsumsi rumah tangga dan investasi domestik diperkirakan memiliki prospek yang lebih baik. Selain itu, sektor yang memiliki tingkat kandungan lokal lebih tinggi dinilai akan lebih resilien terhadap tekanan nilai tukar dan ketidakpastian global.

    Tekanan Biaya Produksi Tetap Tinggi

    Sebelumnya, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan stabilisasi pada Mei 2026 setelah sebelumnya sempat mengalami kontraksi. S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) naik dari 49,1 pada April menjadi 50,0 pada Mei.

    Kenaikan ini menandakan kondisi operasional industri mulai stabil di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat tajam serta gangguan pasokan bahan baku yang masih berlanjut.

    ”Ekonomi manufaktur Indonesia masih berada di bawah tekanan pada Mei, karena produksi tertahan oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input,” kata Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam keterangannya, Selasa (2/6).

    Data S&P Global menunjukkan bahwa tekanan biaya pada industri manufaktur Indonesia meningkat sangat tajam pada Mei. Inflasi biaya input tercatat sebagai kenaikan tertajam kedua sejak survei dimulai pada April 2011, hanya sedikit di bawah rekor yang terjadi pada September 2013.

    Lonjakan biaya ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan input produksi. Kondisi tersebut membuat beban operasional perusahaan meningkat signifikan, sekaligus menekan kemampuan produksi di sejumlah sektor manufaktur.

    “Meski perusahaan mencatat kenaikan penjualan yang lebih kuat, hal ini lebih banyak mencerminkan upaya pelanggan untuk menambah stok di tengah gangguan harga dan pasokan,” ujar Bhatti.

    Perusahaan-perusahaan juga melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku, yang mendorong penurunan aktivitas pembelian serta pemanfaatan stok yang sudah ada.

    Di sisi produksi, output manufaktur Indonesia kembali mengalami penurunan pada Mei, meskipun laju kontraksinya lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menjadi bulan ketiga berturut-turut produksi mengalami penurunan.

    Penurunan output terutama dipengaruhi oleh mahalnya biaya bahan baku serta keterbatasan pasokan yang menghambat proses produksi. Dalam kondisi tersebut, perusahaan juga mengandalkan persediaan barang jadi untuk memenuhi pesanan yang masuk.

    Data S&P Global menunjukkan bahwa tekanan biaya pada industri manufaktur Indonesia meningkat sangat tajam pada Mei. Inflasi biaya input tercatat sebagai kenaikan tertajam kedua sejak survei dimulai pada April 2011, hanya sedikit di bawah rekor yang terjadi pada September 2013.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,25 Persen untuk Jaga Rupiah dan Stabilitas Ekonomi

    By adm_imr7 Juni 20261 Views

    Rupiah Tembus Rp17.800, Apakah Kembali ke Krisis 1998?

    By adm_imr7 Juni 20262 Views

    5 Altcoin Potensial yang Layak Diperhatikan di Juni 2026, Termasuk SUI

    By adm_imr6 Juni 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Tragedi Pendakian Pasuruan: 2 Mahasiswi Dibegal, Teman Terluka 18 Jahitan

    7 Juni 2026

    Penyesalan Ruben Onsu atas campur tangan adik Sarwendah dan sindiran tajamnya, mengapa baru sekarang?

    7 Juni 2026

    Sejarah Jalan Tunjungan: Dari Jalur Kolonial ke Wisata Surabaya

    7 Juni 2026

    Industri Manufaktur RI Tumbuh, Namun Masih Rentan

    7 Juni 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Gus Iqdam Bongkar Aksi Kapolresta Malang Saat Kanjuruhan Memanas, Ribuan Jemaah di Stadion Gajayana Menangis!

    4 Juni 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?