Serangan Udara Israel di Markas Kepolisian Gaza Tewaskan Sembilan Warga Palestina
Serangan udara Israel kembali menghantam wilayah Jalur Gaza, kali ini menargetkan markas kepolisian di Kota Gaza. Insiden tersebut menewaskan sembilan warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan berusia 13 tahun bernama Dana Haitham al-Jamasi. Serangan terjadi pada Rabu, 19 Agustus 2026, dan terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh serta upaya diplomatik untuk mempertahankan perdamaian di wilayah tersebut.
Menurut laporan sumber medis setempat, sedikitnya 15 hingga 20 orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut. Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza menerima sembilan jenazah setelah serangan. Di antara korban, terdapat seorang perempuan dan seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang diidentifikasi sebagai Dana Haitham al-Jamasi. Beberapa anggota kepolisian juga dilaporkan menjadi korban.
Badan pertahanan sipil Gaza turut mengonfirmasi jumlah korban tewas. Rekaman yang diperoleh AFP dari lokasi rumah sakit memperlihatkan warga membawa serta berkumpul di sekitar kantong jenazah, sementara keluarga dan kerabat korban menangisi orang-orang yang mereka cintai.
Israel Klaim Targetkan Komandan Hamas
Militer Israel membenarkan bahwa pihaknya melakukan serangan terhadap fasilitas kepolisian tersebut. Namun, Israel menyatakan bahwa sasaran serangan bukanlah polisi atau warga sipil, melainkan apa yang disebutnya sebagai pertemuan anggota kelompok bersenjata di dalam fasilitas itu. Dalam keterangannya, militer Israel mengklaim terdapat empat anggota Hamas dan seorang anggota kelompok Komite Perlawanan Rakyat dalam pertemuan tersebut.
Israel menyebut mereka sedang merencanakan serangan terhadap pasukan Israel yang berada di Jalur Gaza. Militer Israel juga mengatakan telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi risiko terhadap warga sipil sebelum serangan dilakukan, termasuk menggunakan amunisi yang diklaim presisi serta melakukan pengintaian dari udara. Selain itu, Israel juga mengklaim telah menyerang seorang komandan sayap militer Hamas di wilayah Nuseirat, Gaza bagian tengah. Menurut militer Israel, komandan tersebut terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel.
Klaim mengenai identitas dan aktivitas orang-orang yang menjadi sasaran tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Hamas Bantah Klaim Israel
Hamas menolak penjelasan militer Israel mengenai serangan tersebut. Kelompok itu menyatakan sebagian besar korban merupakan anggota kepolisian dan personel yang bertugas di fasilitas tersebut. Hamas juga menuding serangan terhadap markas kepolisian merupakan upaya untuk melumpuhkan aparat kepolisian di Gaza dan menciptakan kekacauan di tengah masyarakat Palestina.
Mereka menyebut tuduhan Israel mengenai keberadaan pemimpin kelompok bersenjata di lokasi sebagai alasan untuk membenarkan serangan. Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza juga mengecam serangan tersebut dan menyerukan kepada mediator serta masyarakat internasional untuk mengambil tindakan guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Warga Pertanyakan Gencatan Senjata
Serangan terhadap markas kepolisian itu terjadi ketika perhatian internasional kembali tertuju pada keberlangsungan gencatan senjata di Gaza. Seorang warga Gaza, Mahmoud Jundiya, mempertanyakan bagaimana gencatan senjata dapat dipertahankan jika serangan masih terus terjadi dan warga Palestina tetap menjadi korban.
Pertanyaan serupa muncul di tengah upaya Amerika Serikat dan sejumlah negara mediator untuk mendorong penyelesaian jangka panjang konflik Gaza. Upaya diplomatik tersebut masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk perbedaan pandangan mengenai penarikan pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, serta mekanisme keamanan dan pemerintahan Gaza setelah perang.
Pada 20 Agustus, Turki, Mesir, dan Qatar juga mengecam serangkaian serangan Israel terbaru di Gaza dan menyerukan agar komitmen terhadap gencatan senjata dihormati. Ketiga negara memperingatkan bahwa eskalasi militer dapat mengganggu upaya perdamaian yang sedang berlangsung.
Serangan Terhadap Kafe di Gaza
Serangan terhadap markas kepolisian tersebut terjadi sehari setelah serangan Israel lainnya menghantam sebuah kafe yang ramai di kawasan pelabuhan Kota Gaza. Sedikitnya enam orang tewas dalam serangan itu, termasuk seorang anak. Militer Israel kembali menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan sejumlah komandan Hamas.
Dua serangan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam itu menewaskan sedikitnya 15 warga Palestina dan menyebabkan puluhan lainnya terluka, menurut laporan sejumlah sumber setempat. Rangkaian serangan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran bahwa gencatan senjata di Gaza berada dalam kondisi rentan.
Meski intensitas pertempuran telah menurun dibandingkan periode perang sebelumnya, serangan mematikan masih terus dilaporkan terjadi.
Serangan Terhadap Polisi Gaza
Serangan terhadap aparat kepolisian di Gaza juga bukan kejadian yang sepenuhnya baru. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat adanya sejumlah serangan terhadap personel kepolisian Gaza sepanjang 2026, termasuk serangan terhadap kendaraan dan pos polisi yang menyebabkan sejumlah korban jiwa.
Pada 13 Agustus 2026, Kementerian Dalam Negeri Gaza juga menyatakan bahwa kepala kepolisian wilayah Gaza, Brigadir Jenderal Jamal Abu Kamil, tewas dalam serangan udara Israel terhadap kendaraannya di kawasan Jalan al-Rashid, Kota Gaza. Dua orang yang bersamanya dilaporkan terluka.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aparat keamanan dan kepolisian Gaza tetap menjadi salah satu titik rawan dalam konflik, sementara status dan fungsi kepolisian Gaza sendiri berkaitan erat dengan struktur pemerintahan yang dikendalikan Hamas.
Situasi Masih Tegang
Serangan terbaru di markas kepolisian Kota Gaza memperlihatkan rapuhnya situasi keamanan di Jalur Gaza. Di satu sisi, Israel mengatakan operasi militernya diarahkan kepada anggota Hamas dan kelompok bersenjata yang dianggap mengancam pasukannya. Di sisi lain, otoritas Gaza dan Hamas menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan aparat sipil dan mengakibatkan jatuhnya korban warga Palestina.
Dengan korban sipil yang terus berjatuhan dan proses diplomatik yang belum menemukan kesepakatan menyeluruh, masa depan gencatan senjata Gaza masih menghadapi ketidakpastian.







