Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Bangladesh dan Turki mengambil langkah baru untuk memperkuat kemitraan strategis mereka. Kedua negara sepakat membentuk komite gabungan tingkat menteri yang akan menangani kerja sama politik dan pertahanan, sebuah langkah yang menandai semakin eratnya hubungan antara Dhaka dan Ankara.
Kesepakatan itu dicapai setelah pertemuan Perdana Menteri Bangladesh Tarique Rahman dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di Dhaka pada Sabtu. Fokus pembicaraan tidak hanya pada hubungan diplomatik biasa. Kedua pihak membahas cara memperluas kerja sama melalui mekanisme yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Hasilnya, Bangladesh dan Turki sepakat membentuk komite gabungan yang melibatkan kementerian luar negeri dan kementerian pertahanan dari kedua negara.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa hubungan Dhaka-Ankara memasuki fase baru. Kantor Perdana Menteri Bangladesh (PMO) menyatakan komite gabungan itu akan menjadi wadah untuk memperkuat koordinasi politik, pertahanan, dan berbagai bidang kerja sama strategis lainnya. Selain itu, kedua negara juga sepakat menggelar pertemuan tahunan tingkat menteri luar negeri guna memastikan agenda kerja sama terus berjalan.
“Bangladesh dan Turki memutuskan untuk membentuk komite gabungan di tingkat menteri pertahanan dan luar negeri untuk memperkuat kerja sama politik dan pertahanan antara kedua negara,” demikian pernyataan PMO.
Kesepakatan ini muncul di tengah meningkatnya peran Turki dalam berbagai isu regional dan global. Dalam beberapa tahun terakhir, Ankara aktif memperluas jejaring diplomasi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan dengan negara-negara Asia. Bangladesh, yang memiliki posisi strategis di Asia Selatan dan ekonomi yang terus berkembang, dipandang sebagai mitra penting dalam kebijakan luar negeri Turki.
Karena itu, kunjungan Hakan Fidan ke Dhaka mendapat perhatian khusus. Menteri Luar Negeri Turki itu tiba di Bangladesh pada Kamis untuk menjalani kunjungan selama tiga hari. Selain bertemu para pemimpin politik, ia juga dijadwalkan membahas peluang kerja sama yang lebih luas di berbagai sektor.
Pertanyaannya kini, sejauh mana kemitraan baru ini akan mengubah peta hubungan Turki dengan Asia Selatan? Yang jelas, dengan pembentukan komite gabungan tingkat menteri, Bangladesh dan Turki telah mengirim pesan bahwa hubungan kedua negara tidak lagi sekadar diplomasi biasa, melainkan kemitraan strategis yang ingin dibangun untuk jangka panjang.
Mengapa Turki Semakin Agresif Membangun Aliansi di Asia?
Dalam beberapa tahun terakhir, Turki tidak lagi memusatkan perhatian hanya pada Timur Tengah atau Eropa. Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, Ankara semakin aktif menjalin hubungan strategis dengan negara-negara Asia, mulai dari Asia Tengah, Asia Tenggara, hingga Asia Selatan.
Bangladesh menjadi salah satu tujuan terbaru dari strategi tersebut. Langkah Ankara bukan tanpa alasan. Asia kini merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dunia, jalur perdagangan penting, sekaligus arena persaingan geopolitik antara Amerika Serikat, China, India, dan Rusia. Bagi Turki, memperkuat pijakan di kawasan ini berarti membuka peluang baru dalam perdagangan, investasi, diplomasi, dan kerja sama pertahanan.
Ankara tampaknya ingin memainkan peran yang lebih besar. Selama bertahun-tahun, Turki berupaya memposisikan diri sebagai kekuatan regional yang mampu menjembatani Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Untuk mencapai tujuan itu, Ankara membutuhkan jaringan mitra yang lebih luas, terutama di negara-negara berkembang yang memiliki pengaruh regional dan populasi besar.
Di sinilah Bangladesh menjadi penting. Dengan jumlah penduduk lebih dari 170 juta jiwa dan ekonomi yang terus tumbuh, Bangladesh dipandang sebagai salah satu negara paling menjanjikan di Asia Selatan. Letaknya yang strategis di Teluk Benggala juga membuat negara ini memiliki nilai penting dalam jalur perdagangan maritim kawasan.
Namun kepentingan Turki tidak berhenti pada ekonomi. Ankara juga sedang memperluas kerja sama pertahanan dengan berbagai negara. Industri pertahanan Turki berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, mulai dari produksi drone tempur Bayraktar, kendaraan lapis baja, kapal perang, hingga sistem rudal. Banyak negara kini melihat Turki sebagai alternatif pemasok alutsista selain Amerika Serikat, Rusia, atau China.
Karena itu, hubungan yang lebih erat dengan Bangladesh membuka peluang baru. Kerja sama yang awalnya berfokus pada diplomasi dapat berkembang ke bidang pelatihan militer, pertukaran teknologi pertahanan, hingga pengadaan peralatan militer. Bagi Ankara, setiap kemitraan baru juga memperkuat posisinya sebagai pemain yang semakin berpengaruh di dunia Muslim.
Ada pula dimensi politik yang lebih luas. Turki dalam beberapa tahun terakhir berupaya meningkatkan perannya di berbagai isu internasional yang melibatkan negara-negara Muslim. Dari Palestina hingga Rohingya, Ankara berusaha tampil sebagai salah satu suara penting yang mewakili kepentingan dunia Islam di panggung global.
Karena itu, kedekatan dengan Bangladesh memiliki nilai simbolis sekaligus strategis. Jika dahulu pengaruh Turki lebih banyak terkonsentrasi di Timur Tengah dan kawasan Mediterania, kini jangkauannya semakin meluas ke Asia. Pertanyaannya bukan lagi apakah Ankara ingin memperbesar pengaruhnya di kawasan ini. Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa jauh Turki mampu mengubah jaringan kemitraan tersebut menjadi kekuatan geopolitik baru yang diperhitungkan di Asia dan dunia Islam.







