Perkembangan Kacamata Pintar Meta dan Tantangan Privasi
Kacamata pintar yang dikembangkan oleh Meta, bekerja sama dengan merek ternama seperti Ray-Ban dan Oakley, telah mengubah cara orang berinteraksi dengan kamera. Produk ini, yang terlihat seperti kacamata biasa, telah mencapai penjualan sekitar 7 juta unit pada tahun 2025, hampir tiga kali lipat dari total penjualan gabungan 2023 dan 2024. Namun, kesuksesan tersebut juga membawa tantangan baru, terutama dalam hal privasi.
Banyak orang mengaku direkam tanpa mereka sadari, baik di rumah, tempat kerja, konser, maupun ruang publik. Salah satu kasus yang menonjol adalah Brek Mettra dari Utah, yang baru menyadari dirinya dan dua anaknya direkam ketika seorang penjual pakaian vintage mengunggah rekaman pertemuan mereka ke media sosial. “Saya benar-benar merasa privasi saya dilanggar,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa jika ia mengetahui dirinya sedang direkam, ia bisa menolak atau pergi.
Masalah semakin memburuk karena lampu LED yang seharusnya menjadi penanda perekaman dapat dimodifikasi. Seorang pemilik layanan Ghost Metas, yang menonaktifkan lampu tersebut, mengklaim telah memodifikasi sekitar 100 pasang kacamata dalam waktu 15–20 menit per unit. Meski Meta menyatakan bahwa LED tidak dapat dimatikan dan kamera akan dinonaktifkan jika lampu ditutup atau dirusak, banyak pengguna tetap merasa khawatir.
Di sisi lain, fungsi kamera yang nyaris tidak terlihat justru menjadi daya tarik utama produk ini. Mark Zuckerberg pernah menyebut bahwa tujuan kacamata Meta adalah mempertahankan rasa kehadiran yang Anda miliki ketika bersama orang lain. Meta memasarkan perangkat ini sebagai teknologi yang memungkinkan pengguna merekam kehidupan tanpa harus mengeluarkan ponsel.
Daya tarik produk ini kemudian diperluas melalui kolaborasi dengan figur publik terkenal. Pada Juni, Meta berkolaborasi dengan Kylie Jenner untuk mempromosikan kacamata AI seharga USD 399 atau sekitar Rp7,11 juta. Kacamata ini mampu memberikan respons menggunakan suara Kylie. Namun, penggunaan di lapangan menunjukkan konsekuensi yang jauh lebih problematis.
Beberapa pengguna menggunakan kacamata tersebut untuk merekam perempuan di jalan, kampus, pantai, bar, hingga festival musik, lalu mengunggah interaksi itu sebagai konten. Di Inggris, beberapa restoran, pub, dan teater telah melarang penggunaan kacamata tersebut, sementara pengadilan di Inggris dan Wales juga melarangnya di gedung pengadilan.
Masalah tidak hanya terbatas pada perekaman. Investigasi media Swedia menemukan bahwa rekaman dari kacamata Meta disimpan dan ditinjau oleh pekerja moderator konten di Kenya, termasuk video yang menampilkan orang ke toilet, menanggalkan pakaian, bahkan aktivitas seksual. Meski Meta membantah akses rutin terhadap rekaman pengguna, gugatan class action di San Francisco menuduh perusahaan memberikan jaminan privasi yang menyesatkan.
Ancaman berikutnya adalah pengenalan wajah. WIRED menemukan kode fitur internal bernama NameTag telah masuk ke aplikasi pendamping Meta sejak awal 2026, meski belum diaktifkan untuk konsumen. Sistem tersebut dirancang untuk mengubah wajah menjadi data biometrik atau faceprints dan mencocokkannya dengan data yang tersimpan di ponsel. Peneliti keamanan Cooper Quintin menilai fitur itu “hampir siap diluncurkan” dan memperingatkan bahwa Meta telah menciptakan kemampuan untuk “mengubah pelanggannya menjadi mesin pengawasan terdistribusi”.
Perkembangan ini memicu penolakan dari sedikitnya 75 organisasi, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU), yang menyebut integrasi pengenalan wajah semacam itu sebagai “garis merah yang tidak boleh dilampaui masyarakat”. Meta akhirnya menghapus kode NameTag yang ditemukan. Perusahaan mengatakan belum mengambil keputusan untuk meluncurkannya dan menegaskan tidak membangun basis data wajah terpusat.
Meski demikian, pasar terus berkembang. Google menggandeng Samsung, Gentle Monster, dan Warby Parker untuk mengembangkan kacamata pintar, sementara Apple dikabarkan mengembangkan perangkat serupa. Meta sendiri memperluas kolaborasi dengan industri mode, termasuk proyek bersama Prada. Kacamata pintar pun berpotensi menjadi antarmuka AI berikutnya setelah ponsel, sekaligus memperluas kamera dan sensor ke ruang sosial tanpa selalu terlihat.
Karena itu, persoalan Meta Glasses bukan sekadar apakah seseorang sedang merekam kita hari ini. Yang dipertaruhkan adalah perubahan batas antara ruang publik, privasi, dan pengawasan ketika kamera menjadi bagian dari pakaian sehari-hari. Seperti dikatakan Ryan Clarkson, pengacara yang menggugat Meta, teknologi ini berisiko menjadikan setiap pemakainya sebagai “Trojan horse bagi pengawasan”, yakni perangkat yang memungkinkan pengawasan berlangsung tanpa disadari orang-orang di sekitarnya. Jika kacamata pintar menjadi normal, masyarakat mungkin tidak lagi hanya kehilangan kemampuan mengetahui kapan sedang direkam, tetapi juga kebiasaan untuk mengharapkan privasi.






