Kehilangan yang Menyedihkan: Kisah Yohanes, Anak Muda yang Berjuang di Tengah Kesulitan
Pagi itu, Kamus (29/1/2026), terasa biasa-biasa saja. Namun, bagi keluarga Maria Goreti Te’a, hari itu menjadi awal dari perjalanan pahit yang tidak pernah mereka bayangkan. Yohanes, putra bungsunya yang berusia 10 tahun, ditemukan tak bernyawa di sebuah pohon cengkeh, masih mengenakan seragam olahraga merah kesayangannya.
Ketika kabar tersebut menyebar, rasa syok dan sedih melanda seluruh keluarga. Maria, ibu dari Yohanes, tampak terpukul. Ia seolah tak percaya bahwa putranya pergi dengan cara yang begitu tragis. “Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ujarnya dengan nada lirih.
Kehidupan yang Penuh Perjuangan
Yohanes bukanlah anak yang hidup dalam kemewahan. Sejak usia satu tahun tujuh bulan, ia harus tinggal terpisah dari ibunya dan dirawat oleh neneknya di gubuk bambu sederhana. Sosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung juga telah merantau ke Kalimantan belasan tahun silam dan tidak pernah kembali.
Di balik sosoknya yang muda, Yohanes adalah anak yang tangguh. Setelah pulang dari sekolah, ia rutin membantu neneknya menjajakan sayur, ubi, hingga kayu bakar demi menyambung hidup. Meja makan mereka lebih sering dihiasi pisang dan ubi hasil kebun seadanya.
Ironisnya, kondisi ekonomi yang mencekik ini seolah luput dari perhatian pemerintah. Keluarga ini tidak termasuk dalam skema bantuan sosial, mulai dari program bedah rumah hingga bantuan pendidikan. Dari lima bersaudara, hanya dua yang mampu mengenyam bangku sekolah secara berkelanjutan.
Pesan Pilu dalam Bahasa Bajawa
Tragedi ini meninggalkan sebuah bukti yang sangat menyentuh: selembar kertas putih berisi pesan terakhir Yohanes untuk ibunda tercinta. Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa dan berbunyi:
“Kertas Ti’i Mama Reti”
Mama galo Ze’e
Mama Molo, Galo Ja’o Mata, Mama Ma’e Rita ee Mama
Mamo Galo Ja’o Mata, Ma’e Woe Rita Ne Gae Nga’o ee
MOLO MAMA*
Jika diterjemahkan, pesan tersebut mengandung kepedihan mendalam seorang anak yang merasa kurang kasih sayang namun tetap mendoakan ibunya:
“Kertas untuk mama Reti.
Mama terlalu kikir (pelit).
Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama.
Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee.
Baik sudah mama atau selamat tinggal mama.”
Penyelidikan yang Dilakukan oleh Pihak Kepolisian
Pihak kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini dengan hati-hati. Meski dugaan awal mengarah pada tindakan mengakhiri hidup sendiri, aparat tetap melakukan pemeriksaan saksi dan mengamankan barang bukti berupa surat tersebut. Pendekatan psikologis juga dilakukan mengingat kondisi sosial dan lingkungan korban yang cukup kompleks.
Pengingat Penting tentang Pentingnya Pendampingan Emosional
Tragedi Yohanes menjadi pengingat pahit tentang pentingnya pendampingan emosional bagi anak-anak yang tumbuh dalam tekanan ekonomi dan perpisahan keluarga. Anak-anak seperti Yohanes membutuhkan perhatian, dukungan, dan kasih sayang dari orang tua maupun lingkungan sekitar.
Catatan Redaksi
Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda atau orang di sekitar mengalami tekanan emosional berat atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional ke psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.







