Kapolsek Kamuu Minta Maaf atas Tindakan Oknum Polisi yang Mengancam Kepala Distrik dan Wartawan
Insiden yang terjadi di Dogiyai, Papua Tengah, pada Selasa (31/3/2026) menimbulkan kekhawatiran terkait tindakan tidak profesional dari oknum polisi. Kejadian ini melibatkan Kepala Distrik Kamuu, Markus Auwe, serta seorang wartawan, Aleks Waine. Kapolsek Kamuu, Iptu Yusuf Habel Apiem, menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut.
Kronologi Insiden
Markus Auwe mengungkapkan bahwa dirinya dan Kapolsek Kamuu berusaha mendatangi lokasi kericuhan di sekitar pasar untuk meredakan ketegangan massa. Namun, aksinya dibatasi oleh oknum polisi yang bertugas di lapangan. Markus menceritakan bahwa ia disuruh kembali oleh anggota di lokasi.
“Saya tidak berjalan sendiri, sebenarnya saya bersama Kapolsek Kamuu, tetapi saya dibatasi pihak keamanan untuk mendatangi tempat kejadian perkara,” ujarnya.
Setelah dihalangi, Markus memilih kembali ke kantor distrik untuk berkoordinasi dengan jajarannya. Beberapa jam kemudian, ia berniat kembali turun bersama seorang wartawan untuk negosiasi antara aparat dan kelompok pemuda yang memblokir jalan.
Namun, lagi-lagi di Jalan Masuk Susteran, rombongan Markus kembali dihadang. Ia mengaku dirinya dan wartawan diperlakukan tidak menyenangkan.
“Saat saya bersama wartawan Aleks Waine dalam perjalanan menuju jalan masuk susteran, kami dihadang oleh sekelompok polisi dan bahkan diancam dengan kata-kata yang membuat kami trauma,” bebernya.
Peran Wartawan dan Pernyataan Oknum Polisi
Aleks Waine, wartawan yang ikut dalam perjalanan tersebut, membenarkan penghadangan itu. Ia mengungkapkan bahwa sebelum turun ke lapangan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pimpinan kepolisian melalui pesan singkat untuk memastikan keamanan.
“Sebelum turun, situasi memang sangat tegang. Saya dan Pak Kadistrik sudah berkoordinasi dengan Kapolsek Kamuu agar kami bisa turun langsung bernegosiasi dengan kelompok pemuda agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Aleks.
Namun, di lapangan, kata Aleks, ada oknum polisi yang mengeluarkan ucapan provokatif. Oknum polisi yang di papan namanya bertuliskan “William” sempat mengancam.
“William itu mengancam ‘akan meratakan habis warga Dogiyai’. Dia juga menyampaikan kalau orang Dogiyai ke depan tidak boleh melakukan demonstrasi,” tutur Aleks.
Selain itu, lanjut Aleks, anggota tersebut menuntut masyarakat untuk segera mengungkap identitas pelaku pembunuhan JE. Padahal, menurutnya, tugas penegakan hukum dan penyelidikan adalah wewenang kepolisian.
Penjelasan Kapolsek Kamuu
Secara terpisah, Kapolsek Kamuu, Iptu Yusuf Habel Apiem, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait adanya pernyataan yang dinilai tidak pantas oleh oknum polisi pasca insiden Dogiyai.
Yusuf mengaku selama ini dirinya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para tokoh dan pemuda setempat, termasuk wartawan dan Kepala Distrik Kamuu.
“Justru saya minta tolong kepada mereka, adik Aleks dan bapak kepala distrik. Waktu kejadian itu sampai waktu saya antar jenazah itu saya bilang ade Waine dengan kepala distrik datang di depan saya,” ujarnya.
Yusuf mengaku justru kehadiran Aleks dan Kepala Distrik Kamuu telah banyak membantu. “Kamu dua itu saya punya kekuatan untuk saya bergerak dalam kota ini (ibu kota Dogiyai),” lanjutnya mengulangi kalimat yang pernah ia sampaikan kepada Aleks dan Kepdis Kamuu.
Menurutnya, komunikasi dengan para tokoh dan pemuda selama ini berjalan baik. Namun, Yusuf menyayangkan adanya sikap tidak sopan dari oknum anggota yang memicu keresahan.
“Tadi Maine sempat WA ke saya soal ini. Anak-anak ini (oknum polisi) kurang ajar tidak tahu sopan, tidak tahu etika,” katanya.
Tindakan yang Akan Dilakukan
Yusuf menegaskan pernyataan tersebut bukan berasal dari anggota Polsek Kamuu, melainkan oknum anggota Polres. “Saya sebagai Kapolsek Kamuu minta maaf. Saya sedikit pun tidak pernah berpikir buruk sama adik Aleks sama kakak kepala distrik juga pemuda-pemuda di sini (Dogiyai). Saya salut sama mereka karena selama ini mereka yang bantu saya sebagai kapolsek dalam kota,” tegasnya.
“Tapi saya sarankan, berkenan langsung Kapolres kah? Karena yang menyatakan kalimat itu anggota Kapolres. Itu bukan anggota saya (Polsek Kamuu),” imbuhnya.
Yusuf juga menilai perilaku oknum tersebut tidak mencerminkan sikap profesional aparat. “Saya jujur, hal-hal yang tidak berkenan ini tidak boleh terjadi kepada kita punya masyarakat. Saya jujur bukan karena saya anak Papua, saya tahu persis adik-adik di sini, pemuda-pemuda di sini, saya sangat dekat dengan mereka (warga di sini) terutama para pemuda,” ujarnya.
Perilaku-perilaku dari anggota ini tidak benar atau tidak profesional. “Saya sebagai Kapolsek Kamuu mohon maaf,” sambungnya lagi.
Langkah Selanjutnya
Yusuf memastikan akan melaporkan oknum tersebut ke pimpinan. “Adik anggota yang mengatakan bahasa begitu, saya akan lapor ke Kapolres, kalau tidak nanti saya kasih tahu ke Polda untuk oknum dicabut dari Dogiyai,” janjinya.
Sementara itu, terkait situasi keamanan, ia menyebut kondisi Dogiyai hingga hari kelima pasca kejadian sudah mulai kondusif. “Untuk situasi di Dogiyai pasca kejadian hingga kurang lebih hari ini (hari kelima) situasi aman kondusif,” katanya.
Selanjutnya pasca kejadian, Yusuf telah menginstruksikan anggotanya untuk tidak menggunakan senjata api, terutama di lingkungan permukiman warga. “Saya sudah perintahkan juga kepada saya punya anggota untuk tidak boleh lepaskan tembakan. Kita lakukan sesuai SOP, kalau ade-ade pemuda ini datang sampai ke pintu maka buang saja gas air mata biar adik dorang bubar dan mundur,” tutupnya.






