Ringkasan Berita
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mulai menerima berbagai bentuk intimidasi setelah mengirimkan surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada 6 Februari 2026. Surat tersebut menjadi respons atas tragedi seorang siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal karena bunuh diri akibat tidak mampu membeli alat tulis. Di sisi lain, negara mengalokasikan dana besar untuk program seperti iuran Board of Peace (BoP) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Surat terbuka itu menyoroti ironi dalam penggunaan anggaran negara. Sejumlah uang yang dialokasikan untuk program-program tersebut dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat. Tiyo menyampaikan bahwa hal ini menjadi alasan utama BEM UGM mengirimkan surat tersebut.
Bermula dari Pengiriman Surat ke UNICEF
Tiyo menjelaskan bahwa teror yang ia terima bermula setelah BEM UGM mengirimkan surat ke UNICEF. Menurutnya, surat tersebut merupakan wujud kekecewaan atas ketidakseimbangan dalam alokasi dana negara. Ia menilai bahwa pemerintah lebih memprioritaskan proyek-proyek yang tidak langsung berdampak pada rakyat biasa, sementara ada kelompok yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam pernyataannya, Tiyo menyebutkan bahwa situasi ini membuat BEM UGM merasa tidak bisa lagi mengandalkan pihak dalam negeri untuk mengubah kondisi. Oleh karena itu, mereka memilih mengajak pihak luar, seperti UNICEF, untuk turut melihat realitas yang terjadi di Indonesia.
Rentetan Teror
Setelah mengirimkan surat, Tiyo mulai menerima pesan-pesan ancaman melalui WhatsApp. Pesan-pesan tersebut datang dari nomor asing yang memiliki kode negara Inggris Raya, meskipun isinya ditulis dalam Bahasa Indonesia. Beberapa pesan yang masuk antara lain:
- Agen asing
- Culik mau?
- Jangan cari panggung jadi tongkosong
- Cari dosamu entr
- Banci
- Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah
Pesan-pesan ini terus masuk dalam waktu yang berbeda-beda, dan Tiyo mengaku tidak menanggapi beberapa nomor asing yang mencoba menghubunginya. Selain pesan, ia juga dikuntit oleh dua orang tak dikenal dan difoto dari jarak jauh. Namun, kedua orang tersebut hilang ketika dikejar.
Teror Serupa
Selain pesan ancaman, Tiyo juga mengalami teror serupa sebelumnya. Contohnya, fotonya dipasang di lokasi Abu Bakar Ali dengan tulisan “antek asing”. Ia juga sempat mengalami teror penculikan saat berada di kereta setelah aksi demo besar-besaran pada Agustus lalu.
Menurut Tiyo, teror yang ia alami kali ini lebih intens dibanding sebelumnya. Ia menilai bahwa semua bentuk ekspresi rakyat yang peduli pada bangsanya harus dilindungi, bukan dianggap sebagai ancaman. Ia berharap teror yang ia alami adalah yang terakhir, karena menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia sedang dalam kondisi yang tidak sehat.
Intimidasi terhadap Keluarga
Bagian paling berat bagi Tiyo adalah ketika ibunya juga menjadi korban intimidasi. Orang tak dikenal mengirimkan pesan WhatsApp ke ibunya pada 14 Februari 2026. Isi pesan tersebut menyebut bahwa Tiyo dituduh menggelapkan dana kampus agar dapat setoran. Ibu Tiyo, yang merupakan perempuan desa dengan latar belakang pendidikan rendah, disebut menerima pesan-pesan tersebut di tengah malam, saat ia dalam kondisi rentan.
Tiyo menjelaskan bahwa isi pesan tersebut sangat menyudutkan. Ia menyebutkan bahwa pesan pertama menyebut bahwa anaknya “nilap uang”, sedangkan pesan kedua menyebut bahwa orang tua Ketua BEM kecewa karena anaknya “nilap uang”. Ibu Tiyo sendiri mengaku cukup takut setelah menerima pesan-pesan tersebut.
Dampak terhadap Pengurus BEM UGM
Tidak hanya Tiyo dan keluarganya, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima teror serupa. Pesan-pesan yang diterima sama dengan yang dialami oleh ibu Tiyo, yaitu tuduhan bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang. Tiyo masih melakukan pendataan terkait jumlah pengurus yang menjadi korban teror ini.







