Bantahan Relawan Jokowi terhadap Klaim Jusuf Kalla
Polemik terkait peran Jusuf Kalla dalam keberhasilan Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia terus berlangsung dan memicu respons dari berbagai pihak. Kali ini, Ketua Umum Relawan “Kami Jokowi-Gibran”, Razman Arif Nasution, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pernyataan tersebut.
Razman menilai bahwa klaim Jusuf Kalla tentang perannya dalam membawa Jokowi ke kursi presiden tidak sepenuhnya benar. Ia bahkan mengungkap sejumlah tokoh yang dianggap memiliki kontribusi lebih besar dalam perjalanan politik Jokowi menuju panggung nasional. Tiga nama yang disebutkan adalah Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, dan Hashim Djojohadikusumo.
“Yang benar itu ada peran Pak Hashim dan Pak Prabowo. Ada peran Bu Mega itu benar,” ujar Razman saat ditemui usai bertemu Jokowi di kediamannya, Jumat (24/4/2026). Menurutnya, narasi yang menyebut Jusuf Kalla memiliki peran dominan perlu diluruskan.
Peran Tokoh Politik Lain Disebut Lebih Dominan
Menurut Razman, komunikasi antara Jusuf Kalla dan Jokowi pada masa awal pencalonan sangat terbatas. Ia menyebut bahwa JK hanya sekali menghubungi Jokowi untuk menanyakan minatnya dalam menjadi Gubernur DKI Jakarta. “Beliau menelpon, mengatakan minat nggak jadi Gubernur DKI. Jadi nggak benar beliau yang menjadikan,” tutur Razman.
Pernyataan ini menjadi salah satu poin yang memperkuat bantahan terhadap klaim peran besar Jusuf Kalla dalam perjalanan politik Jokowi. Razman juga menjelaskan bahwa proses pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta melibatkan komunikasi lintas tokoh, termasuk Prabowo Subianto melalui adiknya, Hashim Djojohadikusumo.
“Pak Prabowo berkomunikasi dengan Pak Hasim. Pak Hashim komunikasi dengan Pak Jokowi. Sehingga ada pertemuan satu dua kali di salah satu tempat di Jakarta untuk menggodok calon gubernur,” jelasnya.

Proses Politik Disebut Libatkan Banyak Pihak
Razman menegaskan bahwa penentuan Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden bukanlah keputusan pribadi Jokowi, melainkan hasil mekanisme partai pengusung. “Komunikasi dengan Pak JK iya tapi sekali. Kalau ada bahasa menjadikan presiden atau menjadikan gubernur nggak benar. Apalagi untuk menentukan cawapres, Pak Jokowi tidak ikut-ikut,” tambahnya.
Selain itu, Razman menegaskan bahwa kemenangan Jokowi dalam dua periode pemilihan presiden merupakan hasil pilihan rakyat melalui proses demokrasi yang sah. “Beliau paham bahwa dia hanya diajukan. Dia tidak punya kepentingan untuk memilih calon melakukan sesuatu untuk bangsa yang negatif tidak. Yang pasti Pak Jokowi dipilih rakyat karena dianggap mumpuni menjadi presiden dan dua periode menjadi presiden,” jelas Razman.
Sosok Razman Nasution
Rekam jejak Razman Arif Nasution sebagai seorang advokat atau pengacara sudah sangat panjang. Ia pernah menjadi Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Partai Demokrat kubu Moeldoko. Selain itu, dia juga pernah menjadi pengacara warga Kalijodo dan kuasa hukum penguasa Kalijodo Daeng Azis saat penggusuran oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Selain berprofesi sebagai seorang pengacara, Razman juga aktif dalam dunia politik. Dia tercatat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal dari Fraksi Partai Golkar dari tahun 1999 hingga tahun 2004. Ia juga tercatat sebagai anggota DPRD Kabupaten Mandailing Nala dari Partai Karya Peduli Bangsa atau PKPB periode 2004-2009.
Sebelum bergabung dengan PKPB, dia adalah kader Partai Golkar. Tercatat, Razman pernah menjadi Anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal dari Partai Golkar periode 1999-2004. Razman Arif Nasution ternyata juga sempat menjadi wartawan harian Medan Pos dan Majalah Detektif pada tahun 1992-1998.
Jawaban Jokowi Usai Jusuf Kalla Klaim Jadikan Dia Presiden
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) hanya berkomentar singkat saat ditanya mengenai pernyataan Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyebut dia menjadi presiden karena jasa JK. Sebelumnya, JK mengeklaim bahwa tanpa dorongannya kepada Megawati, Jokowi mungkin tidak akan pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta ataupun Presiden.
Tanpa mau berpolemik atas klaim JK, Jokowi memilih merendah. Ia mengaku bukan sosok istimewa dan berasal dari latar belakang sederhana. “Ya saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung,” ungkap Jokowi saat ditemui di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Solo, Senin (20/4/2026).
Diketahui, hubungan politik antara Jusuf Kalla dan Jokowi telah terjalin sejak lama, terutama saat keduanya berpasangan sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014–2019. Terbaru, Jusuf Kalla yang masuk dalam polemik tudingan ijazah palsu Jokowi mengungkit jasanya saat Pilkada Jakarta tahun 2014 silam.
JK mengklaim dia lah yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta. “Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi Gubernur. Saya bawa. Saya ke Ibu Mega, ‘Ibu ini ada calon baik orang PDIP’. (Megawati menjawab) ‘Ah jangan’. Saya datang lagi, akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur,” ungkap JK di Kebayoran Baru, Sabtu (18/4/2026).
JK bahkan memberikan pernyataan keras yang ditujukan kepada para relawan atau buzzer yang kerap disebutnya dengan istilah “termul”. “Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?” tegas JK dengan nada lantang.
JK juga membeberkan bahwa pada Pilpres 2014, Megawati sempat bersikeras tidak akan memberikan tiket capres jika JK tidak bersedia mendampingi sebagai cawapres. “Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang jangan, ‘Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf’ Ya bukan saya minta, bukan,” kenang JK.
Ia menutup klarifikasinya dengan menegaskan alasan Megawati memintanya turun gunung. “Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzzer-buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya,” pungkasnya.







