Keistimewaan Bulan Muharram dan Amalan yang Dianjurkan
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam Islam, bulan ini termasuk dalam empat bulan haram yang memiliki keistimewaan tersendiri. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh KH A Muzaini Aziz Lc., M.A., Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang, dijelaskan bahwa salah satu amalan utama di bulan Muharram adalah puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan besar, yaitu menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu.
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram sebagai penyempurna ibadah puasa Asyura. Melalui momentum Muharram, kaum muslimin diajak untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan menjadikan tahun baru Hijriah sebagai awal untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Keutamaan Puasa Asyura dan Mengapa Bulan Muharram Istimewa?
Berikut teks khutbah yang disampaikan:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama yang lurus dan memberikan jalan yang benar. Allah berjanji kepada siapa saja yang tetap berada di jalan tersebut akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang besar. Dan Allah mengancam orang-orang yang menyimpang dari jalan tersebut dengan azab yang pedih. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yang menjadi penolong bagi orang-orang yang baik. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, serta sahabat-Nya dari makhluk-Nya.
Ya Allah, limpahkan rahmat dan berkah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya, serta kepada siapa pun yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga akhir hayat. Berikan keselamatan kepada mereka dengan banyak sekali salam.
Saya berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri, wahai saudara-saudara yang baik, agar bertakwa kepada Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS Ali Imran [03] ayat 102)
Kita semua harus bersyukur karena Allah masih memberi kita kesempatan untuk hidup di tahun baru 1447 Hijriyah. Nafas kehidupan yang Allah berikan hanya bertujuan agar kita dapat lebih baik dalam beribadah kepada-Nya dibanding tahun-tahun yang telah lewat.
Saat ini kita tengah berada di bulan Muharram, salah satu dari 4 bulan suci dalam syariat Islam, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Rajab, dan Muharram. Allah SWT berfirman di dalam Surah At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya.”
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan: Tiga bulan berturut-turut; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram, lalu Rajab Mudhar yang terdapat di antara bulan Jumada (At-Tsaniyah) dan Sya’ban.”
Allah SWT melarang kita untuk menodai kehormatan empat bulan mulia ini, sebagaimana firman-Nya di dalam Surah Al-Maidah ayat 2:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi’ar-syi’ar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram …”
Di antara keistimewaan empat bulan haram ini (termasuk bulan Muharram) adalah bahwa Allah menjadikan setiap perbuatan zalim dan kemaksiatan yang dilakukan pada bulan-bulan ini lebih besar dosanya dibanding di bulan-bulan lainnya. Demikian juga Allah jadikan setiap amal saleh yang dilakukan di bulan-bulan ini lebih besar pahalanya dibanding di delapan bulan lainnya.
Puasa Asyura dan Puasa Tasu’a
Di antara jenis ibadah yang dianjurkan untuk kita perbanyak di bulan Muharram adalah puasa. Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (HR. Muslim)
Di antara hari-hari di bulan Muharram, tanggal 10 Muharram atau yang biasa disebut hari Asyura memiliki keistimewaan tersendiri. Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa pada hari Asyura aku berharap Allah akan mengampuni (dosa-dosa) setahun yang telah lalu” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Di samping puasa sunnah Asyura pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah SAW juga mensunnahkan kepada kita untuk berpuasa pada tanggal 9 dan/atau 11 Muharram, agar puasa kita berbeda dengan tradisi puasa orang-orang Yahudi.
Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Puasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi (yaitu dengan) berpuasalah kalian satu hari sebelumnya (9 Muharram) dan satu hari sesudahnya (11 Muharram).” (HR. Ahmad)
Dari dalil-dalil di atas, kemudian as-Syeikh Sayyid Sabiq di dalam kitab Fiqhus Sunnah-nya menyimpulkan bahwa yang paling utama adalah puasa sunnah 3 hari, yaitu pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Di bawahnya adalah puasa sunnah 2 hari pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Dan yang paling minimal adalah puasa sunnah hanya 1 hari pada tanggal 10 Muharram.
Penutup
Demikianlah sekelumit tentang bulan-bulan haram atau mulia, lebih spesifik tentang bulan Muharram dan lebih spesifik lagi tentang hari Asyura atau tanggal 10 Muharram. Semoga kita semua dapat menggunakan berbagai kesempatan emas yang Allah SWT sediakan kepada kita untuk memaksimalkan ibadah kita kepada Allah SWT, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.







