Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Janji Tavares untuk Bonek dan Bonita! Persebaya Incar Kemenangan Lawan Arema FC di Derbi Jawa Timur

    30 April 2026

    Wonosobo tingkatkan literasi digital, Gubernur Ahmad Luthfi dorong masyarakat paham hoaks

    30 April 2026

    JPE Juara Proliga 2026, Tundukkan Gresik Phonska

    30 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Kamis, 30 April 2026
    Trending
    • Janji Tavares untuk Bonek dan Bonita! Persebaya Incar Kemenangan Lawan Arema FC di Derbi Jawa Timur
    • Wonosobo tingkatkan literasi digital, Gubernur Ahmad Luthfi dorong masyarakat paham hoaks
    • JPE Juara Proliga 2026, Tundukkan Gresik Phonska
    • Prabowonomics: Dari Ekonomi Artifisial ke Fundamental
    • Pengungkapan Pinjol yang Menipu Damkar Semarang
    • Sholawat Ilahi Bijahil Anbiya: Tulisan Latin dan Terjemahan
    • Orang Cantik Semakin Tua, Ini 7 Kebiasaan Harian yang Mereka Lakukan
    • Panduan makan sebelum lari jarak jauh, bukan sekadar kenyang
    • Brush Make Up: Tips Membersihkan dengan Benar hingga Usia Panjang
    • Penginapan Indah dekat Pantai Pandan Anyer dengan Pemandangan Sunset Menakjubkan
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Pendidikan»Kisah Nur Sahati: Patahkan Rantai Nikah Dini dan Kemiskinan Anak TKI dengan Pendidikan Tinggi

    Kisah Nur Sahati: Patahkan Rantai Nikah Dini dan Kemiskinan Anak TKI dengan Pendidikan Tinggi

    adm_imradm_imr26 Januari 20262 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perjalanan Seorang Remaja dari Sabah ke Indonesia

    Nur Sahati Sahara, seorang siswi kelas XI IPS di SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Jawa Timur, memiliki mimpi besar untuk melanjutkan studi di Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan jurusan Psikologi. Meski masih ada satu tahun lagi hingga ia bisa mewujudkan impian tersebut, ia tidak ingin berpangku tangan.

    Selain rajin belajar, Sahara juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti English Club, menghafal Al Quran, dan berkuda. Ia mengatakan bahwa keinginannya menjadi psikolog berasal dari kecintaannya untuk memahami permasalahan orang lain dan membantu mereka.

    Namun, jika cita-citanya kuliah di Unhas tidak terwujud, Sahara memiliki rencana cadangan. Ia ingin melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan jurusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Tujuannya adalah ingin mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar yang sulit diakses, seperti para guru yang dulu menginspirasinya.

    Kehidupan di Tengah Keterbatasan

    Sahara lahir pada tahun 2008 di Sabah, Malaysia, di sebuah kawasan perkebunan sawit. Orang tuanya bekerja sebagai tukang kayu yang membuat rumah bagi pekerja migran Indonesia di ladang tersebut. Kedua orang tua Sahara merantau sejak tahun 1998 dan masih bekerja di Negara Bagian Sabah hingga saat ini.

    Sahara tumbuh sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Satu kakaknya saat ini sedang kuliah di Yogyakarta, sementara kakak kedua memilih bekerja di Balikpapan untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Salah satu adiknya saat ini bersekolah di Jawa Tengah dengan fasilitas beasiswa dari program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).

    Sahara menghabiskan masa kecil dan remajanya di Community Learning Center (CLC), sekolah formal bagi anak-anak TKI di Sabah. Dari kelas 3 SD hingga kelas 9, ia belajar di CLC yang jauh dari gambaran sekolah ideal. Jumlah guru sangat terbatas, dan hanya tiga guru yang mengajar semua kelas, dari SD sampai kelas 9.

    Salah satu guru yang memberikan inspirasi bagi Sahara adalah Pak Adi Arkono, seorang guru Indonesia yang mengabdi tanpa mengambil gaji sepeser pun. Ia mengajar di ruang kelas yang dibuat dari bekas bangunan perusahaan, sehingga menanamkan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas.

    Masa Depan yang Diusahakan

    Sahara mengaku tidak percaya ketika akhirnya bisa menginjakkan kaki di Indonesia dan masuk ke SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan. Dari 14 siswa rekannya di Sabah hanya 7 siswa yang bisa melanjutkan sekolah ke Indonesia.

    Fasilitas di sekolah baru ini jauh lebih baik dibandingkan CLC di Sabah. Di CLC, pelajaran TIK hanya menggunakan tiga laptop untuk semua kelas, sementara di SMA IIS PSM Magetan semuanya tersedia.

    Sahara mengatakan bahwa mendapatkan beasiswa adalah tiket untuk mencapai masa depan. Ia mengakui bahwa mencari sekolah menengah atas di ladang sawit Negara Bagian Sabah Malaysia tidak mudah. Selain harus berada di kota besar, biaya yang diperlukan juga cukup besar.

    Pesan dari Orang Tua

    Di balik keteguhan Sahara, ada pesan keras dari ayahnya yang meskipun hanya lulusan SD, namun selalu mendorong anak-anaknya untuk bisa mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Ayahnya pernah melarang kakak pertama Sahara berhenti sekolah karena demi membantu ekonomi keluarga. Ia bilang, biar bapak saja yang kerja, kalian fokus sekolah.

    Prinsip itu dipegang teguh oleh seluruh anak dalam keluarga. Pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan kerja kasar di ladang sawit di Sabah Malaysia.

    Sahara juga memperkuat sisi spiritual dengan hafalan Al Quran sebagai bukti bahwa ia tekun membekali diri dengan semua ilmu yang dibutuhkan untuk menyambung cita-citanya di perguruan tinggi pilihan.

    Meski 3 tahun tak akan pernah bertemu dengan orang tuanya, Sahara mengaku keberhasilannya akan menjadi investasi yang penting bagi kehidupan kedua orang tuanya. Aturannya memang 3 tahun tidak boleh pulang, tapi masih bisa video call seminggu bisa 3 kali.

    Perjuangan yang Berbuah Harapan

    Gebya, Kepala SMA IIS PSM, yang juga merupakan penggagas gerakan Sabah Bridge pada tahun 2015 lalu, melihat banyak lulusan SMP di CLC terancam menikah muda, bekerja di kebun, atau terjebak dalam lingkar kemiskinan karena tidak memiliki akses pendidikan lanjutan.

    Upaya pertama pada tahun 2016 berhasil membawa 27 anak pulang meski penuh rintangan, mulai dari ketiadaan paspor hingga kegagalan terbang karena visa. Perjuangan itu akhirnya mendapat perhatian pemerintah dan menjadi cikal bakal Beasiswa Repatriasi yang kemudian masuk dalam program ADEM Repatriasi dengan pembiayaan penuh bagi anak-anak TKI.

    Program ini memutus rantai pernikahan dini di lingkungan pekerja ladang sawit di Sabah. Anak-anak punya alasan yang kuat untuk menolak dinikahkan dan memilih sekolah. Dengan pendidikan, mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    7 tanda khas orang benar-benar intelektual, bukan hanya terlihat cerdas

    By adm_imr29 April 20261 Views

    Nongkrong di Jam Sekolah, 9 Siswa Terjaring Razia: Polisi Lindungi Generasi Muda

    By adm_imr29 April 20261 Views

    Universitas Muhammadiyah Papua Luluskan 22 Magister Komunikasi Pertama di Tanah Papua

    By adm_imr29 April 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Janji Tavares untuk Bonek dan Bonita! Persebaya Incar Kemenangan Lawan Arema FC di Derbi Jawa Timur

    30 April 2026

    Wonosobo tingkatkan literasi digital, Gubernur Ahmad Luthfi dorong masyarakat paham hoaks

    30 April 2026

    JPE Juara Proliga 2026, Tundukkan Gresik Phonska

    30 April 2026

    Prabowonomics: Dari Ekonomi Artifisial ke Fundamental

    30 April 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Karcis Masuk Pantai Pasir Panjang Disorot, Transparansi Retribusi Dipertanyakan

    7 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?