Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Mudik 2026 Lebih Digital, Cek Tarif Tol dan CCTV Rest Area via Google Maps dan Travoy

    18 Februari 2026

    5 Film Shin Se Kyung yang Wajib Ditonton, Terbaru Humint!

    18 Februari 2026

    Daftar Wakil Mundur di German Open 2026 – Axelsen Tidak Pasti Pertahankan Gelar, Indonesia Tak Kirim Wakil

    18 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 18 Februari 2026
    Trending
    • Mudik 2026 Lebih Digital, Cek Tarif Tol dan CCTV Rest Area via Google Maps dan Travoy
    • 5 Film Shin Se Kyung yang Wajib Ditonton, Terbaru Humint!
    • Daftar Wakil Mundur di German Open 2026 – Axelsen Tidak Pasti Pertahankan Gelar, Indonesia Tak Kirim Wakil
    • Berita Terkini: PSIR Rembang Dikucilkan Akibat Keributan di Semifinal Liga 4 Jateng
    • Respons kaget Amanda Manopo saat tahu Fajar Sadboy diludahi Indra Frimawan: Serius atau canda?
    • 5 Pemain Kunci Bhayangkara FC Hadapi Persebaya! Paul Munster Optimis Buat Bonek Menangis
    • 5 Bursa Kripto Futures Terkemuka Dunia
    • Lokasi Polwan Dianita Simpan Koper Narkoba AKBP Didik Terungkap, Hanya Penuhi Perintah Atasan
    • Jadwal Imsak 1-5 Ramadan 1447 H di 7 Wilayah Priangan
    • 7 Manfaat Air Rebusan Daun Kelor, Herba Kaya Nutrisi
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Pendidikan»Kisah Nur Sahati: Patahkan Rantai Nikah Dini dan Kemiskinan Anak TKI dengan Pendidikan Tinggi

    Kisah Nur Sahati: Patahkan Rantai Nikah Dini dan Kemiskinan Anak TKI dengan Pendidikan Tinggi

    adm_imradm_imr26 Januari 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perjalanan Seorang Remaja dari Sabah ke Indonesia

    Nur Sahati Sahara, seorang siswi kelas XI IPS di SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Jawa Timur, memiliki mimpi besar untuk melanjutkan studi di Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan jurusan Psikologi. Meski masih ada satu tahun lagi hingga ia bisa mewujudkan impian tersebut, ia tidak ingin berpangku tangan.

    Selain rajin belajar, Sahara juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti English Club, menghafal Al Quran, dan berkuda. Ia mengatakan bahwa keinginannya menjadi psikolog berasal dari kecintaannya untuk memahami permasalahan orang lain dan membantu mereka.

    Namun, jika cita-citanya kuliah di Unhas tidak terwujud, Sahara memiliki rencana cadangan. Ia ingin melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan jurusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Tujuannya adalah ingin mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar yang sulit diakses, seperti para guru yang dulu menginspirasinya.

    Kehidupan di Tengah Keterbatasan

    Sahara lahir pada tahun 2008 di Sabah, Malaysia, di sebuah kawasan perkebunan sawit. Orang tuanya bekerja sebagai tukang kayu yang membuat rumah bagi pekerja migran Indonesia di ladang tersebut. Kedua orang tua Sahara merantau sejak tahun 1998 dan masih bekerja di Negara Bagian Sabah hingga saat ini.

    Sahara tumbuh sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Satu kakaknya saat ini sedang kuliah di Yogyakarta, sementara kakak kedua memilih bekerja di Balikpapan untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Salah satu adiknya saat ini bersekolah di Jawa Tengah dengan fasilitas beasiswa dari program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).

    Sahara menghabiskan masa kecil dan remajanya di Community Learning Center (CLC), sekolah formal bagi anak-anak TKI di Sabah. Dari kelas 3 SD hingga kelas 9, ia belajar di CLC yang jauh dari gambaran sekolah ideal. Jumlah guru sangat terbatas, dan hanya tiga guru yang mengajar semua kelas, dari SD sampai kelas 9.

    Salah satu guru yang memberikan inspirasi bagi Sahara adalah Pak Adi Arkono, seorang guru Indonesia yang mengabdi tanpa mengambil gaji sepeser pun. Ia mengajar di ruang kelas yang dibuat dari bekas bangunan perusahaan, sehingga menanamkan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas.

    Masa Depan yang Diusahakan

    Sahara mengaku tidak percaya ketika akhirnya bisa menginjakkan kaki di Indonesia dan masuk ke SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan. Dari 14 siswa rekannya di Sabah hanya 7 siswa yang bisa melanjutkan sekolah ke Indonesia.

    Fasilitas di sekolah baru ini jauh lebih baik dibandingkan CLC di Sabah. Di CLC, pelajaran TIK hanya menggunakan tiga laptop untuk semua kelas, sementara di SMA IIS PSM Magetan semuanya tersedia.

    Sahara mengatakan bahwa mendapatkan beasiswa adalah tiket untuk mencapai masa depan. Ia mengakui bahwa mencari sekolah menengah atas di ladang sawit Negara Bagian Sabah Malaysia tidak mudah. Selain harus berada di kota besar, biaya yang diperlukan juga cukup besar.

    Pesan dari Orang Tua

    Di balik keteguhan Sahara, ada pesan keras dari ayahnya yang meskipun hanya lulusan SD, namun selalu mendorong anak-anaknya untuk bisa mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Ayahnya pernah melarang kakak pertama Sahara berhenti sekolah karena demi membantu ekonomi keluarga. Ia bilang, biar bapak saja yang kerja, kalian fokus sekolah.

    Prinsip itu dipegang teguh oleh seluruh anak dalam keluarga. Pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan kerja kasar di ladang sawit di Sabah Malaysia.

    Sahara juga memperkuat sisi spiritual dengan hafalan Al Quran sebagai bukti bahwa ia tekun membekali diri dengan semua ilmu yang dibutuhkan untuk menyambung cita-citanya di perguruan tinggi pilihan.

    Meski 3 tahun tak akan pernah bertemu dengan orang tuanya, Sahara mengaku keberhasilannya akan menjadi investasi yang penting bagi kehidupan kedua orang tuanya. Aturannya memang 3 tahun tidak boleh pulang, tapi masih bisa video call seminggu bisa 3 kali.

    Perjuangan yang Berbuah Harapan

    Gebya, Kepala SMA IIS PSM, yang juga merupakan penggagas gerakan Sabah Bridge pada tahun 2015 lalu, melihat banyak lulusan SMP di CLC terancam menikah muda, bekerja di kebun, atau terjebak dalam lingkar kemiskinan karena tidak memiliki akses pendidikan lanjutan.

    Upaya pertama pada tahun 2016 berhasil membawa 27 anak pulang meski penuh rintangan, mulai dari ketiadaan paspor hingga kegagalan terbang karena visa. Perjuangan itu akhirnya mendapat perhatian pemerintah dan menjadi cikal bakal Beasiswa Repatriasi yang kemudian masuk dalam program ADEM Repatriasi dengan pembiayaan penuh bagi anak-anak TKI.

    Program ini memutus rantai pernikahan dini di lingkungan pekerja ladang sawit di Sabah. Anak-anak punya alasan yang kuat untuk menolak dinikahkan dan memilih sekolah. Dengan pendidikan, mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Indonesia Women Fest tingkatkan pendidikan keluarga melalui Bina Maternity Class

    By adm_imr16 Februari 20260 Views

    Dukung Peningkatan Kualitas Pendidikan, Nawal Kawal Revitalisasi 980 PAUD Jateng

    By adm_imr16 Februari 20260 Views

    Bocah di Subang keluhkan sekolah bau kotoran ayam, kondisi memprihatinkan dilihat Dedi Mulyadi

    By adm_imr16 Februari 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Mudik 2026 Lebih Digital, Cek Tarif Tol dan CCTV Rest Area via Google Maps dan Travoy

    18 Februari 2026

    5 Film Shin Se Kyung yang Wajib Ditonton, Terbaru Humint!

    18 Februari 2026

    Daftar Wakil Mundur di German Open 2026 – Axelsen Tidak Pasti Pertahankan Gelar, Indonesia Tak Kirim Wakil

    18 Februari 2026

    Berita Terkini: PSIR Rembang Dikucilkan Akibat Keributan di Semifinal Liga 4 Jateng

    18 Februari 2026
    Berita Populer

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    Kabupaten Malang 6 Februari 2026

    Kabupaten Malang– Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menggeledah Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten…

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026

    Kabar Transfer: AC Milan Beralih dari Vlahovic ke Striker Nomor 9

    9 Februari 2026

    10 Twibbon Ramadhan 2026, Unduh dan Edit Foto Mudah di Twibbonize

    15 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?