Langkah Pemerintah Kota Surabaya dalam Perlindungan dan Pemberdayaan Ojol Perempuan
Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya memberikan perlindungan dan pemberdayaan ekonomi bagi 1.008 pengemudi ojek online (ojol) perempuan. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko kecelakaan kerja sekaligus memutus potensi kemiskinan baru yang bisa muncul akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Salah satu upaya utama adalah dengan mendaftarkan para ojol perempuan tersebut ke dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Dengan adanya jaminan sosial ini, diharapkan mereka dapat memiliki perlindungan lebih baik dalam menjalani pekerjaannya. Selain itu, pemerintah juga memberikan pelatihan keterampilan usaha mandiri agar mereka bisa beralih dari aktivitas di jalanan ke rumah.
Jaminan Ketenagakerjaan dan Santunan
Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya mencatat bahwa jumlah pengemudi ojol di Surabaya mencapai antara 21.000 hingga 22.000 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.008 di antaranya adalah perempuan yang membutuhkan perhatian khusus. Kepala Disperinaker Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro, mengatakan bahwa pekerjaan sebagai pengemudi roda dua memiliki risiko tinggi, sehingga intervensi utama yang dilakukan adalah memberikan perlindungan melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
“Ojol roda dua ini memiliki risiko besar. Jadi, intervensi kami di Disperinaker yang utama adalah memberikan mereka jaminan untuk pekerjaannya,” ujar Hebi ketika dikonfirmasi di Surabaya. Lebih dari 10 pengemudi ojol telah menerima manfaat nyata dari program ini, seperti santunan kematian hingga beasiswa pendidikan anak sampai perguruan tinggi.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi munculnya kemiskinan baru saat tulang punggung keluarga mengalami musibah. “Kita ikutkan BPJS Ketenagakerjaan untuk mengurangi risiko ada kemiskinan baru,” tambahnya.
Pelatihan Keterampilan dan Mental Usaha
Selain perlindungan sosial, Disperinaker juga menyiapkan program peningkatan keterampilan bagi pengemudi ojol perempuan. Langkah ini diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan agar memiliki peluang bekerja dari rumah.
Agus Hebi menjelaskan bahwa jika para peserta membutuhkan latihan menjahit atau keterampilan lainnya, pihaknya siap membantu. “Kalau misalnya mereka butuh latihan menjahit dan sebagainya, kita welcome. Kelompok-kelompok, (misal) 20 (orang) bisa kita tindaklanjuti,” ujarnya.
Namun, bantuan peralatan dinilai belum cukup tanpa didampingi pembentukan mentalitas yang kuat. “Jika hanya dikasih sarana prasarana tanpa software, maka tidak akan berjalan dengan baik meskipun didampingi dan sebagainya,” katanya.
Di sisi lain, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya juga memperluas jangkauan pendampingan. Kepala DP3A-PPKB, Ida Widayati, menyatakan bahwa program pemberdayaan tidak hanya menyasar ojol perempuan, tetapi juga perempuan penyandang disabilitas.
Tantangan Mengubah Pola Pikir
Pendampingan terhadap pengemudi ojol perempuan ini sudah berjalan sejak tahun lalu. Pada 2025, sekitar 150 pengemudi perempuan memperoleh pelatihan seperti cooking class, makeup artist, hingga pemeriksaan kesehatan reproduksi. Program ini merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, agar ojol perempuan mengurangi waktu di jalan.
“Arahan Pak Wali adalah agar perempuan Ojol ini mengurangi waktunya di jalan. Jadi boleh berkegiatan tetap menjadi Ojol, tetapi lebih dikurangi waktunya,” ujarnya.
Namun, hasil dari pelatihan ini membutuhkan waktu dan proses untuk bisa meningkatkan pendapatan secara signifikan. “Memang perlu proses dan waktu, tidak serta-merta setelah kita lakukan pelatihan kemudian mereka bisa lepas dengan peningkatan ekonominya signifikan,” kata Ida.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun semangat dan daya juang para peserta. Penghasilan harian dari ojol yang cepat dirasa berbeda dengan usaha mandiri yang membutuhkan proses bertahap.
Ida menceritakan contoh kasus pendampingan pasangan suami istri ojol yang anaknya butuh pengobatan rutin. Pemkot memberikan pelatihan dan bantuan mesin jahit, tetapi hasilnya belum maksimal karena terkendala motivasi.
“Nah itu yang masih menjadi salah satu PR-nya buat kami,” katanya.






