Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Laga Derbi Sumatera PSMS Medan vs Sriwijaya FC Dimulai Pukul 19.00 WIB

    26 April 2026

    Strategi licik pemuda Probolinggo raup Rp91 juta dari beras palsu

    26 April 2026

    Orang Lahir 3 Bulan Ini Dikatakan Sukses Finansial, Apakah Anda Termasuk?

    26 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 26 April 2026
    Trending
    • Laga Derbi Sumatera PSMS Medan vs Sriwijaya FC Dimulai Pukul 19.00 WIB
    • Strategi licik pemuda Probolinggo raup Rp91 juta dari beras palsu
    • Orang Lahir 3 Bulan Ini Dikatakan Sukses Finansial, Apakah Anda Termasuk?
    • Pasangan muda ditangkap polisi di Lubuklinggau
    • Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini: Berawan, Udara Kabur di Lawang-Singosari
    • Resep bakso sapi kenyal, lezat, dan sehat ala rumahan
    • Pulau Penyengat: Jembatan Sejarah Raja Ali Haji di Tanjungpinang
    • Kenalan dengan ‘Doom-Rom’, Cinta dalam Film yang Lebih Nyata
    • Korsel: Korea Utara Uji Coba Rudal Saat Iran Tutup Selat Hormuz
    • Ternyata Bersihkan Karbon di Mesin Mobil Bekas Bisa Dilakukan dengan Cara Ini
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kesehatan»Kisah perjuangan ahli gizi di lapangan: Misi kemanusiaan vs. tantangan praktik

    Kisah perjuangan ahli gizi di lapangan: Misi kemanusiaan vs. tantangan praktik

    adm_imradm_imr31 Januari 20262 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perjalanan Seorang Ahli Gizi yang Berjuang di Balik Layar Kesehatan

    Bagi sebagian orang, menjadi ahli gizi mungkin hanya terlihat seperti menyusun daftar makanan atau menghitung kalori di atas kertas. Namun bagi Nahthadia Gita Sodrina, S.Gz, profesi ini adalah panggilan jiwa yang membawanya masuk ke gang-gang sempit hingga mengetuk pintu rumah warga yang nyaris kehilangan harapan.

    Delapan tahun berkarier sebagai ahli gizi, Gita memahami satu hal. Gizi bukan sekadar soal angka, tapi soal keberlangsungan hidup manusia. Minatnya menjadi ahli gizi tumbuh dari rasa penasaran seorang bocah SD yang gemar membaca informasi nilai gizi di balik kemasan makanan. Siapa sangka, hobi kecil ini menuntunnya hingga akhirnya terjun penuh sebagai tenaga kesehatan di garda terdepan.

    Namun, dunia kerja memberinya pelajaran yang tak ada di buku teks. Menjadi ahli gizi ternyata harus memahami anatomi, psikologi, hingga seni berkomunikasi. “Hal penting yang harus diperhatikan adalah ketelitian tinggi, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan,” tuturnya. Ia percaya, tanpa etika dan komunikasi yang baik, ilmu gizi hanyalah teori yang sulit menyentuh hati masyarakat.

    Aksi “Jemput Bola” di Pelosok Bogor

    Salah satu pengalaman paling emosional dalam perjalanan kariernya ialah saat ia bertugas di sebuah Puskesmas di Kabupaten Bogor. Ia bertemu dengan seorang batita yang kondisinya sangat memprihatinkan: gizi buruk, menderita Tuberkulosis, dan tinggal di hunian dengan sanitasi yang jauh dari kata layak.

    “Waktu itu pasiennya emang ada kelainan paru-paru bawaan, dan orang tuanya juga kurang mampu. Jadi setelah lahir gak dirawat secara intensif dengan kontrol ke rumah sakit gitu juga engga, gak mau urus BPJS juga orgtuanya. Anaknya cuma dikasih susu formula padahal usianya sudah setahun, rumahnya gak layak, sanitasinya buruk, susu formula dikasihnya terbatas, lainnya dikasih teh manis,” kenang Gita.

    Tak mau berpangku tangan melihat nyawa yang perlahan meredup, Gita beserta tim mengambil langkah. Ia melakukan aksi “jemput bola”. Gita mendatangi rumah mereka, mengurus BPJS, hingga mengantar jemput sang anak ke rumah sakit dengan tangannya sendiri. “Aku rutin jg ke rumahnya seminggu bisa dua kali atau dia dijemput dibawa ke puskesmas kalau aku lagi gak bisa datang ke rumahnya,” ungkapnya. Ketulusan itu pun berbuah manis. Status gizi sang anak perlahan pulih, seiring pulih penyakit TB yang diderita.

    Kerikil Tajam di Jalan Profesi

    Meski sarat dengan kepuasan batin, jalan yang ditempuh Gita tidak selalu mulus. Selain skeptisme masyarakat, ia kini harus berhadapan dengan tembok regulasi. Per 2024, lulusan S1 Gizi diwajibkan menempuh sekolah profesi tambahan untuk mendapatkan Surat Izin Praktik (SIP), sebuah aturan yang menurutnya memberatkan banyak rekan sejawat. “S1 gizi harus sekolah lagi profesi, kayak apoteker gitu. Jadi susah aja berkembangnya, kasian kan yang sudah terlanjur masuk S1 gizi mungkin passionnya kerja di klinis kayak RS atau di puskes gitu tapi jadi gak bisa,” keluhnya.

    Baginya, ini adalah tantangan besar di tengah ambisi pemerintah menggencarkan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Gita berharap, peran ahli gizi lebih diperkuat dalam kebijakan nasional, bukan justru dibatasi oleh birokrasi yang rumit.

    Sukacita dalam Pengabdian

    Walau beban kerja sering kali tak sebanding dengan penghargaan yang diterima, Gita tetap teguh. Baginya, melihat seorang ibu tersenyum karena anaknya kembali sehat, atau mendapatkan feedback positif dari pasien rumah sakit, adalah “upah” yang tak ternilai. Ahli gizi, di mata Gita, adalah penyambung lidah kesehatan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, semua orang butuh makan, dan semua orang berhak untuk hidup lebih sehat.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Pelajaran Kesembuhan Yulia Baltschun: Bangkit Setelah Dikhianati

    By adm_imr26 April 20262 Views

    Pengorbanan Arya Khan: Jual Dua Mobil untuk Biaya Pengobatan Anak Tiri di Singapura

    By adm_imr26 April 20261 Views

    Bahaya Vitamin D Berlebih: Mulai dari Suplemen hingga Risiko Serius

    By adm_imr25 April 20260 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Laga Derbi Sumatera PSMS Medan vs Sriwijaya FC Dimulai Pukul 19.00 WIB

    26 April 2026

    Strategi licik pemuda Probolinggo raup Rp91 juta dari beras palsu

    26 April 2026

    Orang Lahir 3 Bulan Ini Dikatakan Sukses Finansial, Apakah Anda Termasuk?

    26 April 2026

    Pasangan muda ditangkap polisi di Lubuklinggau

    26 April 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Karcis Masuk Pantai Pasir Panjang Disorot, Transparansi Retribusi Dipertanyakan

    7 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?