Peran Internal Audit dalam Membangun Kepercayaan
Internal Audit tidak hanya bertugas untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan dan regulasi, tetapi juga harus berperan dalam membangun kepercayaan organisasi melalui tata kelola, pengelolaan risiko, serta pengendalian yang efektif. Hal ini disampaikan oleh Angela Simatupang saat membuka IIA Indonesia National Conference 2026 di Surabaya, Rabu (19/8/2026).
Angela, Senior Partner dan Chief Strategy Officer RSM Indonesia sekaligus President of The Institute of Internal Auditors Indonesia (IIA Indonesia), menekankan bahwa kepercayaan tidak lahir dari sekadar pernyataan bahwa kondisi organisasi berjalan baik. “Internal Audit tidak menciptakan confidence dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tugas kita adalah membantu memastikan bahwa organisasi dan institusi kita memang layak untuk dipercaya,” ujarnya.
Di dunia usaha, kepercayaan memengaruhi keputusan untuk berinvestasi, bekerja sama, dan bertumbuh. Di sektor publik, kepercayaan berkaitan langsung dengan kepercayaan masyarakat terhadap institusi. Sekali hilang, kepercayaan akan jauh lebih sulit dan mahal untuk dibangun kembali.
Beyond Assurance Tetap Berpijak pada Independensi
Angela mengingatkan bahwa dorongan agar Internal Audit berkembang menjadi trusted advisor dan strategic partner tidak boleh mengurangi independensi maupun objektivitas profesi. “Beyond Assurance tidak berarti meninggalkan assurance. Kita hanya dapat bergerak melampaui assurance apabila fondasinya kuat—independensi terjaga, professional judgement dapat dipercaya, dan pekerjaan kita berkualitas,” lanjutnya.
Internal Audit perlu semakin memahami bisnis dan teknologi, membaca perkembangan risiko, serta memberikan insight yang relevan bagi organisasi. Namun, keterlibatan yang semakin dekat dengan pembahasan strategis tetap harus dibarengi dengan penjagaan independensi. “Justru independensi, objektivitas, dan keberanian profesionallah yang membuat suara Internal Audit bernilai bagi pimpinan organisasi, Dewan Komisaris, dan para pemangku kepentingan lainnya,” tegas Angela.
Teknologi dan AI sebagai Alat Bantu
Perubahan risiko yang semakin cepat menjadi tantangan tersendiri. Perkembangan artificial intelligence, ancaman siber, fraud, perubahan regulasi, hingga meningkatnya tuntutan terhadap kualitas institusi membuat profesi Internal Audit harus terus beradaptasi. Teknologi dapat membantu internal auditor mengolah data dalam jumlah besar, menemukan anomali, dan mengenali pola yang sebelumnya sulit ditemukan. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan professional judgement dan keberanian untuk menyampaikan temuan yang mungkin tidak ingin didengar.
“AI dapat membantu kita menemukan jawaban dengan lebih cepat. Namun, AI tidak akan memikul konsekuensi dari keberanian kita menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar. Tanggung jawab itu tetap berada pada kita,” ungkap Angela.
Profesional Indonesia Harus Berani Diukur Secara Global
Angela juga menekankan pentingnya benchmark global untuk memperkuat kualitas dan kredibilitas profesi Internal Audit Indonesia. Menurutnya, konteks hukum, tata kelola, dan karakteristik organisasi di Indonesia tetap harus dipahami. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengganti atau menurunkan standar profesional yang berlaku secara global.
“Kalau kita ingin profesional Indonesia diakui mampu bersaing secara global, kita juga harus berani diukur dengan benchmark yang digunakan secara global. Kematangan profesi tidak diukur dari banyaknya standar yang kita buat, tetapi dari kualitas dan konsistensi kita dalam menerapkannya,” beber Angela.
Konferensi IIA Indonesia National Conference 2026
Konferensi yang digelar pada bulan kemerdekaan di Surabaya tersebut berlangsung hingga Kamis (20/8/2026). Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk membahas kemampuan profesional Indonesia agar dapat berperan lebih kuat di tingkat global. Angela menegaskan bahwa profesional Indonesia tidak perlu meninggalkan konteks dan identitas nasional untuk memperoleh pengakuan internasional. Kemampuan, pengalaman, dan perspektif Indonesia justru perlu dibawa ke dalam percakapan global mengenai tata kelogi, risiko, dan Internal Audit.
Isu-isu yang Dibahas dalam Konferensi
Selama dua hari, IIA Indonesia National Conference 2026 membahas sejumlah isu yang memengaruhi organisasi saat ini, antara lain kondisi ekonomi dan geopolitik, governance, risk culture, ethics, sustainability, human capital, artificial intelligence, responsible technology, serta masa depan profesi Internal Audit.






