Inisiatif Dewan Perdamaian Gaza: Kontroversi dan Reaksi Internasional
Inisiatif yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membentuk Dewan Perdamaian Gaza memicu perdebatan internasional yang luas. Proyek ini, yang diluncurkan sebagai bagian dari rencana perdamaian Gaza, menarik perhatian dunia karena fokusnya pada rekonstruksi wilayah pasca-perang. Namun, inisiatif ini juga menghadirkan berbagai pertanyaan tentang legitimasi, multilateralisme, dan peran PBB dalam konflik global.
Penolakan Eropa terhadap Dewan Perdamaian
Spanyol dan Jerman menjadi dua negara yang secara tegas menolak bergabung dalam Dewan Perdamaian. Spanyol, yang dikenal dengan komitmen terhadap hukum internasional dan sistem PBB, menyatakan bahwa keputusan tersebut konsisten dengan prinsip multikulturalisme dan keadilan. Perdana Menteri Pedro Sanchez menegaskan bahwa keanggotaan dalam dewan tidak sejalan dengan pendekatan inklusif dalam penyelesaian konflik. Ia menyoroti bahwa Otoritas Palestina tidak dilibatkan dalam struktur dewan, sehingga dianggap tidak representatif.
Jerman juga menolak bergabung setelah meninjau dokumen resmi dari Washington. Dalam dokumen tersebut, Presiden AS diberikan wewenang luas dalam menentukan keanggotaan dan mekanisme pengambilan keputusan. Sumber diplomatik Eropa menyebut rancangan dewan ini bertentangan dengan prinsip multilateralisme, yang merupakan dasar dari tatanan global saat ini.
Penolakan kedua negara ini mencerminkan kekhawatiran banyak negara Eropa terhadap potensi dominasi satu negara dalam mekanisme perdamaian global. Mereka khawatir inisiatif ini bisa melemahkan peran PBB dan menciptakan tumpang tindih kewenangan.
Perspektif Timur Tengah
Di sisi lain, negara-negara Timur Tengah melihat Dewan Perdamaian sebagai peluang untuk mempercepat proses rekonstruksi Gaza. Fase kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah memungkinkan dimulainya pembangunan kembali wilayah yang hancur akibat konflik. Lebih dari 71.000 orang telah meninggal dalam konflik tersebut, dan masyarakat Gaza membutuhkan bantuan segera untuk pemulihan.
Dewan Perdamaian, menurut pendapat sebagian negara Timur Tengah, bisa menjadi kerangka kerja yang stabil dan terpusat untuk memastikan gencatan senjata berkelanjutan serta mencegah konflik kembali pecah. Namun, banyak pihak tetap khawatir tentang legitimasi dewan dan keterlibatan langsung Otoritas Palestina dalam pengambilan keputusan.
Keikutsertaan Indonesia
Indonesia menjadi salah satu negara yang resmi bergabung dalam Dewan Perdamaian. Presiden RI Prabowo Subianto hadir langsung dalam forum tersebut dan berdiri sejajar dengan sejumlah pemimpin dunia saat pengumuman keanggotaan diumumkan. Momen ini juga menandai interaksi langsung antara Prabowo dan Trump, termasuk jabat tangan di atas panggung bertuliskan “Board of Peace.”
Namun, pidato Trump tidak secara spesifik menyinggung isu Palestina maupun konflik di Timur Tengah, meskipun isu tersebut telah dibahas oleh pemimpin dunia lain sebelum forum. Trump menegaskan bahwa Dewan Perdamaian merupakan proyek besar yang realistis dan berdampak, namun tidak merinci proyek besar apa yang akan dijalankan.
Selain Indonesia, negara-negara seperti Pakistan, Mesir, Jordania, Uni Emirat Arab, Turki, Saudi Arabia, dan Qatar juga bergabung dalam dewan ini. Negara lain yang tergabung antara lain Bahrain, Maroko, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Belgia, Bulgaria, Kazakhstan, Kosovo, Mongolia, dan Paraguay.
Sorotan DPR RI
Keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian juga disorot oleh Komisi I DPR RI, yang membidangi urusan luar negeri dan pertahanan. Anggota Komisi I, Oleh Soleh dari Fraksi PKB, meminta penjelasan resmi pemerintah mengenai dasar dan arah kebijakan tersebut. Menurut Soleh, Indonesia harus memastikan partisipasinya konsisten dengan prinsip konstitusional politik luar negeri bebas dan aktif.
Ia menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak dapat dilepaskan dari prinsip keadilan. Penghormatan terhadap hukum internasional, hak asasi manusia, dan hak rakyat Palestina atas kemerdekaan harus menjadi prioritas. Oleh Soleh menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia harus bersifat substantif dan independen, bukan simbolik, serta tidak boleh digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan atau agenda politik sepihak.
Reaksi Internasional dan Kontroversi Diplomatik
Reaksi internasional terhadap Dewan Perdamaian sangat beragam. Penolakan Spanyol dan Jerman mencerminkan kekhawatiran sebagian besar Eropa terhadap dewan ini. Mereka menilai forum ini bisa melemahkan multilateralisme, menggeser peran PBB, dan membuka peluang dominasi AS dalam diplomasi perdamaian global.
Di sisi lain, beberapa negara Timur Tengah melihat forum ini sebagai kesempatan untuk mempercepat rekonstruksi Gaza, meningkatkan koordinasi bantuan kemanusiaan, dan memastikan stabilitas pasca-konflik. Namun, kontroversi tetap ada karena potensi dampak luas dewan ini terhadap sistem global dan prinsip multilateralisme.
Dewan Perdamaian Gaza menjadi salah satu proyek diplomatik paling kontroversial Trump, karena potensi dampak luasnya terhadap sistem global dan prinsip multilateralisme. Keberhasilan forum ini akan bergantung pada penerimaan komunitas internasional, kemampuan koordinasi dengan PBB, serta dampak nyata bagi warga Gaza.








