Kunci Jawaban PAI dan Budi Pekerti Kelas 10 Kurikulum Merdeka Halaman 87
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas kunci jawaban untuk soal-soal yang terdapat di halaman 87 dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 10 berdasarkan Kurikulum Merdeka. Topik utama yang dibahas adalah tentang ayat Q.S. al-Maidah/5:2 yang merupakan bagian dari kegiatan siswa Aktivitas 4.1. Berikut penjelasan lengkap mengenai ayat tersebut.
Pembelajaran Awal: Tadarus Al-Qur’an
Sebelum memulai pelajaran, siswa dianjurkan untuk melakukan tadarus Al-Qur’an terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan penghayatan terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan:
- Bacalah Q.S. al-Maidah/5:2 secara bersama-sama dengan tartil.
- Perhatikan hukum bacaan dan makharijul hurufnya agar bacaan sesuai dengan aturan tajwid.
Jawaban dan Penjelasan Ayat Q.S. al-Maidah/5:2
Ayat Q.S. al-Maidah/5:2 memiliki makna penting dalam konteks etika sosial dan nilai-nilai keagamaan dalam Islam. Berikut penjelasannya:
1. Teks Ayat Q.S. al-Maidah/5:2
Arab:
…وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Terjemahan:
“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”
2. Makna Kandungan Ayat
Ayat ini menyampaikan prinsip dasar etika sosial dalam Islam, yaitu Ta’awun (tolong-menolong). Adapun poin-poin pentingnya adalah sebagai berikut:
- Tolong-menolong dalam Kebajikan & Takwa: Umat Islam diperintahkan untuk saling bekerja sama dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
- Larangan Tolong-menolong dalam Dosa & Permusuhan: Dilarang keras membantu orang lain dalam kemaksiatan, kejahatan, atau tindakan yang merugikan orang lain.
- Perintah Takwa: Menegaskan bahwa segala interaksi sosial harus didasari oleh rasa takut dan tunduk kepada Allah agar terhindar dari siksaan-Nya yang pedih.
3. Hukum Bacaan (Tajwid)
Beberapa hukum tajwid yang terdapat dalam ayat ini antara lain:
- Mad Thabi’i: Pada kata “وَتَعَاوَنُوا” karena ada alif setelah fathah dan wau sukun setelah dammah. Dibaca panjang 2 harakat.
- Alif Lam Qomariyah: Pada kata “ٱلْبِرِّ”, karena huruf al bertemu dengan huruf ba. Dibaca jelas.
- Alif Lam Syamsiyah: Pada kata “ٱلْتَّقْوَىٰ”, karena huruf al bertemu dengan huruf ta. Huruf al dileburkan ke huruf berikutnya.
- Qalqalah Sugra: Pada kata “ٱلْتَّقْوَىٰ”, karena huruf qaf sukun berada di tengah kata. Dibaca memantul tipis.
- Lafadz Jalalah (Tafkhim): Pada kata “ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ”, dibaca tebal karena didahului harakat dammah.
- Ghunnah Musyaddadah: Pada kata “إِنَّ”, karena ada nun bertasydid. Dibaca berdengung.
4. Makharijul Huruf (Tempat Keluarnya Huruf)
Memperhatikan tempat keluarnya huruf sangat penting untuk memastikan bacaan yang benar dan fasih. Berikut beberapa contoh:
- Huruf ‘Ain (ع): Keluar dari tenggorokan bagian tengah (wasthul halq). Contoh pada kata “wa ta’awanu”.
- Huruf Ha (ح): Keluar dari tenggorokan bagian tengah. Harus dibedakan dengan huruf Kha atau Ha besar.
- Huruf Qaf (ق): Keluar dari pangkal lidah dekat tenggorokan yang menyentuh langit-langit lunak.
- Huruf Shad (ص): Keluar dari ujung lidah yang hampir menyentuh gigi seri bawah, menghasilkan suara desis yang tebal.
Kesimpulan
Kunci jawaban ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi siswa dalam memahami dan menjawab soal-soal yang terdapat di halaman 87. Meskipun jawaban yang diberikan bersifat alternatif, para siswa tetap dianjurkan untuk melakukan eksplorasi dan pemahaman lebih lanjut.







