Kondisi Tanah di Gombel Lama, Semarang
Sejumlah warga di wilayah Gombel Lama, Semarang, mengungkapkan kekhawatiran terkait retakan yang muncul pada rumah mereka. Video yang viral di media sosial menunjukkan kondisi tersebut, dengan narasi yang menyebutkan bahwa hal ini disebabkan oleh aktivitas pembangunan proyek di sekitar lokasi.
Beberapa proyek yang dikaitkan dengan permasalahan ini antara lain pembangunan mall terbesar di Indonesia dan perbaikan Jalan Gombel Lama. Namun, hingga saat ini, proyek mall belum dimulai. Aktivitas yang sedang berlangsung di kawasan tersebut masih berupa pematangan lahan dan penguatan lereng, bukan tahap pembangunan mal atau bangunan komersial lainnya.
Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang menjelaskan bahwa pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini merupakan tahap awal dari rencana pembangunan kawasan Pakuwon di Gombel Lama. Pekerjaan tersebut difokuskan pada peningkatan stabilitas tanah melalui pemasangan struktur penahan lereng menggunakan metode borpile sebagai bagian dari upaya mitigasi potensi pergerakan tanah di kawasan tersebut.
Kepala Distaru Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, menjelaskan bahwa dalam dua tahun terakhir, kawasan Gombel Lama telah terpasang sensor inclinometer dan piezometer pada 20 titik pantau. Sensor-sensor ini digunakan untuk mendeteksi pergerakan tanah serta mengukur muka air tanah dan tekanan fluida.
Pemantauan dilakukan secara berkala, dengan interval waktu setiap dua minggu sekali, sehingga deformasi sekecil apa pun pada lapisan tanah terdalam dapat langsung terdeteksi dan diantisipasi sejak dini sebelum memicu pergerakan yang lebih masif.
Ferry juga menegaskan bahwa pekerjaan yang saat ini terlihat di lapangan masih berupa tahapan persiapan dan penguatan lahan. “Jadi yang sekarang dilaksanakan itu adalah proses pematangan lahan, bukan proses pembangunan mall,” katanya.
Selain pekerjaan pematangan lahan, di lokasi yang berdekatan, pemerintah pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta juga sedang melakukan perbaikan Jalan Gombel Lama. Jalan ini merupakan ruas jalan nasional nomor 091 berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 1688/KPTS/M/2022.
Karena kedua pekerjaan berada dalam satu koridor kawasan, penanganan dilakukan secara terkoordinasi agar sistem drainase, perlindungan lereng, dan konstruksi jalan dapat berjalan selaras.
Upaya Penguatan Tanah
Pada Rabu (3/6), Distaru bersama Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung melakukan peninjauan lapangan untuk melihat perkembangan pekerjaan yang sedang berlangsung. Dalam kesempatan tersebut, Prof Dr Ir Bambang Setioko, M Eng menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari rekomendasi hasil kajian geoteknik yang telah dilakukan selama sekitar dua tahun.
“Dengan teknologi yang dikembangkan oleh Prof Paulus, pergerakan tanah dapat diatasi dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya yaitu pematangan lahan yang dilakukan dengan cara boring, sehingga diperkirakan tidak mengganggu lingkungan dan publik setempat, dan upaya ini dilakukan bertujuan untuk mengantisipasi pergerakan tanah yang sangat dikawatirkan oleh publik,” katanya.
Bambang menambahkan bahwa pematangan lahan menjadi salah satu tahapan yang harus dipenuhi sebelum pembangunan dapat dilanjutkan. Metode boring dipilih sebagai bagian dari pekerjaan penguatan tanah pada kawasan yang memiliki kerentanan terhadap pergerakan lereng.
Sementara itu, ahli struktur Dr T Ir Herry Ludiro Wahyono, ST, MT menjelaskan bahwa peningkatan stabilitas tanah dilakukan berdasarkan hasil penelitian geoteknik yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir. Dari kajian tersebut direkomendasikan pembangunan struktur penahan tanah berlapis menggunakan metode borpile.
“Ini adalah pematangan lahan merupakan upaya menghambat pergerakan tanah yang sudah diteliti oleh ahli geoteknik selama 2 tahun sehingga diperoleh kajian-kajian dan ditentukan agar tanah tetap stabil maka dibuat diding penahan 7 layer dengan metode borpile pada kedalaman 35-40 meter dgn diameter 1 – 1,2 meter,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa hasil pengamatan menunjukkan risiko pergerakan tanah di kawasan tersebut meningkat ketika hujan dan air masuk ke dalam lapisan tanah yang bertemu dengan clay shale. Kondisi itu dinilai dapat memicu pergeseran tanah sehingga diperlukan penguatan lereng sebelum pembangunan konstruksi utama dilakukan.







