DOHA, ibu kota Qatar, memiliki sebuah tempat yang unik dan menarik yaitu Al-Mujadilah. Al-Mujadilah adalah masjid dan pusat budaya khusus perempuan yang menawarkan ruang bagi wanita untuk bersosialisasi, menghadiri lokakarya, kuliah, serta sesi budaya.
Masjid ini dibuka untuk umum pada Januari 2024 dan menjadi kompleks masjid khusus perempuan pertama di Timur Tengah. Inisiatif ini digagas oleh Sheikha Moza bint Nasser, yang merupakan ibu dari emir Qatar saat ini, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Sheikha Moza dikenal karena kontribusi besar dalam bidang pendidikan dan reformasi sosial, baik di Qatar maupun di berbagai negara lain.
Menurut Sohaira Siddiqui, Direktur Eksekutif Al-Mujadilah, masjid ini memiliki visi untuk menciptakan ruang yang memungkinkan perempuan mengejar pertumbuhan keagamaan dan intelektual dalam lingkungan yang dirancang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Tujuan kami adalah membangun tempat yang sekaligus menjadi tempat perlindungan dan platform di mana perempuan menemukan kedamaian, memperkuat suara mereka, dan tumbuh dalam pengetahuan dan iman,” ujarnya.
Arsitektur Masjid Al-Mujadilah menggabungkan gaya modern dengan warisan Islam secara harmonis. Nama pusat kegiatan ini terinspirasi dari surah Al-Mujadilah dalam Al-Quran. Interior masjid yang luas dilengkapi dengan taman yang rapi dan area tempat duduk yang nyaman.
Kompleks bangunan ini dirancang oleh firma Diller Scofidio + Renfro (DS+R) yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Firma ini terkenal dengan proyek-proyek instalasi perumahan, komersial, dan budaya, serta berbagai proyek arsitektur lainnya.
Masjid Al-Mujadilah memiliki luas 4.600 meter persegi dan menyelenggarakan berbagai program. Program reguler termasuk salat harian, studi, dan Jadal, sebuah pertemuan tahunan di mana pengunjung dari seluruh dunia berkumpul untuk membahas peran perempuan Muslim dalam kehidupan publik.
Aula salat memiliki luas 875 meter yang dapat menampung sekitar 750 jamaah. Karpetnya ditenun dengan tangan dari wol Selandia Baru, menampilkan motif Islam tradisional.
Bangunan ini juga dirancang ramah lingkungan. Terdapat sekitar 5.500 lubang berbentuk kerucut yang menembus atap untuk memastikan cahaya alami serta aliran udara untuk menjaga interior tetap sejuk.
Di dalamnya terdapat perpustakaan yang menyimpan lebih dari 8.000 buku. Terdapat tanaman asli yang membuat masjid terasa asri. Sebagai pelengkap sistem ramah lingkungan, masjid ini menerapkan irigasi daur ulang, toilet hemat air, serta perlengkapan hemat energi.







