Imbauan untuk Tetap Tenang Menghadapi Isu Kelangkaan BBM
Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna, memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Ia menilai bahwa fenomena panic buying yang terjadi di beberapa daerah merupakan respons berlebihan terhadap persepsi publik mengenai ancaman pasokan energi.
Penjelasan Mengenai Ketersediaan Stok BBM
Ateng menjelaskan bahwa angka ketersediaan stok BBM selama 21 hingga 25 hari bukanlah indikasi akan krisis energi. Angka tersebut lebih mencerminkan ritme operasional cadangan logistik yang bersifat dinamis. Ia menekankan bahwa inventaris BBM nasional terus diperbarui melalui produksi kilang minyak domestik serta suplai impor yang datang secara terjadwal.
Dalam konteks pengawasan distribusi energi nasional, Ateng menegaskan bahwa sistem logistik BBM saat ini masih dalam kondisi aman secara operasional. Ia menyatakan bahwa ketahanan sistem logistik nasional dipantau secara presisi melalui integrasi Pertamina Digital Hub dari hulu hingga distribusi ritel.
Dampak Panic Buying pada Distribusi BBM
Pembelian berlebihan atau panic buying justru dapat merusak algoritma suplai yang telah dikalkulasi. Hal ini dapat merampas hak akses energi bagi warga lain yang membutuhkan dan mengganggu perputaran roda ekonomi daerah. Menurut Ateng, lonjakan permintaan yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu singkat dapat menciptakan tekanan terhadap sistem distribusi energi di tingkat ritel.
Ketika pola permintaan melonjak secara eksponensial dalam waktu sangat singkat, sistem distribusi dapat mengalami bottleneck. Kondisi ini justru dapat menciptakan kelangkaan riil di tingkat SPBU meskipun pasokan sebenarnya tersedia.
Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Informasi
Berdasarkan laporan lapangan, anomali konsumsi BBM sempat terjadi di beberapa daerah seperti Aceh Tengah dan Kota Banda Aceh. Di wilayah tersebut, sebagian masyarakat melakukan antrean panjang secara sporadis dengan membawa jeriken untuk menimbun BBM di luar batas konsumsi normal.
Ateng menegaskan bahwa keterbatasan cadangan BBM nasional hingga kisaran 21–25 hari bukan disebabkan oleh keterbatasan kemampuan finansial negara dalam melakukan pengadaan energi. Persoalan utama justru terletak pada keterbatasan fisik infrastruktur penyimpanan energi nasional.
Perspektif Ekonomi Perilaku
Dari perspektif ekonomi perilaku, Ateng menjelaskan bahwa permintaan BBM pada dasarnya bersifat inelastis dalam jangka pendek karena merupakan kebutuhan esensial bagi mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi. Namun karakter tersebut dapat berubah secara drastis ketika muncul persepsi kelangkaan.
Ketika masyarakat menerima sinyal informasi bahwa stok energi terbatas, insting proteksi diri akan muncul secara kolektif sehingga mendorong lonjakan pembelian secara tidak rasional. Sebab itu, ia menilai peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dalam merumuskan ulang strategi komunikasi publik terkait sektor energi.
Keamanan Stok BBM Selama Ramadan dan Idulfitri
Ateng menegaskan bahwa selama masyarakat tidak terprovokasi oleh isu kelangkaan BBM dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau penimbunan, maka ketersediaan BBM nasional dipastikan tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Ramadan hingga Idulfitri.
Ia menambahkan bahwa Komisi XII DPR RI akan terus melakukan pengawasan terhadap perkembangan di lapangan, termasuk memantau kondisi stok BBM pada fasilitas penyimpanan nasional serta mengevaluasi kesiapan logistik energi secara berkala.
Langkah Strategis untuk Mencegah Gangguan Pasokan
Ke depan, Komisi XII juga mendorong pemerintah untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi dengan mencari alternatif sumber pengadaan BBM yang tidak melewati jalur logistik di kawasan konflik. Ateng menegaskan bahwa pihaknya akan terus berada di garis depan dalam menjaga kedaulatan energi nasional, memastikan pasokan energi tetap terjaga, harga tetap stabil, serta aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu oleh kepanikan yang tidak berdasar.
Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, juga meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembelian panik (panic buying) bahan bakar minyak (BBM) menyusul memanasnya situasi geopolitik antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran. Ia menegaskan bahwa ketersediaan stok BBM nasional saat ini dalam kondisi aman dan suplai berjalan lancar.






