Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Suzuki Burgman 2026 Lebih Mewah, Tapi Fitur Ini Masih Kurang?

    4 April 2026

    Gabungkan Puasa Syawal dan Qadha, Perbanyak Pahala dengan Niat dan Cara yang Benar

    4 April 2026

    Kekuasaan listrik ibu kota Iran terputus setelah serangan AS-Israel

    4 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Sabtu, 4 April 2026
    Trending
    • Suzuki Burgman 2026 Lebih Mewah, Tapi Fitur Ini Masih Kurang?
    • Gabungkan Puasa Syawal dan Qadha, Perbanyak Pahala dengan Niat dan Cara yang Benar
    • Kekuasaan listrik ibu kota Iran terputus setelah serangan AS-Israel
    • UKSW dan Gereja Toraja Rayakan HUT ke-79, Kembangkan Pendidikan untuk Generasi Muda
    • Megawati Berduka Atas Kematian Prajurit RI di Lebanon, Ajak Kekuatan Politik Bersatu
    • AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax
    • Puncak arus balik 2026 belum berlalu, kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi memanjang
    • PP Tunas Berlaku, Ini Cara Alihkan Anak ke Aktivitas Produktif
    • Opini: Bebaskan Timor Barat dari Malaria, Kuncinya Surveilans Migrasi
    • 7 manfaat minum alpukat untuk ibu hamil, jangan sampai terlewat
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kesehatan»Mengapa Anak-Anak Rentan Terkena Campak?

    Mengapa Anak-Anak Rentan Terkena Campak?

    adm_imradm_imr4 Maret 20266 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Penyebab Anak-Anak Lebih Rentan Terkena Campak

    Vaksinasi masif selama beberapa dekade telah membantu banyak negara menekan kasus campak hingga titik terendah, bahkan beberapa wilayah sempat mendeklarasikan eliminasi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus campak kembali meningkat di berbagai belahan dunia. Penurunan cakupan imunisasi, gangguan layanan kesehatan saat pandemi, serta kesenjangan akses vaksin membuat virus ini menemukan celah untuk menyebar lagi.

    Artinya, campak masih menjadi ancaman serius, terutama bagi anak-anak di bawah usia 5 tahun. Secara global, kelompok usia inilah yang paling berisiko mengalami komplikasi berat, mulai dari pneumonia, diare berat, hingga ensefalitis, bahkan kematian akibat campak.

    Lalu kenapa anak-anak lebih rentan terkena campak dibanding orang dewasa? Berikut penjelasannya:

    1. Sistem Imun Anak Masih Berkembang

    Salah satu alasan utama kenapa anak-anak lebih rentan terkena campak adalah karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Bayi memang mendapatkan antibodi sementara dari ibunya selama dalam kandungan. Namun, perlindungan ini biasanya mulai menurun saat usia 6–12 bulan. Di fase inilah muncul celah kerentanan, ketika antibodi dari ibu sudah berkurang sementara sistem imun anak belum sepenuhnya matang.

    Virus campak berkembang sangat cepat dan menyerang sel imun seperti sel T dan sel B. Pada orang dewasa, sistem imun yang sudah matang mampu merespons lebih cepat. Namun, pada anak-anak, respons imun yang belum optimal membuat virus lebih mudah menyebar dan menyebabkan gejala berat.

    2. Kekurangan Nutrisi Memperparah Risiko

    Faktor gizi juga berperan besar. Banyak anak, terutama di negara berkembang, mengalami kekurangan nutrisi penting seperti vitamin A. Padahal, vitamin A sangat penting untuk menjaga kesehatan jaringan mata, saluran pernapasan, dan sistem kekebalan tubuh.

    Campak bisa merusak lapisan pelindung di mata dan paru-paru. Jika anak sudah kekurangan vitamin A, kerusakan ini bisa makin parah dan memicu komplikasi seperti pneumonia bahkan kebutaan. Selain itu, demam tinggi dan diare yang sering menyertai campak membuat anak lebih cepat dehidrasi. Tubuh mereka yang lebih kecil juga lebih mudah kehilangan cairan dibanding orang dewasa, sehingga kondisi bisa memburuk dengan cepat.

    3. Tubuh Anak Lebih Rentan Mengalami Komplikasi



    Secara fisik, tubuh anak memang lebih rapuh menghadapi infeksi berat. Saluran napas mereka lebih kecil, sehingga ketika terjadi peradangan atau produksi lendir berlebih, gangguan pernapasan bisa lebih serius. Ditambah lagi, metabolisme anak yang lebih tinggi membuat mereka lebih cepat mengalami kelelahan saat demam.

    Yang lebih mengkhawatirkan, virus campak bisa menekan sistem kekebalan tubuh selama beberapa minggu setelah infeksi. Kondisi ini membuka peluang terjadinya infeksi bakteri sekunder seperti pneumonia, yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak yang sakit campak. Komplikasi lain yang jarang tetapi sangat serius adalah ensefalitis, yaitu peradangan otak yang bisa menyebabkan kerusakan permanen.

    4. Lingkungan Anak Memudahkan Penyebaran

    Anak-anak banyak menghabiskan waktu di tempat seperti tempat penitipan anak, PAUD, dan sekolah. Lingkungan ini menjadi lokasi ideal penyebaran virus. Virus campak sangat menular dan dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah penderita batuk atau bersin. Sekitar 90 persen anak yang belum divaksinasi dan terpapar virus ini akan tertular.

    Perlindungan komunitas atau herd immunity baru efektif jika sekitar 95 persen populasi telah mendapatkan vaksin. Jika cakupan imunisasi menurun, bayi yang belum cukup usia untuk mendapatkan vaksin pertama (biasanya pada usia 9–12 bulan, tergantung program imunisasi) menjadi sangat rentan.

    5. Dampak Jangka Panjang

    Bahaya campak tidak selalu berhenti setelah anak sembuh. Dalam kasus yang sangat jarang, campak bisa menyebabkan SSPE (subacute sclerosing panencephalitis), yaitu penyakit otak progresif yang fatal dan muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa campak dapat “menghapus” sebagian memori imun tubuh. Artinya, setelah sembuh dari campak, anak bisa menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain yang sebelumnya sudah pernah dilawan tubuhnya. Inilah mengapa pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan.

    Kabar baiknya, campak bisa dicegah. Vaksin MMR terbukti sangat efektif. Dua dosis vaksin MMR mampu mencegah sekitar 99 persen kasus campak dan memberikan perlindungan jangka panjang. Dengan imunisasi yang lengkap, bukan hanya anak sendiri yang terlindungi, tetapi juga bayi dan individu lain yang belum bisa divaksin.

    Campak bukan sekadar ruam merah dan demam biasa. Bagi anak-anak, penyakit ini bisa menjadi sangat serius. Jadi, memastikan imunisasi lengkap adalah salah satu keputusan terpenting yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi buah hati.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Opini: Bebaskan Timor Barat dari Malaria, Kuncinya Surveilans Migrasi

    By adm_imr4 April 20261 Views

    Kemenkes: Kasus Campak Turun 93% Akhir Maret

    By adm_imr4 April 20261 Views

    Kulit Mama Terancam Jika Sering Lewatkan Skincare Malam

    By adm_imr4 April 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Suzuki Burgman 2026 Lebih Mewah, Tapi Fitur Ini Masih Kurang?

    4 April 2026

    Gabungkan Puasa Syawal dan Qadha, Perbanyak Pahala dengan Niat dan Cara yang Benar

    4 April 2026

    Kekuasaan listrik ibu kota Iran terputus setelah serangan AS-Israel

    4 April 2026

    UKSW dan Gereja Toraja Rayakan HUT ke-79, Kembangkan Pendidikan untuk Generasi Muda

    4 April 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026

    Buka Musrenbang RKPD 2027, Wali Kota Malang Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Inklusif

    31 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?