Kaidah Fiqih Taisir untuk Jamaah Haji Indonesia
Kementerian Haji dan Umrah telah menyiapkan kaidah fiqih yang disebut Fiqih Taisir, khusus untuk para jamaah haji Indonesia. Tujuan dari kaidah ini adalah memudahkan jamaah dalam menjalani ibadah haji tanpa melanggar syariat. Fiqih Taisir memberikan kemudahan bagi jamaah, terutama dalam menjalani rukun haji dengan tetap menjaga keselamatan.
“Fiqih Taisir itu fikih yang memberikan kemudahan ya kepada seluruh jemaah Indonesia,” jelas Ustaz Mochamad Samsukadi, Petugas Bimbingan Ibadah PPIH Arab Saudi 2026. Menurutnya, fokus utama dari kaidah ini adalah menjaga sahnya ibadah sekaligus menjaga keselamatan jamaah.
Penerapan Fiqih Taisir sangat penting mengingat jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini mencapai 221 ribu orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari seperempatnya berusia lanjut atau lebih dari 65 tahun. Selain itu, banyak jamaah yang masih minim pengetahuan tentang fiqih ibadah haji. Untuk itu, 58 petugas bimbingan ibadah akan disebar ke kelompok-kelompok jamaah haji untuk menjelaskan rinciannya.
Beberapa hal yang masuk dalam kaidah fiqih Taisir antara lain:
- Murur di Muzdalifah: Program ini diperuntukkan bagi jamaah haji lansia, disabilitas, serta jamaah yang sakit atau risiko tinggi. Mereka tidak mabit dalam arti bermalam di Muzdalifah, melainkan mabit di atas kendaraan yang membawa mereka melintasi area Muzdalifah langsung menuju Mina.
- Tanazul di Mina: Jika diizinkan oleh Otoritas Saudi, program ini akan diprogramkan untuk jamaah yang berada di area Mina Jadid. Karena lokasi ini paling jauh dari Jamarat, tempat melontar Jumrah. Jamaah yang menjalani Tanazul akan langsung melontar jumrah aqabah, kemudian digerakkan kembali ke hotel-hotel di sisi Utara Jamarat, yakni kawasan Syisa dan Raudhah.
“Kami lebih memberikan kepastian hukum bahwasanya murur dan tanazul itu tidak menyalahi fikih haji yang ada dan itu bisa dilaksanakan, sah,” ujar Ustaz Sukadi.
Selain itu, kaidah fiqih Taisir juga mencakup penyesuaian khusus bagi jamaah wanita yang mungkin mengalami menstruasi saat masa-masa ibadah. Para ulama, ustaz, dan ustazah sudah menyiapkan penjelasan beserta cara agar mereka bisa menjalani ibadah dengan baik dan benar meski sempat terhalang siklus bulanannya.
Sukadi mengakui bahwa ada potensi penentangan dari sebagian jamaah terhadap kaidah fiqih Taisir. Namun, ia memastikan bahwa para petugas bimbingan ibadah sudah menyiapkan mitigasinya. “Terus terang Fikih Taisir itu belum tersosialisasi secara masif di seluruh masyarakat,” katanya. Meskipun sudah disosialisasikan, belum tentu tokoh-tokoh keagamaan di akar rumput bisa langsung menerima karena ada perbedaan pandangan.
Karena itu, pihaknya akan fokus untuk menyamakan persepsi. “Intinya ini semua jamaah kita itu harus bisa melaksanakan ibadah dengan benar tapi juga dengan nyaman,” jelasnya.
Salah satu rukun utama haji adalah wukuf. Wukuf tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun. Bahkan jamaah yang tengah dirawat di rumah sakit akan dibawa ke Arafah untuk menjalani safari wukuf, agar hajinya sah. Sebagaimana sabda Rasulullah, Al Hajju Arafah (Haji itu Wukuf di Arafah).
Sementara itu, jamaah yang meninggal sebelum masa puncak haji maupun yang benar-benar tidak bisa meninggalkan rumah sakit karena penyakitnya, akan dibadal hajikan. Tujuan dari Fiqih Taisir adalah meminimalisir jatuhnya korban sakit maupun meninggal saat rangkaian prosesi ibadah haji, terutama dari kalangan jamaah haji Indonesia.
“Kita tidak berharap ada jamaah kita yang masih ingin melaksanakan haji, itu ingin meninggal di sana (Tanah Suci), itu kita tidak harapkan. Karena hifdzun nafs (menjaga diri dan jiwa) itu harus diutamakan,” imbuhnya.







