Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Tips padu padan atasan off-shoulder yang sempurna

    4 Agustus 2026

    Nasehat Nenek Hartati untuk Pencuri Sebelum Ditutup Mulutnya, Harusnya Sadar

    4 Agustus 2026

    Liga Inggris 2026/2027 Pecahkan Rekor, 9 Klub Ganti Pelatih Sebelum Musim Dimulai

    4 Agustus 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Selasa, 4 Agustus 2026
    Trending
    • Tips padu padan atasan off-shoulder yang sempurna
    • Nasehat Nenek Hartati untuk Pencuri Sebelum Ditutup Mulutnya, Harusnya Sadar
    • Liga Inggris 2026/2027 Pecahkan Rekor, 9 Klub Ganti Pelatih Sebelum Musim Dimulai
    • Curhat Emosional Sarwendah ke Ruben Onsu Setelah 11 Tahun Menyembunyikan Perselingkuhan Mantan Suami
    • KBS Tak Kehilangan Satwa Akibat Kelaparan, Pemkot Surabaya Pastikan
    • Pemerintah Larang Ekspor Logam Tanah Jarang
    • FSP BUMN Berdiri Bersama sebagai Amicus Curiae dalam Kasus Pelabuhan Tanjung Perak
    • Doa Setelah Tahajud, Doa Khusus Saat Terjaga dari Tidur
    • Mengenal Thalasemia: 10 Fakta Penting yang Wajib Diketahui
    • Kerupuk Berbahaya untuk Gula Darah, Kok Bisa?
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kesehatan»Mengenal Thalasemia: 10 Fakta Penting yang Wajib Diketahui

    Mengenal Thalasemia: 10 Fakta Penting yang Wajib Diketahui

    adm_imradm_imr4 Agustus 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Penyebab dan Gejala Thalasemia

    Thalasemia adalah kelainan darah genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Kelainan ini memengaruui produksi hemoglobin, protein di dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Thalasemia perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan komplikasi seperti gangguan tumbuh kembang pada anak.

    Jenis-Jenis Thalasemia

    Penyakit thalasemia ternyata tidak tunggal. Terdapat dua jenis utama thalasemia, yaitu thalasemia alfa dan thalasemia beta, yang tergantung pada bagian mana dari hemoglobin yang dipengaruhi akibat mutasi genetik ini. Thalasemia alfa disebabkan oleh mutasi pada gen alpha-globin dan thalasemia beta disebabkan oleh mutasi pada gen beta-globin.

    Pewarisan Genetik

    Pewarisan genetik thalasemia terjadi secara resesif autosom artinya diturunkan dari orang tua yang membawa gen mutasi pada kromosom tubuh kepada anaknya. Seorang individu dapat menjadi pembawa sifat (karier) tanpa gejala tetapi berpotensi menurunkan gen tersebut kepada anaknya. Jika kedua orang tua merupakan karier, maka terdapat risiko anak mereka mengalami thalasemia mayor.

    Risiko pewarisan dapat dijelaskan sebagai berikut. Jika kedua orang tua sehat, seluruh anaknya akan sehat. Jika salah satu orang tua merupakan pembawa sifat dan yang lainnya sehat, maka risikonya 50 persen anaknya berisiko menjadi karier dan 50 persen sehat. Sementara jika kedua orang tua semuanya karier (pembawa sifat), maka 25 persen anaknya berisiko menjadi sakit, 50 persen karier dan 25 persen sehat. Bagaimana jika keduanya thalasemia mayor? Pasti, seluruh anaknya thalasemia mayor.

    Prevalensi Thalasemia

    Thalasemia lebih umum terjadi di negara-negara dengan latar belakang genetik tertentu, termasuk wilayah Mediterania, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Kondisi ini berkaitan dengan respons evolusioner manusia terhadap malaria. Di Asia tenggara, Indonesia termasuk salah satu negara dengan risiko tertinggi. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 2.500 bayi terlahir dengan thalasemia mayor. Secara global sekitar 5 persen populasi dunia adalah pembawa sifat, dengan 300.000-500.000 bayi lahir dengan thalasemia mayor.

    Gejala Klinis

    Gejala thalasemia bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit. Gejala umum meliputi anemia yang ditandai dengan gejala kelelahan, pucat dan kelemahan. Pertumbuhan yang terhambat pada anak-anak. Pembesaran hati dan limpa. Dapat dijumpai masalah jantung terutama pada kasus berat, seperti gagal jantung dan aritmia. Deposisi zat besi pada organ, seperti kelenjar tiroid, paratiroid, hipofisis, pankreas, testis, dan ovarium, dapat menyebabkan gangguan fungsi endokrin.

    Gambaran Fisik

    Pada pemeriksaan fisik, beberapa temuan yang didapati: Pucat pada kulit dan selaput mukosa. Deformitas tulang, terutama pada wajah dan tengkorak, terjadi akibat pembentukan tulang yang berlebihan sebagai kompensasi terhadap anemia. Sklera menjadi kuning akibat hemolisis kronik. Adanya pembesaran limpa yang teraba saat pemeriksaan abdomen. Nyeri perut kanan atas patut diduga adanya batu empedu akibat hemolisis kronik. Terkadang warna kulit akan berubah seperti perunggu, hal ini terjadi akibat deposisi zat besi di kulit dan kerja melanosit yang meningkat.

    Pemeriksaan Laboratorium

    Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis thalasemia meliputi: Pemeriksaan darah lengkap (Hb, MCV, MCH, RDW dan hitung retikulosit). Pemeriksaan darah hapus untuk melihat morfologi sel darah. Pemeriksaan Hb elektroforesis guna mengukur jenis dan jumlah hemoglobin, meliputi HbA, HbA2 dan HbF, berguna untuk membedakan jenis thalasemia. Uji kadar zat besi (SI, TIBC dan feritin) untuk membedakan dengan anemia defisiensi Fe. Uji genetik untuk mendeteksi adanya mutasi genetik penyebab thalasemia.

    Terapi Saat Ini

    Terapi thalasemia saat ini bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi penderita. Beberapa strategi pengobatan yang umum meliputi: Transfusi darah rutin untuk mengelola anemia. Menjaga kadar hemoglobin tetap optimal dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi kelasi besi bertujuan membuang kelebihan zat besi akibat transfusi darah berulang. Penumpukan zat besi dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ. Suplemen asam folat juga penting untuk mendukung pembentukan sel darah merah.

    Terapi Masa Mendatang

    Para ahli telah banyak melakukan penelitian terapi untuk thalasemia. Meskipun cukup banyak yang gagal, tetapi ada beberapa penelitian yang memberikan harapan baru. Misalnya terapi gen untuk memperbaiki defek genetik penyebab penyakit ini. Penggunaan obat-obatan baru yang dapat meningkatkan produksi hemoglobin. Terapi berbasis sel punca yang berpotensi menyembuhkan kondisi ini dengan memperbaiki atau mengganti sel darah yang rusak.

    Skrining dan Diagnosis Prenatal

    Skrining untuk thalasemia dapat dilakukan melalui tes darah yang sederhana. Diagnosis prenatal dapat dilakukan menggunakan teknik seperti amniosentesis atau chorionic villus sampling (CVS) untuk mendeteksi gen thalasemia pada janin. Skrining pranikah pun perlu dilakukan untuk “memutus” rantai penyakit.

    Dukungan dan Manajemen

    Orang dengan thalasemia memerlukan manajemen jangka panjang yang mencakup: Dukungan dari tim medis dan mungkin perlu dukungan psikologis. Pendidikan tentang penyakit untuk pasien dan keluarga serta pentingnya pemantauan kesehatan secara rutin. Peran rumah sakit dengan menyediakan unit thalasemia perlu diapresiasi mengingat kompleksitas thalasemia. Skrining pra nikah, diagnosis dini, terapi yang adekuat oleh tim multidisiplin dapat meningkatkan kualitas hidup penderita. Penelitian untuk mengoreksi defek genetik penyebab thalasemia masih terus dilakukan dan diharapkan dapat menghadirkan terapi yang lebih efektif di masa depan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    5 cara menjaga suasana hati tetap stabil di era doomscrolling, tetapkan batasan!

    By adm_imr4 Agustus 20261 Views

    7 Jenis Bintik Merah pada Bayi, Mulai dari Alergi hingga Infeksi

    By adm_imr4 Agustus 20261 Views

    Mengapa Batuk Makin Parah di Malam Hari?

    By adm_imr4 Agustus 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Tips padu padan atasan off-shoulder yang sempurna

    4 Agustus 2026

    Nasehat Nenek Hartati untuk Pencuri Sebelum Ditutup Mulutnya, Harusnya Sadar

    4 Agustus 2026

    Liga Inggris 2026/2027 Pecahkan Rekor, 9 Klub Ganti Pelatih Sebelum Musim Dimulai

    4 Agustus 2026

    Curhat Emosional Sarwendah ke Ruben Onsu Setelah 11 Tahun Menyembunyikan Perselingkuhan Mantan Suami

    4 Agustus 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Gus Iqdam Bongkar Aksi Kapolresta Malang Saat Kanjuruhan Memanas, Ribuan Jemaah di Stadion Gajayana Menangis!

    4 Juni 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?