Memahami Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada Anak
Kesehatan jantung anak menjadi prioritas utama bagi para orang tua sejak masa kehamilan hingga setelah kelahiran. Salah satu kondisi yang perlu dipahami dengan baik adalah Penyakit Jantung Bawaan (PJB), yaitu kelainan struktur dan sirkulasi jantung yang sudah ada sejak lahir. PJB memerlukan pemahaman mendalam agar penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Pada acara yang digelar oleh Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta Pusat, dr. Yovi Kurniawati, Sp. J. P. Subsp. K. Ped. P. J. B. (K), seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, membagikan wawasan penting mengenai bagaimana orangtua bisa mendeteksi hingga mencegah PJB pada anak.
Definisi dan Struktur Kelainan Jantung pada Janin
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan struktur dan sirkulasi jantung yang sudah ada sejak lahir. “Bukan didapat dari lahir, tapi sudah ada saat pembentukan jantung ketika masih di rahim, bentuk fetus,” jelas dr. Yovi.
Jantung memiliki struktur kompleks yang terdiri dari empat ruang, tujuh pembuluh darah, dua sekat, dan empat katup jantung. PJB dapat terjadi pada seluruh bagian tersebut, baik berupa lubang tunggal pada sekat maupun kelainan yang lebih kompleks pada pembuluh darah besar.
Berdasarkan data internasional, PJB ditemukan pada 8 hingga 10 dari 1000 kelahiran hidup. Di Indonesia, angka kejadiannya mencapai 43.200 kasus per tahun atau sekitar 1 persen dari total kelahiran.
Gejala PJB Tipe Sianotik dan Asianotik

Gejala PJB secara umum terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tipe sianotik atau biru dan tipe asianotik atau tidak biru.
Pada tipe sianotik, perubahan warna menjadi kebiruan terlihat jelas pada area mulut, lidah, serta ujung jari tangan dan kaki bayi. Gejala ini dapat muncul segera setelah lahir atau berkembang seiring bertambahnya usia saat aktivitas fisik si Kecil meningkat.
Sebaliknya, tipe asianotik sering kali tidak menunjukkan gejala fisik yang nyata, namun dapat dideteksi melalui pola menyusu bayi. Salah satu indikator utama yang harus diperhatikan orangtua adalah kelelahan saat bayi mengisap ASI.
“Bayi tidak mampu mengisap susu dengan baik karena malah jadi kelelahan, nafas memburu, berkeringat dan akhirnya saat menghisap suka berhenti,” jelas dr. Yovi.
Selain gangguan menyusu, baik tipe sianotik dan asianotik, gejala lain yang sering menyertai adalah sulitnya kenaikan berat badan atau gangguan tumbuh kembang karena tubuh menggunakan energi berlebih untuk kompensasi kerja jantung.
Faktor Risiko Multifaktorial Selama Masa Kehamilan

Penyebab terjadinya kelainan jantung pada bayi bersifat multifaktorial, yang berarti melibatkan berbagai kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Hingga saat ini, belum ditemukan satu penyebab tunggal yang dapat dipastikan, namun terdapat beberapa faktor risiko yang secara signifikan meningkatkan potensi PJB.
Di antaranya adalah kelainan kromosom seperti Down Syndrome yang seringkali disertai dengan kelainan struktur jantung tertentu. Selain faktor genetik, kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan memegang peranan penting.
Infeksi virus, contohnya Rubella pada kehamilan sangat berkaitan dengan risiko kecacatan jantung janin. Paparan lingkungan seperti asap rokok dan konsumsi alkohol juga menjadi faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko PJB secara drastis.
Penyakit metabolik pada ibu, seperti Diabetes Melitus (DM), juga memerlukan pengawasan ketat karena dapat memengaruhi proses pembentukan ruang jantung janin.
Jenis Kelainan PJB

Terdapat tiga jenis PJB yang paling sering ditemukan dalam praktik medis, yaitu ASD, VSD, dan PDA.
Atrial Septal Defect (ASD) atau Defek Septum Atrium adalah kebocoran pada sekat yang memisahkan serambi kanan dan kiri, sementara Ventricular Septal Defect (VSD) atau Defek Septum Ventrikel terjadi pada sekat antara bilik kanan dan kiri. Lokasi kebocoran VSD dapat bervariasi, mulai dari bagian perimembranous hingga bagian otot jantung.
Jenis ketiga adalah Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Persisten, yaitu kondisi di mana pembuluh darah yang menghubungkan aorta dan paru-paru tetap terbuka setelah bayi lahir, padahal seharusnya menutup secara alami.
Metode Deteksi Dini Melalui Skrining Lima Jari

Proses identifikasi PJB pada si Kecil dapat dilakukan melalui pendekatan sistematis yang dikenal dengan metode lima jari. Metode ini meliputi pengecekan riwayat pasien secara mendalam, pemeriksaan fisik melalui teknik lihat, raba, dan dengar, rekam jantung atau EKG, foto polos dada, serta USG jantung dan pemeriksaan laboratorium.
Deteksi ini bahkan sudah bisa dimulai sejak masa kehamilan melalui ekokardiografi janin untuk melihat kecurigaan kelainan struktur jantung. “Paling cepat minggu ke 20 kehamilan ibu,” papar dr. Yovi.
Deteksi dini sejak di dalam rahim sangat krusial bagi kasus PJB kritis agar tim medis dapat melakukan persiapan penanganan segera setelah bayi lahir. Selain itu, terdapat program nasional dari IDAI berupa skrining oksimetri pada bayi baru lahir yang diperiksa melalui kaki dan tangan kanan untuk mendeteksi PJB kritis.
Risiko Komplikasi Akibat Penanganan yang Terlambat

Penanganan PJB sangat bergantung pada jenis kelainan yang dialami dan waktu penutupan lubang yang tepat. Untuk kasus PJB biru, penanganan medis harus segera dilakukan ketika si Kecil berusia 1 bulan, sementara untuk kasus PJB tidak biru, pemantauan masih dapat dilakukan hingga si Kecil berusia 3-4 tahun selama kondisi hemodinamik si Kecil tetap stabil.
Jika lubang atau kelainan struktur tidak ditutup sesuai dengan waktu yang disarankan, hal tersebut akan memicu berbagai komplikasi serius bagi kesehatan si Kecil. Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah gagal jantung dan hipertensi paru akibat peningkatan tekanan jantung yang terus-menerus.
Hubungan Kesehatan Gigi dan Gejala Batuk Berulang dengan PJB

Kaitan antara gigi berlubang dengan infeksi jantung pada pasien PJB terjadi karena adanya aliran darah yang tidak normal akibat kebocoran sekat. Aliran darah yang melewati lubang tersebut akan menyebabkan trauma pada dinding jantung, menjadikannya tempat yang sangat rentan terhadap infeksi atau disebut sebagai lokus minoris.
Bakteri dari pembuluh darah di gigi yang terinfeksi dapat menyebar ke jantung dan menempel pada area yang mengalami trauma tersebut hingga membentuk vegetasi. Vegetasi merupakan bongkahan benda asing berisi kuman dan sel darah yang berbahaya karena jika lepas, dapat terbawa aliran darah menuju otak atau kaki dan menyebabkan komplikasi serius yang memerlukan tindakan operasi besar.
Di sisi lain, orangtua sering kali mengeluhkan anak dengan PJB mengalami batuk dan demam yang sering berulang atau pneumonia. Hal ini terjadi karena aliran darah dari jantung bagian kiri mengalir ke bagian kanan, yang kemudian diteruskan ke paru-paru dalam jumlah berlebih. Kondisi yang disebut sebagai lung overflow ini membuat paru-paru si Kecil menjadi sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan berulang.
Pemantauan rutin dan menjaga kebersihan seluruh anggota tubuh menjadi kunci utama dalam meminimalisir komplikasi jangka panjang pada anak dengan PJB.







