Inovasi dalam Industri Kopi dengan Massimo Freddo
Di tengah persaingan yang semakin ketat di industri kopi, inovasi tidak hanya terbatas pada rasa. Konsumen kini mencari pengalaman yang lebih menyeluruh, mulai dari cerita di balik produk hingga nilai budaya dan dampak sosial yang dihasilkan. Hal ini menjadi dasar bagi Roemah Koffie dalam menghadirkan Massimo Freddo, sebuah seri kopi dingin yang menggabungkan inspirasi global dengan karakter Nusantara.
Massimo Freddo terinspirasi dari Freddo, kopi khas Yunani berbasis espresso yang difroth hingga bertekstur creamy dan disajikan dingin. Namun, alih-alih sekadar meniru resep luar negeri, Roemah Koffie memilih menggunakan biji kopi Indonesia untuk menciptakan interpretasi baru yang tetap berakar pada kekayaan lokal.
Gagasan Massimo Freddo bermula saat Roemah Koffie mengikuti HORECA Expo di Athena, Yunani, pada Februari 2025. Dalam ajang tersebut, mereka memperkenalkan kopi Indonesia kepada pelaku industri hotel, restoran, dan kafe Eropa. Di sana, tim Roemah Koffie bertemu dengan Massimo, sosok yang kemudian menginspirasi penamaan menu ini. Massimo memperkenalkan teknik pembuatan Freddo sekaligus mendorong eksperimen menggunakan biji kopi Indonesia. Racikan tersebut mendapat sambutan positif dan diperkenalkan kepada jaringan profesional kopi di Eropa.
“Pengalaman di Athena membuka pandangan kami bahwa kopi Indonesia memiliki karakter yang sangat kuat dan relevan untuk pasar internasional, selama diolah dengan pendekatan yang tepat,” ujar Felix TJ, CEO Roemah Koffie.
Setelah kembali dari Yunani, konsep Freddo dikembangkan menjadi Massimo Freddo, menu kopi dingin yang tidak hanya mengikuti tren minuman cold brew atau iced coffee, tetapi juga membawa narasi lintas budaya. Massimo Freddo hadir dalam tiga varian rasa: Aren, dengan manis seimbang dari gula aren; Orange, yang menawarkan sensasi segar dari perpaduan espresso dan jeruk; serta Coconut, dengan karakter tropis yang lembut. Menu ini tersedia sebagai minuman tunggal maupun dalam paket bundel bersama scarf.
Massimo Freddo tersedia dalam paket bundel seharga Rp219.000 yang mencakup satu scarf dan satu varian minuman kopi Massimo Freddo. Sementara itu, bagi yang ingin menikmati minumannya saja, Massimo Freddo dapat dibeli dengan harga Rp59.000.
Berbeda dari peluncuran menu biasanya, Massimo Freddo sejak awal diposisikan sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial. Melalui inisiatif ini, Roemah Koffie mengajak publik berkontribusi untuk pemulihan petani kopi terdampak bencana di Sumatra. Setiap pembelian Massimo Freddo menyisihkan Rp30.000 untuk mendukung pemulihan petani kopi di Sumatra yang terdampak bencana. Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari kampanye Cup for Purpose yang telah dijalankan Roemah Koffie.
“Bagi kami, bisnis kopi tidak bisa dilepaskan dari para petani sebagai hulu utama. Melalui Massimo Freddo, kami ingin menghubungkan konsumsi di hilir dengan pemulihan kehidupan di hulu,” kata Felix.
Untuk memperkuat identitas budaya, Roemah Koffie menggandeng Ghea Resort by Amanda Janna, brand fesyen yang dikenal konsisten mengangkat motif tradisional Indonesia dalam desain modern. Kolaborasi ini menghasilkan scarf eksklusif bermotif ulos, diperkaya sentuhan geometris serta elemen alam seperti burung dan dedaunan. Scarf tersebut dibundel bersama Massimo Freddo, menciptakan pengalaman menikmati kopi yang tak sekadar bersifat konsumtif, tetapi juga emosional dan kolektibel.
“Kami ingin Massimo Freddo tetap membawa napas Indonesia, meskipun terinspirasi dari budaya luar. Kolaborasi ini membantu menerjemahkan nilai tersebut ke dalam bentuk visual dan pengalaman,” ujar Felix.
Pengalaman menikmati Massimo Freddo juga diperluas melalui pendekatan multisensori. Roemah Koffie menggandeng Boemi Botanicals dalam workshop pembuatan spray scent yang dipasangkan dengan scarf Massimo Freddo. Workshop ini mengajak peserta mengeksplorasi aroma yang terinspirasi dari biji kopi dan unsur alam, menghadirkan pengalaman yang lebih personal dan berlapis.
Denis Surya, Marketing Communication Manager Roemah Koffie mengatakan, Massimo Freddo menjadi simbol bahwa kebaikan tidak berhenti di satu titik. “Melalui kampanye ini, kami ingin merajut kembali harapan bagi para petani kopi di Sumatra yang telah memberikan hasil bumi terbaiknya bagi kita semua. Setiap cangkir dan setiap scarf yang terjual merupakan kontribusi nyata untuk mendukung pemulihan kehidupan para pahlawan origin kami,” ujarnya.







