Pemanfaatan Batu Bara untuk Kebutuhan Listrik Nasional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah akan memanfaatkan batu bara sebagai sumber daya pembangkit listrik tenaga uap. Hal ini dilakukan karena batu bara masih menjadi kebutuhan penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional.
Bahlil menegaskan bahwa penggunaan batu bara untuk kebutuhan listrik masyarakat tidak boleh dikesampingkan. Ia menilai bahwa batu bara tetap diperlukan Indonesia untuk memastikan efisiensi dan menghindari kenaikan harga listrik yang bisa berdampak pada rakyat.
“Kita bicara tentang survival mode. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar,” ujarnya.
Menurut data dari Kementerian ESDM, produksi batu bara nasional mencapai 790 juta ton pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 254 juta ton digunakan untuk kebutuhan domestik, baik untuk sektor kelistrikan maupun nonkelistrikan. Sementara itu, sebanyak 514 juta ton di antaranya diekspor ke luar negeri untuk meningkatkan devisa negara.
Bahlil juga menyampaikan bahwa beberapa negara di Eropa menunjukkan minat untuk membeli batu bara dari Indonesia. Bahkan, Amerika Serikat mulai membuka opsi batu bara, sementara Eropa meminta pasokan sebesar 20 juta ton per tahun.
Fokus pada Ketahanan Energi Nasional
Ketahanan energi nasional menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. Selain batu bara, impor minyak dari Rusia juga akan segera datang. Masuknya minyak mentah dari Rusia diharapkan dapat menjamin ketahanan energi nasional.
“Bagi saya yang paling penting adalah semua stok kita ada. Dan untuk (minyak mentah) Rusia sebentar lagi masuk ya,” ujar Bahlil.
Minyak mentah tersebut akan diolah di kilang dalam negeri. Pemerintah saat ini fokus pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), termasuk solar dan bensin dengan berbagai nilai oktan. Situasi geopolitik membuat pemerintah wajib mengamankan stok BBM.
“Dalam keadaan kondisi kayak begini negara harus menjamin ketersediaan semua jenis BBM. Itu jauh lebih penting,” ujarnya.
Selain BBM, stok gas elpiji nasional juga berada di atas batas minimum. Hal ini membuat pemerintah memastikan elpiji aman.
“Sampai dengan sekarang stok LPG kita semuanya di atas standar minimum nasional,” ucap Bahlil.
Temuan Cadangan Gas Raksasa di Kalimantan Timur
Kabar lainnya datang dari hasil eksplorasi wilayah kerja yang dilakukan oleh perusahaan energi Italia, Eni. Mereka mengungkap adanya cadangan gas raksasa di lepas pantai Kalimantan Timur (Kaltim).
Eni bekerja sama dengan pemerintah Indonesia menjelaskan bahwa cadangan gas di sumur Geliga-1, Blok Ganal, Cekungan Kutai sebesar 5 triliun kaki kubik (Tcf). Temuan ini diumumkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers Kementerian ESDM.
Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya menemukan sumber minyak baru di seluruh wilayah NKRI. Ia menyebut penemuan ini sebagai anugerah dari Tuhan.
“Sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan. Pemerintah juga terus menerus mengeksplorasi wilayah lain untuk menemukan cadangan minyak dan gas (migas) terbaru,” jelasnya.
Jika sumber-sumber minyak baru ditemukan, pemerintah optimis bisa mengurangi impor energi dalam jumlah besar dengan memanfaatkan produksi di dalam negeri. Produksi kondensat diharapkan mencapai 90.000 barrel per hari pada 2028, kemudian meningkat menjadi 150.000 barrel per hari pada 2029-2030.
“Ini adalah strategi agar bagaimana gas kita tidak impor dari negara lain. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi,” jelas Bahlil.
Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
Sementara itu, Bahlil membeberkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax berpotensi naik akibat melonjaknya harga minyak dunia.
“Kalau harganya (minyak dunia) turun, ya enggak naik (harga Pertamax). Tapi kalau harganya begini (naik) terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian,” ujarnya.
Rupanya, kenaikan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite merupakan tahap pertama penyesuaian BBM nonsubsidi yang mengikuti harga minyak dunia. Tahap kedua akan dilakukan tergantung situasi ke depan.
“Kalau untuk BBM nonsubsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian,” jelas Bahlil.
Pemerintah hanya bisa menjamin harga BBM subsidi jenis Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir tahun 2026.
“Saya katakan, yang pemerintah bisa menjamin untuk harganya tidak naik itu adalah yang bersubsidi,” terang Bahlil.







