Menulis sebagai Alat untuk Meningkatkan Kesejahteraan Mental
Bagi banyak siswa, menulis esai bahasa Inggris seringkali menjadi sesuatu yang menakutkan. Namun, apakah aktivitas ini bisa diubah menjadi cara untuk meningkatkan kesejahteraan mental? Saya tertarik untuk mengeksplorasi apakah pendekatan baru dalam pengajaran karya sastra dapat menghadirkan sisi menyenangkan dari menulis dan sekaligus menjadikannya alat untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa.
Untuk itu, saya merancang sebuah mata kuliah bahasa Inggris di Nipissing University, Kanada, dengan tujuan menguji konsep ini. Kita tahu bahwa mahasiswa rentan mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Jika menulis bisa membantu mereka alih-alih memicu stres, ini bisa menjadi perubahan besar dalam studi bahasa Inggris. Selain itu, metode ini juga bisa menjadi cara baru bagi para pengajar dalam memperkenalkan tugas esai.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa menulis dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik. Manfaat ini bisa diperoleh jika kita fokus pada ekspresi emosi dan pemahaman diri sendiri. Memberikan perhatian lebih pada hal-hal positif, terutama dengan menuliskannya, dapat berdampak baik pada wellbeing dalam jangka pendek maupun panjang.
Mulai dengan Journaling
Pertama-tama, mahasiswa perlu menyadari bahwa menulis bisa membantu menjaga kesehatan mental. Melalui mata kuliah ini, mereka diajak untuk membiasakan diri menulis jurnal. Namun, prosesnya bukan sekadar meluapkan emosi atau menuangkan apa pun yang lewat di pikiran. Berbagai riset menunjukkan bahwa menulis justru bisa mengubah cara kita berpikir dan membuat kita lebih positif.
Ada tiga metode menulis jurnal yang paling menarik:
Menuliskan tiga hal baik setiap hari dan peran kita dalam mewujudkannya. Teknik ini awalnya dipelopori oleh psikolog Martin Seligman. Hasilnya, peserta yang menerapkan metode ini merasa lebih bahagia dan tidak terlalu depresi dalam beberapa bulan pertama.
Melihat masa depan dan menuliskan versi terbaik diri kita. Saat kita membayangkan diri sukses dan bahagia, hal ini bisa memotivasi kita untuk bekerja keras mencapainya. Psikolog Laura A. King menemukan bahwa membayangkan impian bisa memberikan manfaat kesehatan tanpa harus membuka kembali masa lalu yang negatif.
Menambahkan unsur kreativitas ke dalam jurnal. Mahasiswa bisa mengubah momen keseharian menjadi komik, menceritakan hari mereka seolah-olah sedang berada di dunia fantasi, atau menulis puisi haiku tentang pasta gigi yang digunakan.
Sebuah penelitian berbasis buku harian terhadap 600 anak muda menunjukkan efek nyata dari metode ini. Hasilnya menunjukkan bahwa menjadi kreatif dalam satu hari dapat langsung meningkatkan wellbeing di hari berikutnya.
Studi Kasus tentang Diri Sendiri
Jurnal memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menguji berbagai teknik menulis. Namun, esai memberikan wadah yang lebih besar bagi mereka untuk merefleksikan proses tersebut. Melalui esai, mahasiswa dapat merefleksikan proses yang mereka jalani, melaporkan hasilnya, sekaligus merumuskan hipotesis mengenai dampak positif dari pengalaman tersebut.
Satu hal yang menarik adalah bahwa para peneliti sendiri belum sepenuhnya memahami bagaimana metode menulis bisa meningkatkan wellbeing. Meski berbagai penelitian menunjukkan manfaat nyata, mekanisme utamanya masih menjadi teka-teki. Temuan dari mahasiswa justru bisa membantu memecahkan misteri ini.
Inspirasi dari Sastra
Di antara jajaran sastrawan Kanada, kisah hidup L. M. Montgomery sangat menarik. Buku-buku seperti Anne of Green Gables dan Emily of New Moon mengubah Prince Edward Island menjadi lanskap utopia. Namun, di balik keindahan itu, Montgomery bergulat dengan tekanan mental hingga mengalami kecanduan pada akhir hidupnya.
Buku harian Montgomery merekam sisi kelam tersebut. Lewat catatan-catannya, kita bisa melihat bagaimana ia memanfaatkan menulis sebagai medium untuk memulihkan derita batinnya. Hal ini terlihat jelas dalam salah satu curahan hatinya pada tahun 1904: “Saya merasa lebih baik setelah menumpahkan semuanya lewat tulisan.”
Indonesia juga memiliki sosok yang menggunakan buku harian sebagai medium perjalanan diri. Sebut saja Soe Hoek Gie, seorang mahasiswa dan aktivis pada tahun 1960-an. Lewat buku harian Catatan Seorang Demonstran, Gie mencurahkan pandangan kritis terhadap sistem politik Orde Lama. Catatan Gie juga menjadi proses pencarian kedamaian batinnya di tengah riuh dunia pergerakan pada masa itu.
Mengurangi Jargon-Jargon Sastra
Puisi mampu memetakan kondisi pikiran seseorang dengan indah. Namun, pendekatan tradisional dalam pengajaran puisi sering kali menghilangkan esensi kehidupan dari karya sastra yang seharusnya mendatangkan kegembiraan dan kenyamanan.
Misalnya, pendekatan bernama “technique spotting” yang menghitung jumlah metafora dalam sebuah karya. Alih-alih menggunakan cara tersebut, pendekatan dari perspektif wellbeing justru memanfaatkan kualitas penyembuhan yang terkandung di dalam puisi.
Para mahasiswa dengan cepat menangkap dan menerapkan gagasan ini. Mereka menemukan kegembiraan dalam puisi-puisi yang selaras dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Mereka juga mengasah empati dengan merekomendasikan puisi kepada orang lain yang membutuhkan, serta menulis esai yang menyentuh tentang masalah kesehatan mental yang sering mereka hadapi, seperti tekanan akademis, ketakutan akan kegagalan, kerinduan pada rumah, kecemasan sosial, perfeksionisme, hingga prokrastinasi.
Berpaling dari AI
Esai terkenal sebagai salah satu bagian paling sulit dalam kehidupan akademis. Kondisi ini membuat kecerdasan buatan (AI) generatif memiliki daya tarik kuat bagi mahasiswa yang mengalami stres. Jika penulisan esai hanya sebatas pengulangan teori yang menjemukan, maka wajar jika mahasiswa ingin menyerahkan tugas tersebut pada AI.
Padahal, menulis tentang dunia batin sendiri, menemukan bukti nyata dari pengalaman pribadi, serta menggunakan sastra untuk menerangi jalan pertumbuhan personal merupakan tugas-tugas yang tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mesin. Seluruh proses tersebut menyentuh dan berbicara langsung pada sisi kemanusiaan kita.
Pandangan bahwa menulis dapat membuka ruang baru untuk bertumbuh dan memperbaiki diri menjadi pengingat penting bagi kita tentang inti dari aktivitas menulis. Saat mengampu mata kuliah ini, saya melihat bahwa menulis untuk kesehatan mental memberikan penyegaran yang menarik bagi studi sastra dan bahasa, khususnya dalam penulisan esai. Pendekatan ini tidak hanya mengasah keterampilan menulis dan komunikasi mahasiswa, tetapi juga memperkaya kualitas hidup mereka secara nyata. Lebih dari itu, metode ini membantu kita mengembalikan esensi paling mendasar dari belajar sastra: menumbuhkan kecintaan membaca seumur hidup dan membangkitkan keberanian mahasiswa untuk mulai menggoreskan pena mereka sendiri.






