Najeela Shihab dan Perannya dalam Sidang Kasus Korupsi Pengadaan Laptop
Nama Najeela Shihab, kakak dari presenter Najwa Shihab, kembali menjadi sorotan dalam sidang dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook 2019-2022. Meski demikian, ia tidak dijadikan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum maupun Penasihat Hukum para terdakwa. Hal ini sempat menjadi pertanyaan bagi majelis hakim saat pemeriksaan saksi terhadap terdakwa Eks Konsultan Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Ibrahim Arief atau yang akrab disapa Ibam.
Najeela disebut dalam sidang sebanyak empat kali sejak Oktober 2025. Dalam kesaksian Ibam, ia mengungkapkan bahwa Najeela adalah pihak pertama yang menghubungkannya dengan Google Indonesia dalam proses pengadaan laptop. Menurut Ibam, ia memberikan hasil eksplorasi yang berisi sisi negatif penggunaan laptop Chromebook dalam program tersebut ke Najeela untuk disampaikan ke Google. Namun, Najeela meminta Ibam untuk bertemu langsung dengan perwakilan Google pada Februari 2025.
“Ibama bilang ke saya bahwa sudah menyampaikan kekurangan Chromebook dalam program pengadaan. Namun saya diminta bertemu langsung untuk mendiskusikan solusi dari Google tentang kekurangan tersebut,” ujarnya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (8/4).
Lebih jauh, Ibam menjelaskan bahwa Najeela turut serta dalam proses rekrutmen dirinya menjadi konsultan untuk Kemendikbudristek. Namun, ia menegaskan bahwa mantan Menteri Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim tidak pernah terlibat langsung dalam proses tersebut.
Menurut Ibam, rekrutmen dirinya ke Kemendikbudristek bermula dari obrolan dengan pendiri PT Bukalapak.com Achmad Zaky. Saat itu, nama Ibam muncul saat Nadiem menceritakan kebutuhan orang untuk membuat aplikasi super kepada Zaky. Zaky kemudian meneruskan pesan itu ke Ibam yang sedang berada di Eropa saat itu. Ibam mengaku tidak pernah berbicara langsung dengan Nadiem saat menceritakan cara membangun organisasi teknologi besar yang bagus dan efektif.
Ibam mengungkapkan bahwa ia baru bertemu langsung dengan Nadiem setelah 16 Desember 2019, yaitu saat Nadiem menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi. Setelah itu, Nadiem mengarahkan Ibam untuk melakukan negosiasi gaji dengan Najeela.
“Saya diminta lanjut negosiasi gaji dengan Najeela Shihab saat itu. Bukan menjadi konsultan Kemendikbudristek, tapi bekerja di PSPK,” katanya.
Najeela dalam Sidang Petinggi Kemendikbudristek
Selain Ibam, Najeela juga disebut dalam sidang pemeriksaan mantan Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Didik Suhardi bulan lalu, Senin (2/3). Didik menyampaikan bahwa Najeela hadir sesaat sebelum dirinya didemosi dari Eselon I menjadi Eselon II. Ia menceritakan bahwa dirinya diwawancara langsung oleh Nadiem dan Najeela pada Desember 2019. Didik menilai jawaban yang diberikan dalam wawancara tersebut tidak baik karena sering dipotong oleh Najeela atau Nadiem.
Nama Najeela pertama kali muncul dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook pada akhir Oktober 2025. Saat itu, Kuasa Hukum Nadiem, Tabrani Abby menyampaikan bahwa Najeela merupakan anggota dalam grup WhatsApp bernama Edu Org yang akhirnya berganti menjadi “Education Council” sebelum akhirnya menjadi “Mas Menteri Core”.
Merujuk pemberitaan Antara, Abby menjelaskan bahwa grup tersebut bertujuan untuk mendiskusikan gagasan penggunaan teknologi di bidang pendidikan. Karena itu, Abby menekankan peran Najeela hanya sebatas memberikan gagasan atau masukan kepada Kemendikbudristek.
“Jadi, beliau banyak membantu Kementerian Pendidikan untuk memberikan gagasan terkait dengan pendidikan di Indonesia,” kata Abby dari laman Antara.







