Teknologi Bedah Robotik dalam Pengobatan Masalah Kesehatan Reproduksi
Masalah kesehatan reproduksi seperti miom, kista, endometriosis, dan adenomiosis bisa dialami oleh perempuan, termasuk mereka yang sedang merencanakan kehamilan. Dalam beberapa kondisi, dokter mungkin menyarankan tindakan operasi untuk mengatasi penyakit tersebut sebelum melanjutkan rencana kehamilan. Meski operasi seringkali membuat pasien merasa cemas karena khawatir akan luka besar dan proses pemulihan yang lama, perkembangan teknologi medis kini memungkinkan tindakan operasi dilakukan dengan cara minimal invasif, termasuk bedah robotik.
Beda dengan operasi tradisional, bedah robotik memberikan banyak keunggulan dalam pengobatan masalah kesehatan reproduksi. Berikut ini penjelasannya:
Luka operasi lebih kecil dengan alat yang stabil
Bedah robotik adalah teknik operasi minimal invasif yang menggunakan lengan robot untuk menggerakkan alat bedah melalui sayatan kecil. Alat tersebut dimasukkan melalui trocar dan dikendalikan oleh robot dengan titik poros (pivot point) yang stabil. Hal ini disampaikan oleh dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, MSc (Humrepro), MIGS, Spesialis Kebidanan dan Kandungan di Eka Hospital MT Haryono, dalam media meet up bertajuk New Era of Surgery: Precision Surgery with Robotic Gynecology Surgery. Dr. Sita menjelaskan bahwa perkembangan teknik operasi terus bergeser dari bedah terbuka menuju tindakan yang lebih minim sayatan, termasuk dengan teknologi bedah robotik.Lebih presisi untuk kasus yang kompleks

Bedah robotik membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih presisi, terutama ketika menangani kasus yang kompleks. Sistem robotik memungkinkan dokter mengendalikan alat dengan gerakan yang menyerupai tangan manusia, termasuk melakukan gerakan-gerakan kecil. Hal ini dapat membantu dokter bekerja lebih akurat ketika harus menangani jaringan yang berada dekat dengan organ atau struktur penting. “Bedah robotik bisa membantu kekurangan dari surgeon-nya, seperti keterbatasan gerak di rongga yang sempit,” ujar dr. Sita.Membantu menangani endometriosis yang tersembunyi

Pada kasus endometriosis, jaringan penyakit dapat berada jauh di dalam panggul dan menyebar hingga mendekati organ penting. Bedah robotik membantu dokter mengidentifikasi jaringan tersebut. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bedah robotik dapat membantu surgeon menjangkau rongga-rongga kecil di dalam perut, sehingga sangat memudahkan penanganannya.Perdarahan dan nyeri pascaoperasi lebih minim

Data yang dipaparkan dokter menunjukkan kehilangan darah pada bedah robotik relatif rendah. Selain itu juga menghasilkan rasa nyeri yang lebih ringan dibandingkan laparoskopi. Pada laparoskopi, instrumen yang dimasukkan melalui trocar dapat bergerak maju-mundur selama prosedur sehingga menimbulkan gesekan pada dinding perut. Sementara itu, pada bedah robotik, trocar dipegang dan distabilkan oleh lengan robot. “Gesekan itu bisa menimbulkan iritasi di dinding perut. Sedangkan kalau robot, trokar-nya itu pasti dipegang sama mesin robotnya. Jadi, dia stabil. Stabilitas ini membantu mengurangi iritasi pada dinding perut, sehingga rasa nyeri setelah operasi dapat lebih minim,” jelas dr. Sita.Membantu mempercepat proses pemulihan

Dengan teknik minimal invasif, kamu dapat menjalani masa pemulihan yang lebih singkat. Berdasarkan data yang disampaikan dokter, rata-rata pasien dapat pulang sekitar 24 jam setelah operasi dan maksimal sekitar 48 jam, sehingga bisa lebih cepat kembali beraktivitas. “Setelah operasi, bukan berarti tidak ada nyeri sama sekali. Nyeri masih ada, tetapi jauh lebih minim dibandingkan tindakan lainnya. Jadi, rata-rata pasien bisa pulang dalam 24 jam, maksimal 48 jam,” jelas Dr. Sita.
Perkembangan teknologi kedokteran membuat penanganan masalah kesehatan reproduksi perempuan juga semakin berkembang. Apalagi hal ini menyangkut program hamil kamu. Bedah robotik menjadi salah satu perkembangan dalam dunia ginekologi yang dapat membantu dokter menangani kasus tertentu dengan teknik minimal invasif. Meski begitu, setiap penyakit dan kondisi tentu membutuhkan pertimbangan yang berbeda. Jadi, jangan ragu berdiskusi dengan dokter untuk mengetahui pilihan penanganan yang paling sesuai, ya!










