Peran Pakistan sebagai Penengah dalam Konflik AS dan Iran
Pakistan telah berhasil menjadi mediator kunci antara Amerika Serikat dan Iran di tengah kecamuk perang yang berlangsung lebih dari sebulan. Posisi ini dinilai sebagai kemenangan diplomasi bagi negara tersebut dalam peta geopolitik kawasan.
Michael Kugelman, peneliti senior untuk Asia Selatan di Atlantic Council, menyebut hal ini sebagai pencapaian besar bagi Pakistan. Ia mengatakan bahwa selama ini, Pakistan sering kali memiliki citra global yang buruk, di mana negara-negara tidak melihatnya sebagai negara yang berpengaruh secara regional atau bahkan global.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa Pakistan mampu membalikkan keadaan secara mengejutkan. Negara yang pernah dicemooh oleh Trump sebagai pihak yang hanya menawarkan “kebohongan dan tipu daya” serta sempat dijauhi oleh pemerintahan Biden, kini meraih salah satu kemenangan diplomatik terbesarnya dalam beberapa tahun terakhir.
Upaya Diplomasi Intensif
Keberhasilan ini merupakan hasil dari upaya diplomasi intensif selama berbulan-bulan. Terutama, untuk membangun hubungan dengan pemerintahan Trump, serta memanfaatkan ikatan historis yang mendalam dengan Iran.
Menurut laporan New York Times (NYT) pada 8 April 2026, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata melalui media sosial. Ia menulis, “Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama sekutu-sekutu mereka, telah menyetujui gencatan senjata segera.”
Satu jam sebelumnya, Trump menyatakan telah menyetujui gencatan senjata tersebut setelah berkomunikasi dengan Sharif dan Panglima Militer Pakistan, Field Marshal Syed Asim Munir.
Pendekatan kepada Pemimpin AS
Para pejabat Pakistan mulai mendekati Trump dan lingkaran dalamnya tak lama setelah ia terpilih kembali. Mereka bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump, menominasikannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, dan berulang kali menyampaikan apresiasi atas bantuannya dalam mengakhiri konflik singkat dengan India pada Mei lalu—meskipun para pejabat India menyebut bahwa ia sebenarnya tidak terlibat secara langsung.
Trump sendiri telah menjuluki panglima militer Pakistan sebagai “field marshal favorit”, dan keduanya tercatat telah bertemu setidaknya tiga kali dalam setahun terakhir.
“Pakistan bersedia terlibat dalam taktik diplomatik tidak konvensional yang mengumpulkan poin di Washington—termasuk sanjungan berlebihan dan peluang komersial dengan lingkaran dalam Trump,” kata Kugelman kepada NYT.
Hubungan dengan Iran
Hubungan mendalam Pakistan dengan Iran selama puluhan tahun serta kepemilikan perbatasan sepanjang 565 mil (sekitar 909 km) membantu menjelaskan mengapa Islamabad memiliki pemahaman geopolitik yang mendalam tentang Iran.
Pakistan memang telah lama menjadi perantara pesan bagi Amerika Serikat atas nama Iran. “Pakistan telah mewakili kepentingan Iran di Washington selama puluhan tahun, seperti Swiss yang mewakili Amerika Serikat di Teheran,” kata Azeema Cheema, direktur pendiri Verso Consulting, sebuah firma riset yang berbasis di Islamabad.
Dukungan dari Tiongkok
Pakistan menjalankan peran mediasi ini dengan dukungan Tiongkok. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, melakukan perjalanan untuk bertemu dengan rekannya dari Tiongkok, Wang Yi.
Perdana Menteri Sharif telah mengundang pejabat AS dan Iran untuk melakukan pembicaraan lanjutan di Islamabad pada Jumat, 10 April 2026. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah mengonfirmasi kehadiran Iran, menurut pernyataan Sharif pada Rabu setelah keduanya berbicara melalui telepon. Sedangkan Wakil Presiden AS JD Vance disebut tengah menuju Islamabad untuk perundingan tersebut.







