Hari ke-37 (Selasa, 24 Juni 2025/27 Dzulhijjah 1446H)
Tengah malam tadi saya terbangun karena perut mulas. Buru-buru saya ke kamar mandi, lalu tidur lagi. Baru lima belas menit, perut mulas lagi, saya ke kamar mandi lagi. Setelah itu saya tertidur. Jam 3 saya bangun dengan mata lengket dan badan yang tidak karuan rasanya. Sejak kemarin mata saya rasanya penuh kotoran, fiks ini kena beleken. Dengan susah payah saya membuka mata. Begitu terbuka, saya segera persiapan dan berangkat ke Nabawi.
Pagi ini saya, Budhe Mami dan Bu Siti mengambil pelataran dan salat sampai Subuh. Imam subuh membaca surat Al Anbiya 30-44. Saya mengenali rangkaian ayat-ayatnya karena di ayat 35 Allah berfirman: Kullu nafsin dzaaiqatul maut, wanablukum bisy syarri wal khairi fitnah wa ilaina turja’uun. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kalian dikembalikan.
Setelah subuh, saya menghubungi suami. Kami berencana pagi ini mau jalan-jalan mengeksplor jejak nabi dan sahabat di sekitar Masjid Nabawi. Ternyata suami mendadak pulang karena semalam tidak bisa tidur. Bu Siti dan Budhe Mami juga pulang karena ngantuk berat. Kami sebenarnya berencana untuk menunggu syuruq pagi ini di dalam masjid lewat pintu 21. Baiklah, sepertinya dua rencana pagi ini batal semua. Saya mengambil tasbih dan bersalawat atas nabi sebanyak-banyaknya sambil menunggu payung dibuka. Saya belum bisa tilawah karena suara saya berat sekali akibat batuk.
Saya browsing sebentar mencari info jam berapa biasanya payung dibuka. Sekitar 05.30 — 06.00. Masih beberapa saat. Saya sedikit tidak sabar dan membatalkan menunggu payung dibuka. Baru saja saya hendak beranjak, tiba-tiba payung terbuka perlahan. MaasyaAllah, cantik. Segera saya abadikan momen itu. Membutuhkan waktu 3 menit bagi setiap payung untuk terbuka sempurna. Setelah puas mendapat momen terbukanya payung, saya masuk masjid dari pintu 16 favorit saya. Di sana saya juga bersalawat, kali ini sambil menunggu kubah coklat dibuka.
Selama ini, ikon yang paling sering diketahui orang tentang Masjid Nabawi adalah payung dan kubah hijaunya. Padahal, terdapat kubah-kubah kecil lain berwana coklat keemasan yang bisa bergeser membuka dan menutup secara otomatis. Saya sendiri awalnya juga tidak paham keberadaan kubah-kubah ini kecuali setelah diberitahu anak saya. Saya belum pernah melihat momen kubah ini membuka atau menutup, jadi pagi ini saya sengaja memilih tempat duduk di bawah salah satu kubah di sayap kanan.
Kubah Masjid Nabawi memadukan antara fungsi, seni, keindahan, dan teknologi yang canggih. Berdasar yang saya baca, jumlah kubah Masjid Nabawi ada 27 buah, 12 kubah masing-masing ada di sayap kanan dan kiri masjid dan 3 kubah di sayap belakang masjid. Kubah-kubah ini bisa membuka atau menutup dengan cara bergeser pada jam-jam tertentu untuk mengatur sirkulasi udara di dalam masjid. Biasanya beberapa menit setelah matahari terbit.
Untuk membuka atau menutup kubah secara manual, butuh waktu 30 menit. Tapi, saat dibuka atau ditutup otomatis, hanya membutuhkan waktu 30 detik. Sangat singkat. Jadi saya tidak boleh kelewatan momen ini. Saya pun duduk menunggu seperti saya menunggu payung membuka sempurna tadi.
Seorang jemaah di sebelah saya berseru ketika kubah dibuka. Saya mendongak. Tepat saat matahari terbit, kubah coklat terbuka perlahan. Kubah bergeser otomatis sehingga tampak langit pagi yang cerah. Canggih. Masjid ini benar-benar didukung dengan fasilitas yang luar biasa demi kenyamanan orang-orang yang datang untuk beribadah di dalamnya.
Setelah kubah membuka sempurna, saya berdiri melihat sekeliling untuk mencari tempat salat. Tiba-tiba terbersit niat untuk tetap ke pintu 21. Sendiri tidak apa-apa, berani. Bismillah. Saya pun segera keluar dari pintu 16, sampai di pelataran lalu mengambil arah kanan. Jarak pintu 21 dari pintu 16 tidak terlalu jauh.
Sampai di pintu 21, saya segera masuk. Area belakang tampak sepi ketika saya sampai. Saya berjalan ke depan. Ternyata di depan sudah berjubel jemaah yang mendekati tabir pembatas dengan Raudhah. Saya pun salat dua rakaat di belakang. Saking sesaknya, kepala saya nyaris terinjak ketika sujud. Ketika depan agak longgar, saya maju lalu salat lagi. Kali ini tempatnya mepet tiang, saya aman salat di situ. Setelah itu saya geser lagi mendekat ke arah tabir. Satu dua jemaah India naik kursi untuk mengintip Raudhah. Saya berdoa di dekatnya.
Puas berdoa, saya mundur agak jauh. Saya mengambil segelas air Zamzam dan mengisi ulang botol. Saya tengok jam di HP, belum jam 7. Saya buka bekal, makan kurma 3 butir. Setelah itu tilawah setengah juz. Saat membuka HP, seorang anggota rombongan membagikan doa-doa yang bisa dipanjatkan di Raudhah. Ternyata ada doa yang belum saya amalkan. Tidak boleh tidak, saya harus membaca doa ini.
Bergegas saya balik lagi ke depan mepet tabir. Saya membaca doa lalu minggir. Dua orang jemaah menunjukkan aplikasi nusuk di HPnya kepada askar, saya tertarik dan mendekat. What’s that? Tanya saya sambil refleks membuka aplikasi nusuk di HP saya. Dan MaasyaAllah instant track yang sejak kemarin saya pantau selalu penuh, pagi ini menampilkan waktu slot kosong. 08.40. Bismillah saya klik. Ini kesempatan yang saya tunggu-tunggu sejak kemarin.
Instant track di aplikasi nusuk memungkinkan seseorang bisa masuk Raudhah dengan memperhatikan slot kosong pada jam tertentu yang ditawarkan. Slot kosong ini biasanya karena kuota pendaftar belum terpenuhi, atau bisa jadi ada yang mengundurkan diri. Kita harus sering-sering membuka aplikasi ini untuk bisa mendapatkannya. Begitu terlihat ada slot kosong, harus segera klik agar tidak keduluan orang lain.
Saya segera mengabari suami di grup keluarga kalau saya mendapat instant track tapi akan balik hotel dulu untuk ngecas HP. Baterai tinggal 15%. Saya khawatir nanti HP keburu mati sehingga tidak bisa menunjukkan barcode nusuk. Tapi saya hitung waktu saya tidak cukup. Saya hanya punya waktu sekitar tiga puluh menit untuk kembali. Jarak dari pintu 21 ke dan dari hotel ke gerbang 362 lumayan jauh. Akhirnya HP saya setel mode pesawat untuk menghemat.
Setelah memutuskan untuk langsung ke Raudhah, saya nyaris berlari keluar dari pintu 21 menuju gate 362. Butuh waktu 10 menit untuk sampai ke sana. Karena masih cukup waktu, saya ke toilet untuk BAK dan memperbarui wudhu, daripada nanti menahan lama sampai jam 9 (selesai dari Raudhah). Saya turun ke basement lalu masuk ke toilet.
Saya segera wudhu lalu naik ke atas bergabung bersama jemaah yang sedang menunggu waktu untuk masuk Raudhah. Saya duduk bersalawat untuk menenangkan hati. Saya hanya seorang diri di tempat tunggu ini, tanpa teman sesama rombongan. Di depan saya sepasang jemaah entah dari negara mana. Untuk mengganjal perut, saya makan kurma dan roti croissant. Lumayan mengganjal perut.
Lima menit menjelang pukul 08.10 saya menuju petugas, menunjukkan barcode, lalu disilakan masuk antrian dalam. Setelah menunggu sejenak, petugas yang di dalam men-scan barcode. Saya masuk masjid dengan sepenuh doa. Mengucapkan salam pada Sang junjungan Rasulullah SAW, Abu Bakar ra dan Umar ra.
Di dalam, sama seperti kemarin, saya antri lagi bersama rombongan satu baris. Kali ini antrian lebih banyak berdiri. Setelah beberapa saat, giliran barisan kami pun datang. Saya memuaskan diri untuk berdoa. Alhamdulillah, askar sama sekali tidak melirik saya. Saya aman tidak didorong keluar sementara di depan saya kedengaran sudah ramai diminta segera keluar. Saya pindah mendekat, berdoa lagi. Barulah askar mendorong pundak saya untuk keluar sambil berkata, jannah insyaallah. Saya aminkan doanya.
Saya berlalu dari Raudhah, menyelinap di antara padatnya jemaah yang berjalan lambat karena sibuk mengambil foto atau video. Saya keluar, balik kanan, masuk lagi ke masjid, berjalan cepat lalu keluar melalui pintu 21 lagi. Sepagi ini, sudah dua kali saya keluar masuk pintu 21. Saya baru ingat kalau belum memberi tahu ibu-ibu tentang keberadaan saya. Saya segera mengirim pesan kalau saya pulang terlambat karena baru saja dari Raudhah.
Alhamdulillah, bersyukur berkali-kali ya Allah. Tiga hari berturut-turut saya bisa masuk ke Raudhah. Sebuah nikmat dari Allah yang luar biasa. Saya berjalan pulang. Sendiri. Sudah hampir jam 9 dan saya belum sarapan. Perut sudah terasa kelaparan.
Di dekat gerbang 331 tidak sengaja saya melihat toko sajadah Al Munawara. Kata anak saya, ini merek sajadah yang ori. Kalau mau beli sajadah, di sini tempatnya. Saya mendekat. Saya tanya-tanya harga ke penjualnya. Harga termurahnya 90riyal. Oh, tidak. Saya mlipir, tidak jadi beli. Wajar saja harganya mahal karena saya raba memang sangat halus. Tapi tidak ramah di kantong saya hehe.
Saya berjalan cepat menuju hotel. Tiba di hotel saya segera merebahkan badan. Pagi ini sungguh hetic. Tubuh saya terlalu lelah. Saya merasa demam dan tidak bisa tidur. Sampai waktu dhuhur, saya menyerah, akhirnya minum paracetamol lagi. Di Madinah ini saya tiada hari tanpa minum obat.
Usai salat Ashar, saya dan suami janjian untuk belanja oleh-oleh di pasar 1 riyalan. Kalau tidak salah, pasar ini dijuluki Pasar Beringharjo Madinah. Budhe Mami dan Bu Siti sudah ke pasar ini setelah Dhuhur tadi. Katanya, harganya murah-murah. Souvenirnya juga lucu-lucu. Saya tertarik ikut-ikutan beli gantungan kunci unta seharga 2 riyal. Cocok untuk oleh-oleh anak gadis saya dan teman-temannya ngaji. Saya dan suami bertemu di gerbang 330.
Untuk menuju pasar satu riyalan, jika ditarik dari Masjid Nabawi lurus dari gerbang 339 menyeberang dua kali sampai ketemu atap yang cantik di sebelah kanan. Pasar ada di bawah, kita turun dengan eskalator. Nah di bawah sudah berjejer toko-toko yang menjual aneka dagangan murah. Ada harga yang bisa ditawar dan ada yang sudah pas. Saya membeli aneka coklat pesanan anak-anak, ganci selusin untuk anak gadis saya dan teman-temannya, sajadah, kurma muda, kurma ajwa, dan tak ketinggalan gamis untuk saya sendiri.
Di sebuah kios, kami berhenti agak lama karena kami membeli sajadah yang bisa request ditulisi nama orang. Saya membeli beberapa sambil menyerahkan nama-nama yang akan ditulis. Dua sajadah yang pink dan biru untuk anak kedua dan ketiga serta untuk beberapa teman. Untuk sulung saya tidak membelikan oleh-oleh apapun karena dia berencana untuk umroh sekaligus bekerja di Saudi setelah lulus pertengahan September nanti.
Usai belanja kami menyusuri jalanan Madinah yang sangat eksotis. Setiap sudutnya indah. Setiap titiknya menarik untuk dijadikan spot poto. Saya sempat berhenti di photobooth bertuliskan I Love Madinah, tapi beberapa orang sudah antri foto. Saya mengurungkan niat untuk foto di situ. Sebagai gantinya kami berfoto dengan latar belakang menara Masjid Nabawi. Dari toko serba satu riyal ke hotel jaraknya sangat dekat, tinggal lurus saja sudah sampai.







