Perluasan Imunisasi HPV untuk Anak Laki-Laki di Kota Yogyakarta
Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta akan memperluas cakupan program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) pada tahun ini. Sebelumnya, sasaran utama vaksinasi hanya ditujukan bagi anak perempuan. Namun, mulai Agustus 2026, anak laki-laki di Kota Yogyakarta juga akan menerima vaksinasi tersebut.
Tujuan dari langkah ini adalah untuk mencegah penularan virus HPV yang tidak hanya berpotensi menyebabkan kanker serviks pada perempuan, tetapi juga berbagai penyakit kanker lainnya pada laki-laki. Pemberian vaksin HPV bagi anak laki-laki rencananya dilakukan bersamaan dengan agenda Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada Agustus 2026.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menjelaskan bahwa selama ini sering terjadi stigma bahwa vaksin HPV hanya ditujukan untuk perempuan karena selalu dikaitkan dengan kanker serviks. Padahal, infeksi virus HPV pada pria juga memiliki potensi bahaya serius, seperti risiko kanker anus, penis, hingga orofaring. Selain itu, laki-laki juga dapat menjadi pembawa virus HPV yang menularkan kepada perempuan.
“HPV bisa menyerang baik perempuan maupun laki-laki. Perluasan imunisasi HPV pada anak laki-laki ini bertujuan untuk melindungi anak dari penyakit yang disebabkan oleh HPV,” ujarnya.
Endang menyampaikan bahwa pada pelaksanaan tahun 2026, imunisasi HPV diprioritaskan bagi anak laki-laki berusia 11 tahun atau setingkat kelas V SD. Sementara untuk anak perempuan, sasaran meliputi usia 11 tahun (kelas V SD), 12 tahun (kelas VI SD), serta usia 15 tahun (kelas IX SMP) yang belum sempat menerima imunisasi HPV.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, total sasaran imunisasi HPV untuk anak laki-laki di wilayahnya mencapai 3.146 anak. Proses penyuntikan akan difasilitasi oleh puskesmas di masing-masing wilayah dan digelar secara langsung di sekolah-sekolah.
“Pelaksanaannya Agustus itu sesuai dengan jadwal kesepakatan antara puskesmas dan sekolah. Vaksin HPV aman dan efektif. Sudah melalui uji klinis dan dipakai oleh sebagian besar negara-negara di dunia. Efek samping yang mungkin muncul setelah imunisasi pada umumnya adalah reaksi tubuh yang ringan seperti demam, nyeri dan kemerahan atau pembengkakan di area penyuntikan,” terangnya.
Lebih lanjut, Endang menjelaskan bahwa HPV merupakan virus yang menginfeksi permukaan kulit dan selaput lendir dengan gejala umum berupa kutil di area lengan, kaki, mulut, hingga kelamin. Penularannya terjadi lewat kontak kulit langsung, hubungan seksual, kontak genital, maupun transmisi vertikal dari ibu ke bayi.
Mengingat pentingnya pencegahan ini, ia mengimbau para orang tua dan masyarakat luas untuk memanfaatkan program pemerintah sebaik mungkin. Pasalnya, jika dilakukan secara mandiri di fasilitas kesehatan swasta, biaya vaksinasi HPV bisa mencapai Rp900 ribu hingga Rp1 juta per dosis.
Melalui program fasilitasi ini, masyarakat pun tidak dipungut biaya alias gratis karena seluruh anggarannya ditanggung oleh pemerintah. “Kami sudah melakukan kolaborasi dengan lintas sektor dalam penjangkauan sasaran maupun saat pelaksanaan. Keberhasilan program membutuhkan dukungan dan sinergi kita bersama. Kami harap masyarakat mendukung imunisasi HPV ini karena mencegah lebih baik daripada mengobati,” tambahnya.
Sebagai informasi, Kota Yogyakarta ditunjuk sebagai pelaksana imunisasi HPV pada anak laki-laki karena DIY ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sebagai lokasi pilot project. Khusus di Kota Yogyakarta sendiri, program imunisasi HPV untuk anak perempuan kelas V dan VI SD sudah berjalan sejak kisaran tahun 2022 lalu.
Untuk diketahui, pemerintah akan memperluas program vaksin HPV mulai tahun 2027 dengan menyasar anak laki-laki usia 11 tahun. Pemerintah juga mendorong deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara.
Saat ini, terdapat sekitar 10 ribu puskesmas di seluruh Indonesia yang mampu melayani skrining kanker. Kemenkes menargetkan dalam lima tahun ke depan sebanyak 40 juta perempuan Indonesia dapat menjalani deteksi dini. Sasaran utama adalah perempuan berusia di atas 30 tahun.
“Target kita 40 juta dalam lima tahun. Seluruh perempuan Indonesia di atas 30 tahun, minimal harus mendapatkan skrining kanker serviks dan payudara. Jika kita bisa menemukan mereka, maka bisa ditangani sedini mungkin karena kanker itu bisa disembuhkan, tetapi harus deteksi dini,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, tempo hari.
Ia menambahkan bahwa setelah menjangkau perempuan usia 11 tahun, pemerintah juga mulai menyasar perempuan usia 15 tahun yang sebelumnya belum mendapatkan imunisasi HPV.
“Mungkin pada usia 11 dia enggak dapat imunisasi, jadi kita mau mulai tahun ini pada perempuan usia 15 tahun. Kita lagi berpikir apakah mau melakukan program lanjutannya pada perempuan usia 21 tahun,” tuturnya.
Menurut Budi, kanker serviks saat ini menjadi pembunuh nomor dua terbanyak bagi perempuan di Indonesia setelah kanker payudara.







