Presiden Iran Menegaskan Tidak Akan Menyetujui Syarat AS untuk Mengakhiri Perang
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menunjukkan komitmen kuatnya dalam menjaga martabat negara dan menghindari pengorbanan yang tidak seimbang. Ia menyatakan bahwa pihaknya ingin mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel, tetapi tidak akan menyetujui syarat-syarat yang diberikan oleh AS, termasuk menghentikan program senjata nuklir.
“Donald Trump mengatakan Iran seharusnya tidak menggunakan hak nuklirnya. Namun, ia tidak menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan Iran,” ujar Pezeshkian saat berkunjung ke Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran, seperti dilansir dari sumber berita independen.
Penghentian Program Senjata Nuklir Jadi Syarat Utama untuk Mengakhiri Perang
Penghentian program senjata nuklir menjadi salah satu syarat utama yang diberikan AS kepada Iran agar perang bisa berakhir. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut. Penolakan ini membuat negosiasi perdamaian tahap pertama yang dilakukan AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada pekan lalu gagal total.
“Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir, dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir. Itulah tujuan utama presiden Amerika Serikat, dan itulah yang telah kami coba capai melalui negosiasi ini,” kata Wakil Presiden AS, JD Vance, usai melakukan pertemuan dengan perwakilan Iran.
Trump Mengklaim Iran Setuju Menyetop Program Senjata Nuklirnya
Namun, Presiden AS, Donald Trump, pada Kamis (16/4/2026) lalu menyebut Iran kini sudah setuju untuk menghentikan program senjata nuklirnya. Ini dilakukan agar perang dengan AS dan Israel bisa berakhir permanen. Selain itu, Trump juga mengklaim bahwa Iran kini sudah setuju untuk menyerahkan pasokan uraniumnya kepada AS.
Semua klaim yang dilontarkan Trump tadi dibantah keras oleh Iran. Iran menegaskan tidak akan setuju menghentikan program nuklir dan memberi cadangan uraniumnya ke AS.
“Presiden Amerika Serikat membuat tujuh klaim dalam satu jam. Ketujuh klaim tersebut salah. Mereka tidak memenangkan perang dengan kebohongan ini. Mereka pasti tidak akan mendapatkan apa pun dalam negosiasi,” tulis Juru Bicara Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, dalam sebuah unggahan di X.

Ghalibaf Meminta Semua Pihak Jangan Terpapar Klaim Palsu Trump
Bantahan yang dilontarkan Ghalibaf tadi lantas dipertegas oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Mereka mengatakan Iran tidak akan pernah menyerahkan cadangan uraniumnya ke negara mana pun, termasuk ke Negeri Paman Sam.
“Uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun; memindahkan uranium ke Amerika Serikat bukanlah pilihan bagi kami,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dilansir dari sumber berita independen.
Oleh karena itu, Ghalibaf meminta semua pihak agar jangan termakan klaim palsu yang kerap dilontarkan Trump. Sebab, menurutnya, semua klaim Trump yang menyangkut Iran adalah hoaks dan berpotensi menyesatkan publik.

Isu-isu Terkait Lainnya
Beberapa isu lain juga muncul terkait situasi di kawasan. Salah satunya adalah klaim tentang kapal perang AS yang masuk ke perairan Indonesia di Selat Malaka. Beberapa pihak menyatakan bahwa isu ini perlu diverifikasi lebih lanjut.
Selain itu, AS disebut akan memburu dan menyita kapal Iran di perairan internasional. Hal ini menunjukkan bahwa tensi antara AS dan Iran semakin meningkat.
Mega Wati, mantan presiden Indonesia, menyatakan bahwa krisis Iran-Venezuela merupakan bukti bahwa dunia sedang diguncang oleh berbagai konflik yang saling terkait. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas global semakin rentan terhadap ancaman dari berbagai pihak.







