Program Makan Bergizi Gratis di Kaltim Masih Membutuhkan Penyesuaian
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan sebagai salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia. Namun, dalam implementasinya di Kalimantan Timur, program ini masih belum berjalan secara optimal dan belum menjangkau seluruh siswa yang membutuhkan.
Program MBG mendapat dukungan dari berbagai pihak karena dinilai mampu memperkuat tumbuh kembang anak melalui pemenuhan gizi yang lebih baik. Meski demikian, dalam pelaksanaannya di daerah, masih ditemukan tantangan dalam hal pendataan, pemerataan, dan penentuan skala prioritas penerima manfaat.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur, Armin, menyebut MBG sebagai program yang sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Namun, menurutnya, pelaksanaannya perlu didahului dengan pemetaan skala prioritas.
“Program ini sangat bagus banget memperkuat tumbuh kembang anak kita. Cuman saya lihat perlu dipetakan, mana yang menjadi skala prioritas,” jelasnya, Senin (26/1/2026).
Armin menekankan pentingnya mengidentifikasi penerima manfaat yang paling membutuhkan. Ia menilai, anak-anak dari keluarga tidak mampu seharusnya menjadi prioritas utama dalam program MBG ini.
Berdasarkan pengamatannya di lapangan, masih terdapat sejumlah sekolah yang belum mendapatkan program MBG, salah satunya SMK Pelayaran. Padahal, lanjut dia, siswa di sekolah tersebut sangat membutuhkan bantuan ini karena rata-rata berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dengan jumlah siswa sekitar 300 orang.
“Nah, mestinya, kita harus duduk bareng memetakan ini supaya yang diprioritaskan yang mana sih. Jangan sampai anak-anak yang tidak membutuhkan MBG diprioritaskan,” kata Armin.
Dia bilang, evaluasi perlu dilakukan untuk memastikan program ini tepat sasaran. Yang perlu dilihat adalah siapa saja yang benar-benar memerlukan MBG di lapangan.
Armin menjelaskan, pihaknya berencana mengirim surat resmi untuk mendata sekolah-sekolah mana saja yang sudah dan belum mendapat program MBG. Selama ini, kata dia, pihaknya tidak mendapatkan laporan terkait distribusi program tersebut.
Secara organisasi, Disdikbud tidak masuk dalam struktur pengelolaan MBG. Mereka hanya diikutsertakan dalam rapat sebatas mendengarkan. Dia mengusulkan, agar ada perwakilan dari Disdikbud yang masuk dalam tim dan ditetapkan melalui SK agar bisa membantu Badan Gizi Nasional (BGN) secara optimal.
“Sekarang kita mau lihat, mana sih anak-anak yang butuh gizi atau skala prioritas. Karena di Kota Samarinda saja masih ada yang belum dapat,” ungkap Armin.
Dia menegaskan bahwa program MBG sangat bagus, namun perlu melihat terlebih dahulu mana yang harus diprioritaskan. Armin memberikan contoh, untuk wilayah Samarinda, daerah seperti Kecamatan Palaran bisa menjadi skala prioritas yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
“Kalau memang tujuannya untuk semua sekolah ya sangat bagus betul, tapi karena belum semua, sebaiknya dipetakan dulu yang mana skala prioritas,” pungkas Armin.
Tantangan dalam Implementasi Program MBG
Beberapa tantangan yang dihadapi dalam implementasi program MBG antara lain:
- Pendataan yang tidak akurat – Banyak sekolah dan siswa yang belum terdata dengan baik, sehingga sulit menentukan siapa yang benar-benar membutuhkan bantuan.
- Pemerataan distribusi – Masih ada daerah atau sekolah tertentu yang belum mendapatkan akses ke program ini.
- Penentuan prioritas – Perlu adanya mekanisme yang jelas untuk menentukan siapa yang lebih membutuhkan bantuan gizi.
Langkah yang Diambil oleh Disdikbud Kaltim
Disdikbud Kaltim telah merencanakan beberapa langkah untuk memperbaiki situasi saat ini, yaitu:
- Mengirim surat resmi untuk mendata sekolah-sekolah yang sudah dan belum mendapat program MBG.
- Mengusulkan perwakilan dari Disdikbud dalam tim pengelola MBG agar bisa berkontribusi secara aktif.
- Melakukan evaluasi untuk memastikan program ini tepat sasaran dan menjangkau semua siswa yang membutuhkan.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan program MBG dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat yang maksimal bagi anak-anak di Kalimantan Timur.






