Pembaruan terbaru mengenai usulan perdamaian dari Iran kembali memicu harapan akan adanya perjalanan diplomasi yang berpotensi menyelesaikan ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat (AS). Usulan ini muncul setelah beberapa bulan kebuntuan dalam negosiasi yang dimulai sejak gencatan senjata pada 8 April. Dalam proposal yang disampaikan, Iran mengusulkan 14 poin utama sebagai langkah menuju penyelesaian konflik secara menyeluruh dalam waktu 30 hari. Isu-isu seperti jaminan keamanan, pencabutan sanksi, pengaturan jalur laut di Selat Hormuz, serta program nuklir menjadi fokus utama.
Dalam dinamika yang masih sangat tidak stabil, situasi di kawasan Teluk Arab tetap dipengaruhi oleh aktivitas militer dan kontrol terhadap jalur laut penting seperti Selat Hormuz. Meski usulan Iran dikirim melalui perantara Pakistan sebagai respons atas rancangan perdamaian 9 poin dari Washington, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia masih meninjau usulan tersebut. Namun, ia tetap meragukan kemungkinan kesepakatan akhir dapat tercapai.
Trump menekankan bahwa setiap kesepakatan damai harus menjawab dua isu utama, yaitu pembatasan program nuklir Iran dan penghentian blokade terkait Selat Hormuz. Kedua isu ini disebut sebagai “garis merah” yang tidak bisa dinegosiasikan dengan fleksibilitas tinggi oleh AS.
Proposal 14 poin dari Iran mencakup serangkaian tuntutan utama. Di antaranya adalah penghentian total konflik dalam 30 hari, bukan sekadar perpanjangan gencatan senjata. Iran juga meminta jaminan keamanan dari serangan lanjutan, penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar Iran, serta pencabutan seluruh sanksi ekonomi. Selain itu, Teheran menuntut pengembalian aset negara yang dibekukan bernilai miliaran dolar AS, kompensasi atas kerugian perang, serta pengaturan mekanisme baru untuk navigasi di Selat Hormuz.
Meskipun Iran tetap menegaskan haknya sebagai penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk melakukan pengayaan uranium, posisi ini bertentangan dengan sikap Washington yang menolak keras segala bentuk pengembangan kapasitas nuklir Iran. Ketegangan juga diperparah oleh tuntutan Iran agar ada jaminan tertulis terhadap tidak adanya serangan dari AS atau Israel di masa depan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa tanggung jawab kini berada di tangan Washington. Ia menegaskan, “Sekarang giliran Amerika Serikat memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif.”
Di sisi lain, Trump tetap membuka kemungkinan tindakan militer jika Iran dianggap melanggar kesepakatan atau memperburuk situasi. Ia juga menuduh bahwa Iran sedang dalam tekanan berat akibat dampak konflik berkepanjangan dan pembatasan ekonomi yang diberlakukan.
Beberapa pengamat menilai bahwa perbedaan antara kedua pihak tidak sepenuhnya tidak dapat dijembatani. Paul Musgrave dari Georgetown University menilai adanya sedikit pelunakan posisi Iran, terutama terkait isu blokade Selat Hormuz. Sementara itu, Kenneth Katzman dari Soufan Center menyebut hambatan utama bukan semata pada aspek teknis nuklir, melainkan pada krisis kepercayaan yang mendalam antara kedua pihak.
Dari sudut pandang ekonomi, Trita Parsi dari Quincy Institute menyoroti dampak signifikan blokade Selat Hormuz terhadap pasar energi global. Harga minyak Brent dilaporkan melonjak hingga sekitar 111,29 dolar AS per barel, naik tajam dibandingkan sebelum konflik yang berada di kisaran 65 dolar AS.
Ketegangan di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pasukan Iran dilaporkan tetap dalam status siaga penuh, sementara insiden saling intersepsi kapal di kawasan Teluk masih terus terjadi. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi terbuka, realitas di lapangan masih berada dalam situasi penuh konflik.
Dengan posisi kedua negara yang masih bertolak belakang—antara tuntutan jaminan keamanan Iran dan garis keras AS terkait nuklir serta Selat Hormuz—prospek tercapainya kesepakatan damai masih sangat rentan. Tanpa kompromi substantif dari kedua pihak, proses negosiasi ini berpotensi kembali mengalami kebuntuan dan memperpanjang ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut.







