Transformasi Sosis Solo Menjadi Oleh-Oleh Modern
Sosis Solo yang dulu hanya dinikmati hangat di sudut angkringan, kini telah bertransformasi menjadi oleh-oleh modern khas Surakarta. Inovasi ini dilakukan oleh Ridho Taqabalallah, pemilik dari Sosis Gajahan, yang berhasil membuat sosis Solo bisa dinikmati oleh semua orang, baik warga lokal maupun wisatawan.
Sejak tahun 1991, Sosis Solo berawal dari dapur sederhana dan hanya dinikmati sebagai jajanan tradisional. Kini, melalui perjuangan generasi penerus, resep ibu tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diangkat lebih terkenal sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang.
Ridho Taqabalallah mengelola usaha Sosis Gajahan dengan enam pegawainya di sebuah ruko kecil yang terletak di Jl. Brigjen Sudiarto No.74 Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Dari tempat ini, 10 jenis produk makanan khas Solo diolah sekaligus dipasarkan. Produk andalan mereka adalah sosis solo, baik yang siap santap maupun beku.
Sosis Solo merupakan jajanan tradisional khas Kota Solo, Jawa Tengah, yang terbuat dari daging cincang ayam atau sapi yang bumbu gurih manis dan dibungkus dengan dadar telur tipis.
Kisah Unik di Balik Sosis Gajahan
Ada kisah unik di balik lahirnya Sosis Gajahan yang juga digemari Wakil Presiden Indonesia saat ini, Gibran Rakabuming Raka. Sosis Solo Gajahan lahir dari resep ibunda Ridho Taqabalallah yang sudah berjualan sosis sejak tahun 1991. Awalnya, makanan ringan ini hanya dijual secara tradisional.
Ridho mencari cara agar camilan khas Solo ini bisa dinikmati oleh banyak orang, terutama orang luar Solo yang mulai mengenal rasa unik dari Sosis Solo. Inovasi yang dia lakukan adalah dengan membuat kemasan yang layak untuk membungkus sosis Solo agar aman dibawa ke luar kota sebagai oleh-oleh.
“Menggagas packaging sosis Solo, dari sosis Solo yang biasanya hanya bisa dimakan di tempat, menjadi sebuah oleh-oleh khas kota Solo dengan packaging yang lebih baik dari sebelumnya,” ujar Ridho pada Infomalangraya.com pada Jumat, 10/4/2026.
Perkembangan Sosis Solo
Menarik benang merah dari sosis Solo sebagai makanan khas kota Solo, memang pada mulanya hanya bisa dinikmati warga lokal saat makan solo, timlo atau jajan di angkringan. Sosis yang dari asal muasalnya berisi daging babi cincang, kini diganti dengan daging ayam atau sapi bahkan jamur untuk yang vegetarian.
Dengan citarasa yang gurih manis semakin padu saat dimakan dengan cabe hijau, sosis Solo menduduki tempat khusus bagi masyarakat Solo. Kini bahkan warga luar kota yang datang ke Solo bisa menjadikan sosis Solo ini menjadi oleh-oleh.
Untuk yang ingin menikmati sosis Solo versi goreng, Sosis Gajahan juga menyediakan jenis yang goreng. “Banyak pelanggan yang meminta sosis goreng,” ujar Ridho.
Maka tak heran jika Sosis Gajahan mampu memproduksi 2000 biji sosis seharinya. Bahkan jumlah itu naik dua hingga tiga kali lipat saat lonjakan wisatawan di Surakarta. 






