Sejarah Awal Berdirinya Masjid Quba
Masjid Quba memiliki peran penting dalam sejarah keislaman, terutama bagi umat muslim yang melakukan ibadah umrah. Salah satu kunjungan yang wajib dilakukan adalah salat di masjid ini, yang merupakan tempat yang ditinggali Nabi Muhammad (SAW) dan Abu Bakar (RA) ketika pertama kali tiba di Madinah setelah hijrah dari Mekah. Nabi Muhammad (SAW) kemudian membangun Masjid Quba di lokasi tersebut.
Sejarah berdirinya Masjid Quba dapat ditelusuri kembali ke abad ke-7, ketika Nabi Muhammad (SAW) memutuskan untuk hijrah ke Madinah karena meningkatnya penganiayaan oleh kaum Quraisy. Setelah sampai di Madinah, Nabi Muhammad (SAW) tinggal di rumah Kulsoom bin Hatam (RA), tempat ia meletakkan fondasi awal Masjid Quba. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa unta betina Nabi Muhammad (SAW) berlutut untuk minum air dari sumur di daerah ini. Bahkan sebelum hijrah, Nabi Muhammad (SAW) telah melaksanakan salat Jumat di rumah Saad ibn Khaitamah (RA), yang terletak di dekat lokasi Masjid Quba.
Menurut Al-Tabarani, Al-Shimous bint Al-Nauram menyaksikan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya membawa pasir, batu, dan kerikil ke lokasi pembangunan. Ia mengatakan, “Aku melihat Nabi SAW ketika beliau membangun masjid ini.”
Renovasi Masjid Quba di Berbagai Masa
Masjid Quba dibangun pada tahun 622. Menurut buku Mu’jam al-Buldan karya Yaqut al-Hamawi, nama masjid ini berasal dari Sumur Quba yang dibangun di lokasi tersebut. Pada masa lalu, masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Bani Auf.
Fondasi awal Masjid Quba dibangun oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, dan kaum muslimin Mekah serta Madinah. Masjid ini mengalami beberapa kali renovasi sebelum era Saudi. Renovasi pertama dilakukan pada masa Khalifah Rasyidin, yaitu ketika sahabat Utsman bin Affan merenovasinya. Perbaikan lebih lanjut terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Abdulaziz, yang menambahkan struktur tambahan dan menara pertama antara tahun 705-712. Renovasi selanjutnya dilakukan oleh Abu Yaela al-Husayni pada tahun 1044, diikuti oleh Jamal al-Din al-Isfahani pada tahun 1161.

Masjid ini secara berkala dipugar oleh berbagai dermawan pada tahun-tahun yang berbeda, termasuk tahun 1273, 1333, 1437, dan 1477, dan renovasi besar lainnya terjadi pada tahun 1830. Kini, pengelolaannya berada di bawah Otoritas Pengembangan Wilayah al-Madinah dan terletak di sebelah barat daya kota al-Madinah al-Munawwarah, di Jalan Hijra. Jaraknya sekitar 3,5 km dari Masjid Nabawi.
Desain Masjid Quba
Untuk mempertahankan jejak sejarah, pihak Saudi melakukan pelestarian desain lama Masjid Quba. Masjid ini dibangun dengan empat halaman berbentuk persegi, masing-masing sisinya berukuran 40 meter. Sebuah halaman dalam ditambahkan, bersama dengan bagian terpisah untuk lelaki dan perempuan. Masjid juga dibangun dengan dua lantai. Masjid ini memiliki banyak pintu, termasuk tujuh pintu masuk utama dan 12 pintu masuk sekunder, memungkinkan pengunjung untuk masuk dari berbagai titik.
Keempat halaman itu dibentuk oleh halaman selatan dan halaman utara yang dipisahkan oleh ruang terbuka. Kedua halaman tersebut dihubungkan oleh dua koridor panjang, satu ke timur dan satu ke barat. Atapnya memiliki kubah yang saling terhubung, termasuk enam kubah besar, masing-masing dengan diameter 12 meter, dan 56 kubah yang lebih kecil, masing-masing berdiameter enam meter. Kubah-kubah ini ditopang oleh lengkungan yang bertumpu pada kolom-kolom besar di dalam setiap halaman. Pekarangan masjid dilapisi dengan marmer pemantul panas. Pekarangan tersebut dinaungi oleh kanopi yang dapat ditarik yang terbuat dari kain yang diperkuat serat kaca yang dapat dilipat dan dibuka sesuai kebutuhan. Masjid ini diresmikan dengan perluasan tersebut pada tahun 1987.

Masjid Quba merupakan masjid terbesar kedua setelah Masjid Nabawi. Ruang salatnya saja mencakup area seluas 5.035 m². Masjid ini juga dilengkapi dengan akomodasi untuk imam dan muazin, perpustakaan, dan area perbelanjaan untuk melayani pengunjung.
Nabi Muhammad (SAW), ketika ditanya tentang pentingnya Masjid Quba, bersabda,
“Barang siapa yang bersuci di rumahnya lalu datang ke Masjid Quba dan mengerjakan dua rakaat di sana, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala umrah (haji kecil).”
- Sunan Ibnu Majah
Ekspansi Masjid Quba

Proyek Raja Salman untuk perluasan Masjid Quba dianggap sebagai perluasan terbesar dalam sejarah masjid sejak pembangunannya pada tahun 622. Proyek ini diumumkan oleh Putra Mahkota, Perdana Menteri, dan Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan, Yang Mulia Pangeran Mohammed Bin Salman Bin Abdulaziz, pada tanggal 8 April 2022.
Pengembangan area sekitarnya bertujuan untuk meningkatkan total luas masjid hingga mencapai 50 ribu m², yang setara dengan sepuluh kali ukuran sebelum perluasan. Perluasan ini juga akan meningkatkan kapasitasnya untuk menampung sekitar 66 ribu jamaah. Proyek tersebut berpusat pada penyediaan area berteduh dan ruang salat terpisah di halaman sekitar masjid. Bahkan, mencakup penyediaan layanan yang diperlukan untuk masjid, peningkatan infrastruktur di sekitarnya untuk menampung jumlah pengunjung yang lebih besar dengan mudah selama musim dan waktu puncak, menawarkan solusi untuk manajemen kerumunan, dan meningkatkan keselamatan jamaah.
Selain itu, proyek ini mencakup pengembangan beberapa situs bersejarah di sekitar masjid, termasuk 57 lokasi seperti lahan pertanian, kebun, dan sumur. Proyek ini bertujuan untuk mencapai tujuan Visi Saudi 2030 melalui program Kualitas Hidup dan Pengalaman Haji.

Itulah sejarah singkat Masjid Quba yang wajib kamu kunjungi untuk merasakan napak tilas Nabi Muhammad (SAW). Masjid bersejarah apa lagi yang ingin kamu ketahui, Bela?







