Seminar Nasional dan Festival Lamaholot 2026: Ruang Diskusi untuk Membangun Kekuatan Ekonomi Berbasis Budaya
Festival Lamaholot 2026 yang digelar di GOR Flobamora Oepoi, Kota Kupang, menjadi momen penting dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Lamaholot sekaligus menguatkan perekonomian daerah. Dalam rangkaian acara ini, seminar nasional dengan tema “Kebudayaan Lamaholot Basis Membangun Kekuatan Ekonomi Kawasan” menjadi salah satu agenda utama.
Seminar ini dihadiri oleh berbagai tokoh, akademisi, dan pengusaha yang tertarik menggali potensi nilai-nilai budaya Lamaholot sebagai dasar pembangunan ekonomi. Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menegaskan bahwa festival bukan sekadar seremonial, tetapi momentum strategis untuk membangun identitas sekaligus mendorong ekonomi berbasis budaya.
Pentingnya Identitas Budaya Lamaholot
Johni menjelaskan bahwa identitas Lamaholot tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga mencerminkan cara hidup, pandangan dunia, serta relasi sosial yang khas. Ia menekankan bahwa ketika seseorang menyebut dirinya sebagai orang Lamaholot, ia sedang menyebut lebih dari sekadar identitas—ia menyebut gaya hidup dan cara memandang dunia.
Ia juga menyoroti ikatan lewo tana yang kuat dalam masyarakat Lamaholot, yaitu keterikatan dengan asal-usul dan tanah kelahiran. Ikatan tersebut menjadi sumber solidaritas dan tanggung jawab bersama yang perlu terus dijaga. Selain itu, masyarakat Lamaholot juga dikenal menjunjung tinggi adat istiadat yang menjadi jalan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan.
Namun demikian, Johni mengingatkan bahwa adat harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap relevan. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai adat harus tetap hidup, tetapi cara kita menghidupkannya perlu menyesuaikan dengan konteks zaman. Adat harus menjadi kekuatan yang memerdekakan, bukan membebani.
Spiritualitas dan Kerja Keras sebagai Modal Utama
Selain itu, Johni menyoroti kedalaman spiritualitas masyarakat Lamaholot yang menjadi kekuatan dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Ia menilai bahwa identitas yang kuat melahirkan sikap terbuka dan toleran. Di sisi lain, karakter pekerja keras masyarakat Lamaholot dinilai menjadi modal penting dalam meraih keberhasilan di berbagai bidang.
“Keberhasilan putra-putri Lamaholot hari ini adalah buah dari kerja keras dan ketekunan. Nilai ini harus terus diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Peran Diaspora dalam Pembangunan Daerah
Johni juga mengajak masyarakat Lamaholot, khususnya diaspora yang berada di Kota Kupang, untuk tidak hanya bangga terhadap identitas, tetapi juga mengambil peran aktif dalam membangun daerah asal. Ia menekankan pentingnya peran diaspora Lamaholot sebagai penghubung antara kampung dan kota, serta antara tradisi dan modernitas.
“Kita harus menjadi jembatan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat kita,” katanya.
Langkah Konkret Menuju Ekonomi Berbasis Budaya
Johni menilai pelaksanaan Seminar Nasional dan Expo Lamaholot merupakan langkah konkret dalam menghubungkan potensi budaya dengan penguatan ekonomi. Dengan demikian, identitas budaya dapat berkembang menjadi kekuatan produktif bagi masyarakat.
Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi mengenai penguatan ekonomi berbasis budaya serta pengembangan UMKM masyarakat Lamaholot yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah.
Agenda Lanjutan Festival Lamaholot 2026
Rangkaian Festival Lamaholot 2026 akan berlanjut pada Sabtu (11/4) dengan agenda Gebyar Lamaholot serta pelantikan pengurus Keluarga Besar Lamaholot Kupang periode 2026–2031. Selain seminar dan pelantikan, festival juga dimeriahkan dengan bazar UMKM serta berbagai pertunjukan seni dan budaya dalam Gebyar Lamaholot.







