Komentar Iran Terkait Perundingan Damai dengan AS
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan pembicaraan tatap muka antara delegasi Amerika Serikat (AS) dan pihak Iran di Islamabad. Meskipun, beberapa laporan menyebutkan bahwa delegasi AS telah tiba di Pakistan pada hari Sabtu (25/4) untuk memulai babak baru perundingan damai.
Menurut pernyataan dari Kementerian Pertahanan Iran, AS sedang mencari cara “untuk menyelamatkan muka” agar dapat keluar dari konflik yang dimulai pada akhir Februari lalu. Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran mengatakan bahwa kekuatan militer Iran saat ini adalah kekuatan dominan, sementara musuh sedang mencari jalan untuk keluar dari situasi perang yang telah menjebak mereka.
Serangan besar-besaran oleh AS bersama Israel terhadap Iran dilakukan pada 28 Februari lalu. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang memiliki aset militer AS. Serangan-serangan tersebut berhenti sementara setelah gencatan senjata disepakati selama dua minggu, yang dimediasi oleh Pakistan dan mulai berlaku pada 8 April lalu.
Putaran pertama perundingan damai antara AS dan Iran yang digelar di Islamabad pekan lalu tidak berhasil mencapai kesepakatan apapun. Putaran kedua seharusnya berlangsung pada Selasa (21/4), namun tidak terjadi karena Iran belum siap untuk hadir. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance batal terbang ke Pakistan.
Sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir, Presiden AS Donald Trump secara sepihak memperpanjang masa gencatan senjata untuk memberikan lebih banyak waktu bagi para negosiator. Namun, Trump juga bersikeras untuk memberlakukan blokade laut oleh militer AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sampai kesepakatan tercapai, yang ditentang oleh Iran.
Pekan ini, Gedung Putih menyatakan bahwa utusan khusus AS Steve Witkoff dan penasihat AS, Jared Kushner, yang juga menantu Trump, terbang ke Pakistan pada Sabtu (25/4) setempat untuk melakukan “pembicaraan tatap muka” dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan tiba di Islamabad pada Jumat (24/4) malam, yang sempat memicu spekulasi tentang perundingan lanjutan. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kunjungan itu dimaksudkan untuk bertemu langsung dengan para pejabat senior Pakistan, bukan dengan delegasi AS.
Dia menyebut pertemuan itu akan membahas proposal untuk memulai kembali perundingan damai dengan AS, setelah perundingan sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan apa pun. “Tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan AS. Pengamatan Iran akan disampaikan kepada Pakistan,” tegas Baghaei dalam pernyataannya.
Laporan televisi Iran menyampaikan bahwa Aragchi tidak ada rencana bertemu delegasi AS di Pakistan, dan bahwa Islamabad akan berfungsi sebagai jembatan untuk “menyampaikan” proposal Teheran.
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebut kedatangan Araghchi dimaksudkan untuk membahas “upaya-upaya yang sedang berlangsung untuk perdamaian dan stabilitas regional” dengan para pejabat Pakistan.
Peran Pakistan dalam Perdamaian Regional
Pakistan telah menjadi mediator penting dalam upaya menciptakan perdamaian antara Iran dan AS. Dalam beberapa bulan terakhir, negara ini telah menjadi tempat perundingan damai yang berlangsung antara kedua belah pihak. Gencatan senjata yang disepakati selama dua minggu merupakan salah satu hasil dari upaya mediasi Pakistan.
Beberapa pengamat percaya bahwa Pakistan berada dalam posisi strategis untuk membantu menenangkan ketegangan antara Iran dan AS. Negara ini memiliki hubungan diplomatik yang kuat dengan keduanya, meskipun tidak sepenuhnya netral dalam konflik yang sedang berlangsung.
Dalam konteks ini, kehadiran Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Islamabad dianggap sebagai langkah penting untuk menunjukkan komitmen Iran terhadap proses perdamaian. Meskipun tidak ada pertemuan langsung dengan delegasi AS, kunjungan ini tetap dianggap sebagai indikasi bahwa Iran masih terbuka terhadap dialog.
Namun, tekanan dari AS terhadap Iran, termasuk ancaman blokade laut, masih menjadi hambatan utama dalam proses perdamaian. Iran menolak tegas langkah-langkah yang dianggap sebagai intervensi eksternal terhadap kedaulatannya.







