Penyidikan TPPU Terkait Emas Ilegal di Jawa Timur
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri melakukan penggeledahan di tiga lokasi di kawasan Jawa Timur terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang bersumber dari praktik pertambangan emas ilegal di Kalimantan Barat. Penggeledahan ini dilakukan di Surabaya dan Nganjuk, dengan penyitaan belasan kilogram emas batangan.
Lokasi Penggeledahan dan Penyitaan
Di Surabaya, penggeledahan dilakukan di sebuah rumah mewah dua lantai di Jalan Tampomas, Kecamatan Sawahan. Di Kabupaten Nganjuk, dua lokasi yang digeledah adalah toko emas dan satu unit rumah tinggal. Selain itu, penyidik juga melakukan penggeledahan di sebuah perusahaan peleburan emas di kawasan Benowo, Surabaya.
Dari penggeledahan di Surabaya, penyidik menyita empat kotak barang bukti yang berisi dokumen, pembukuan, kuitansi pembelian, uang tunai, bukti transaksi elektronik, serta emas batangan. Jumlah emas batangan yang diamankan mencapai belasan kilogram. Namun, rincian pasti terkait berat dan nilai emas tersebut masih dalam proses pendataan.
Transaksi Mencurigakan dan Penyidikan
Kasus ini bermula dari laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait dugaan aliran dana dari aktivitas pertambangan emas ilegal di Kalbar ke sejumlah pihak, termasuk pengelola dan pedagang emas di Surabaya. Praktik pertambangan ilegal tersebut sebelumnya telah ditangani Polda Kalimantan Barat dan telah berkekuatan hukum tetap (inkrah) melalui putusan Pengadilan Negeri Pontianak pada tahun 2022, dengan melibatkan 38 terdakwa.
Berdasarkan hasil penyidikan sementara, akumulasi transaksi jual beli emas yang diduga berasal dari tambang ilegal dalam kurun waktu 2019–2025 mencapai sekitar Rp25,8 triliun. Nilai tersebut mencakup transaksi pembelian emas dari tambang ilegal hingga penjualan kepada perusahaan pemurnian dan eksportir.
Status Kasus dan Pemeriksaan Saksi
Hingga saat ini, penyidik telah memeriksa 37 orang saksi. Status tersangka belum ditetapkan karena proses penyidikan masih berlangsung. Direktur Dittipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ade Safri, menjelaskan bahwa penyidikan adalah serangkaian upaya mencari dan mengumpulkan alat bukti untuk membuat terang tindak pidana yang terjadi dan menemukan tersangkanya.
Bareskrim menegaskan, pihaknya tidak akan memberi ruang bagi praktik pertambangan emas ilegal yang merugikan lingkungan dan keuangan negara. Pendekatan TPPU dinilai penting untuk menelusuri aliran dana serta memberikan efek jera kepada para pelaku.
Penggeledahan Toko Emas Semar Nganjuk
Toko Emas Semar Nganjuk, yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk, juga digeledah oleh Bareskrim Polri. Dari toko emas tersebut, penyidik menyita seluruh emas yang ada. Sosok pemilik toko emas, TW, juga akhirnya terungkap.
Hartono, Ketua RW 2 wilayah Jalan Diponegoro, mengungkap tabiat sebenarnya TW. Menurut Hartono, TW dikenal sebagai sosok yang murah hati dan sering memberikan bantuan uang ketika kampung menggelar kegiatan. Namun, TW beserta istri dan keluarganya sudah berpindah ke Surabaya sejak tahun 2016 yang lalu.
Sejarah Usaha dan Perpindahan
Mulyadi, Koordinator Pasar Wage Nganjuk, menjelaskan bahwa T sudah merintis usaha emas tersebut sejak tahun 1976. T, kata Mulyadi, tinggal di Surabaya dan bukan warga Nganjuk. Saat anggota Bareskrim Polri tiba untuk menyita seluruh emasnya, T tidak berada di lokasi. Petugas Bareskrim Polri juga mengangkut semua emas yang ada di etalase Toko Semar Nganjuk.
Proses Penyidikan dan Profesionalisme
Polri memastikan, proses penyidikan akan berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel. “Kami jamin penyidikan atas perkara ini akan berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel,” tegas Ade Safri dalam tayangan di kanal YouTube TribunJatim Official.
Penyidik masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran emas ilegal tersebut.






