Musim Buah di Tarakan Mulai Berlangsung
Sejak sebulan terakhir, kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), mulai dipenuhi berbagai jenis buah musiman. Durian menjadi yang paling dominan, disusul oleh elai, langsat, duku, dan cempedak. Penjual buah musiman ini mulai bermunculan di berbagai titik keramaian, seperti Jalan Sei Sesayap, Kelurahan Kampung Empat, serta sepanjang Jalan Mulawarman dan Jalan Jenderal Sudirman.
Harga buah-buahan ini bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp100 ribu per buah. Untuk durian lokal, harga berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp100 ribu per buah. Sementara itu, durian montong dijual dengan harga Rp85 ribu per kilogram, dengan berat satu buah bisa mencapai 2–3 kg. Elai dijual mulai dari Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per buah, sedangkan cempedak dihargai sekitar Rp50 ribu untuk tiga biji.
Buah-buahan ini biasanya didatangkan dari daerah seperti Tanjung Selor, Sekatak, dan Malinau. Masa musimnya sendiri hanya sekitar 2–3 bulan, sehingga penjual harus cepat menjualnya di lokasi yang ramai agar tidak terbuang sia-sia.
Ilyas, salah satu penjual durian yang sudah berjualan selama sekitar 10 tahun, menjelaskan bahwa durian selalu muncul lebih dulu dibandingkan buah-buahan lainnya. Setelah durian, baru elai yang mulai muncul, diikuti oleh langsat dan duku. Saat ini, cempedak juga mulai muncul, meskipun belum begitu banyak.
Menurut Ilyas, harga buah-buahan ini tidak mengalami kenaikan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada masa-masa tertentu di mana harga mencapai titik tertinggi, terutama di awal musim. Jika buah mulai melimpah, harga akan turun. Misalnya, harga durian montong bisa turun hingga Rp55 ribu per kilogram agar dapat laku.
Ilyas menyebutkan bahwa stok buah musiman saat ini berasal dari Tanjung Selor, sementara dari Sekatak masih belum datang. Ia memperkirakan musim buah ini akan berlangsung selama dua bulan. Namun, ia juga mengatakan bahwa musim buah bisa berlangsung hingga tiga bulan, setelah itu tidak ada lagi buah yang tersedia.
Dari sisi pendapatan, Ilyas mengakui bahwa tidak semua musim buah memberikan keuntungan yang besar. Ada kalanya ia hanya mampu balik modal, bahkan terkadang rugi. Namun, ia tetap bersyukur karena bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selama berjualan, Ilyas sering berpindah-pindah tempat sesuai dengan titik keramaian. Pernah ia menjual buah di depan Indoor, namun seiring waktu ia pindah ke lokasi yang lebih ramai. Ia juga mengakui bahwa beberapa kali mendapat teguran dari petugas Satpol PP, terutama terkait pembuangan sampah.
Meski ada risiko, seperti buah yang busuk atau tidak laku, Ilyas tetap menjalani pekerjaannya dengan sabar. Menurutnya, risiko tersebut adalah bagian dari bisnis berjualan buah musiman, yang tidak bisa bertahan lama. Oleh karena itu, ia selalu berusaha menjualnya di tempat yang ramai agar bisa laku secepat mungkin.







