Pengertian Hajar Aswad dalam Ibadah Haji dan Umrah
Hajar Aswad adalah batu mulia yang terletak di sudut Ka’bah, tepatnya di sudut tenggara atau sebelah kanan pintu Ka’bah. Batu ini memiliki peran penting dalam ibadah haji dan umrah karena menjadi titik awal dan akhir tawaf mengelilingi Ka’bah. Banyak jamaah berusaha mencium atau menyentuh Hajar Aswad sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Menurut sejarah Islam, Hajar Aswad diyakini berasal dari surga dan diturunkan Allah SWT kepada Nabi Adam AS sebagai penanda tempat ibadah pertama di bumi. Seiring berjalannya waktu, batu tersebut kemudian tetap dijaga dan menjadi bagian penting dari Ka’bah. Saat Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, membangun kembali Ka’bah, Hajar Aswad ditempatkan di salah satu sudut bangunan Ka’bah.
Batu ini bukan untuk disembah, melainkan menjadi simbol ketaatan dan jejak tradisi para nabi dalam beribadah kepada Allah SWT. Selain itu, Hajar Aswad juga memiliki sejarah penting dalam Islam, termasuk peristiwa ketika para pemuka Quraisy berselisih tentang siapa yang paling berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula. Perselisihan itu hampir memicu pertengkaran besar antar-kabilah Quraisy.
Nabi Muhammad SAW yang saat itu dikenal bijaksana kemudian memberikan solusi damai. Beliau membentangkan kain, lalu meletakkan Hajar Aswad di tengah kain tersebut. Setelah itu, setiap pemimpin kabilah diminta memegang ujung kain dan bersama-sama mengangkatnya. Rasulullah SAW kemudian mengambil batu itu dan meletakkannya kembali di posisi semula. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bukti kebijaksanaan Rasulullah SAW bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi.
Hingga kini, Hajar Aswad tetap menjadi bagian penting dari Ka’bah dan selalu dipenuhi jamaah yang ingin mendekat, menyentuh, atau menciumnya saat melaksanakan tawaf.
Tata Cara Tawaf Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Tawaf sesuai sunnah dilakukan tujuh putaran mengelilingi Ka’bah, dimulai dari Hajar Aswad sambil membaca takbir dan memperbanyak doa serta zikir. Berikut adalah tata cara tawaf sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW:
Mempersiapkan Pakaian Ihram
Sebelum memulai tawaf, jamaah laki-laki disunnahkan melakukan idhthiba’, yaitu membuka pundak kanan. Caranya dengan meletakkan kain ihram bagian tengah di bawah ketiak kanan, lalu kedua ujung kain disampirkan ke pundak kiri sehingga pundak kanan terbuka. Cara ini dilakukan khusus saat tawaf umrah atau tawaf qudum sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Sementara bagi perempuan, pakaian ihram tetap menutup aurat seperti biasa.Memulai Tawaf dari Hajar Aswad
Tawaf dimulai dari sudut Hajar Aswad. Saat sampai di titik ini, jamaah dianjurkan menghadap ke Hajar Aswad terlebih dahulu. Jika memungkinkan dan situasi tidak terlalu padat, jamaah dapat mencium Hajar Aswad secara langsung. Jika tidak bisa, cukup menyentuhnya dengan tangan lalu mencium tangan tersebut. Bila tetap sulit mendekat, jamaah bisa memberi isyarat dengan tangan dari kejauhan tanpa memaksakan diri.Membaca Takbir di Hajar Aswad
Ketika berada di depan Hajar Aswad, jamaah disunnahkan membaca takbir:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
Artinya: “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.” Doa ini dibaca setiap kali melewati Hajar Aswad pada setiap putaran tawaf.Mulai Mengelilingi Ka’bah
Setelah membaca takbir, jamaah mulai berjalan mengelilingi Ka’bah dengan arah berlawanan jarum jam sehingga posisi Ka’bah selalu berada di sebelah kiri. Tawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran penuh.Berlari Kecil pada Tiga Putaran Pertama
Khusus jamaah laki-laki yang melakukan tawaf qudum atau tawaf umrah, disunnahkan berjalan cepat atau berlari kecil (raml) pada tiga putaran pertama. Setelah tiga putaran selesai, empat putaran berikutnya dilakukan dengan berjalan biasa. Sementara bagi perempuan, tawaf dilakukan dengan berjalan normal sejak awal hingga akhir.Membaca Doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad
Saat melewati area antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, jamaah dianjurkan membaca doa:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.”Tidak Ada Doa Khusus di Setiap Putaran
Dalam tawaf sebenarnya tidak ada ketentuan doa tertentu yang wajib dibaca di setiap putaran. Jamaah bebas membaca doa apa saja sesuai kebutuhan dan harapan masing-masing.Menyelesaikan Tujuh Putaran Tawaf
Tawaf selesai setelah jamaah menyempurnakan tujuh putaran penuh dan kembali berada di titik Hajar Aswad. Jamaah dianjurkan memastikan jumlah putaran tidak kurang maupun lebih agar tawaf sah sesuai ketentuan ibadah.Salat Sunnah Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim
Setelah tawaf selesai, jamaah disunnahkan menuju Maqam Ibrahim sambil membaca ayat:
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
Artinya: “Jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” Kemudian jamaah melaksanakan salat sunnah dua rakaat. Pada rakaat pertama dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun setelah Al-Fatihah, sedangkan rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas setelah Al-Fatihah.




