Kekhawatiran AS terhadap Sikap Iran
Utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump merasa heran dengan sikap keras kepala Iran yang tidak kunjung “menyerah”, meskipun Washington telah mengerahkan kekuatan militer secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara di Fox News bersama menantu Trump, Lara Trump, Witkoff menjelaskan bahwa Presiden terus memantau posisi Iran jika kesepakatan gagal dicapai.
Witkoff pun mengakui bahwa membawa Iran ke titik penyerahan diri bukanlah perkara mudah bagi AS. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks negosiasi krusial antara Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss. Perundingan ini dipandang sebagai upaya diplomatik terakhir untuk mencegah pecahnya aksi militer terbuka di kawasan tersebut.
“Beliau (Trump) penasaran mengapa mereka belum menyerah. Mengapa di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan angkatan laut yang ada di sana, mereka tidak datang dan berkata, ‘Kami tidak menginginkan senjata nuklir, inilah yang siap kami lakukan’,” ujar Witkoff dalam wawancara di Fox News, sebagaimana dikutip dari AFP.
Ultimatum 15 Hari dan Ancaman Militer
Isu ketegangan konflik AS-Iran 2026 ini semakin memuncak setelah Trump memberikan tenggat waktu paling lama 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Jika kesepakatan gagal diraih, Washington mengancam akan memberikan “konsekuensi berat” yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Witkoff juga mengonfirmasi telah bertemu dengan Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang kini diasingkan di AS, atas arahan langsung dari Presiden Trump. Meski tidak merinci detail pertemuan, hal ini memicu spekulasi bahwa AS tengah mempertimbangkan dukungan terhadap tokoh oposisi sebagai bagian dari kebijakan menekan rezim Teheran.
Tanggapan Iran: “Trump Tidak Akan Berhasil”
Merespons tekanan bertubi-tubi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa ancaman militer Trump tidak akan mampu menghancurkan negaranya. Senada dengan Khamenei, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pihaknya tengah menyiapkan draf proposal perjanjian yang diharapkan siap dalam beberapa hari ke depan.
Teheran saat ini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka membantah berupaya membangun senjata nuklir. Namun di sisi lain, Iran sangat membutuhkan pencabutan sanksi ekonomi AS yang telah melumpuhkan ekonomi nasional dan memicu gelombang protes anti-pemerintah sejak Desember lalu.
Situasi yang Menegangkan
Langkah Donald Trump vs Iran ini akan menjadi penentu stabilitas global dalam dua pekan ke depan, seiring berakhirnya masa ultimatum yang diberikan oleh Gedung Putih. Saat ini, dunia sedang mengawasi dengan cermat apakah Iran akan mengambil langkah yang diharapkan oleh AS atau justru memperkuat posisinya.
Dalam situasi seperti ini, penting bagi semua pihak untuk mencari solusi damai dan menghindari konflik yang bisa berdampak luas. Dengan kekuatan militer yang sudah dikerahkan, AS berharap Iran dapat menunjukkan tanda-tanda kompromi. Namun, Iran tampaknya tidak ingin menyerah begitu saja, yang membuat situasi semakin memanas.







